Jakarta, oegopost.id – Rupiah melemah pada perdagangan Kamis (14/5/2026) di pasar spot. Mata uang Indonesia ini turun 0,31 persen dan ditutup di level Rp17.529 per dolar Amerika Serikat (AS).
Tekanan muncul karena pasar merespons ketidakpastian ekonomi global dan domestik.
Data Ekonomi Domestik Picu Keraguan Pasar
Analis mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyebut faktor internal ikut menekan rupiah. Ia menyoroti perdebatan data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026.
Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen. Namun, angka ini memicu perbedaan pandangan di kalangan ekonom dan pelaku pasar.
Banyak pihak sebelumnya memperkirakan angka di bawah 5 persen.
Sejumlah akademisi juga melakukan riset ulang. Mereka memperkirakan pertumbuhan ekonomi hanya berada di kisaran 4,6–4,8 persen.
Perbedaan ini membuat pasar mempertanyakan akurasi data ekonomi nasional.
Pasar juga menilai kondisi sektor riil belum sejalan dengan data tersebut. Industri manufaktur masih menunjukkan pelemahan. Kondisi ini menurunkan kepercayaan investor terhadap konsistensi data ekonomi.
Penguatan Dolar AS dan Geopolitik Tambah Tekanan
Faktor eksternal juga memperburuk tekanan terhadap rupiah. Dolar AS menguat di pasar global. Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat.
Konflik di kawasan Selat Hormuz memicu kekhawatiran pasokan energi dunia. Harga minyak ikut naik akibat risiko gangguan distribusi.
Kondisi ini membuat investor beralih ke aset aman dan meninggalkan mata uang negara berkembang.
Saran Perbaikan Sistem Rilis Data Ekonomi
Ibrahim menilai Indonesia perlu memperbaiki sistem publikasi data ekonomi. Ia menyarankan model rilis bertahap seperti di Amerika Serikat.
Data awal bisa dirilis lebih cepat, lalu diperbarui secara berkala hingga menjadi angka final.
Bank Indonesia juga dinilai perlu memperkuat koordinasi data ekonomi agar pasar lebih percaya pada informasi yang dirilis.(ar)









