Jakarta, oegopost.id – Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menyatakan bahwa industri perbankan Indonesia masih berada dalam kondisi yang solid.
Ia menyampaikan penilaian tersebut dalam forum Macro & Market Brief Q2-2026 Indonesia Economic Outlook yang berlangsung secara virtual dari Jakarta pada Senin.
Andry menegaskan bahwa sektor perbankan nasional tidak menunjukkan gangguan berarti yang dapat mengancam stabilitas sistem keuangan.
Ia melihat bank-bank di Indonesia terus menjalankan operasional dengan prinsip kehati-hatian yang ketat dalam mengelola aset dan risiko.
Tekanan Global Dorong Kenaikan Risiko Kredit
Andry menjelaskan bahwa tekanan ekonomi global mendorong peningkatan non-performing loan (NPL), terutama di segmen menengah ke bawah.
Namun, ia menilai industri perbankan sudah memperkuat sistem manajemen risiko sehingga mampu merespons tekanan tersebut dengan lebih baik dibandingkan periode krisis sebelumnya.
Ia juga menekankan bahwa bank-bank terus memperbesar cadangan untuk menghadapi potensi risiko ke depan.
Di sisi lain, pemerintah ikut menjaga stabilitas ekonomi melalui kebijakan yang mempertahankan daya beli masyarakat, termasuk pengaturan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
Kredit Tumbuh Stabil dan Likuiditas Menguat
Andry mencatat bahwa perbankan tetap menyalurkan kredit secara stabil pada kisaran high single digit hingga low double digit.
Ia menilai kondisi ini menunjukkan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pengelolaan risiko kredit yang hati-hati.
Selain itu, ia melihat likuiditas perbankan menguat signifikan hingga 21,2 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sektor perbankan memiliki ruang yang cukup besar untuk mendukung aktivitas ekonomi.
Ia juga menegaskan bahwa kualitas aset tetap berada di sekitar 1 persen, yang mencerminkan kondisi fundamental yang sehat.
Arah Transformasi Menuju Digital Banking
Ke depan, Andry menilai bank tidak lagi hanya mengandalkan pendapatan bunga. Ia melihat tren yang jelas bahwa perbankan mulai meningkatkan kontribusi pendapatan berbasis komisi atau fee-based income.
Ia menjelaskan bahwa perkembangan infrastruktur digital mendorong bank untuk memperluas layanan transaksi digital.
Dengan strategi tersebut, perbankan dapat meningkatkan sumber pendapatan sekaligus memperkuat daya saing di era ekonomi digital.(ar)









