IHSG Melemah ke Level 6.858, Tekanan Rupiah dan Sentimen MSCI Bebani Pasar

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 12 Mei 2026 - 23:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

IHSG ditutup melemah ke level 6.858 pada perdagangan Selasa sore akibat tekanan rupiah, kenaikan yield obligasi, dan sentimen penurunan bobot saham Indonesia di indeks MSCI.( Poto : ANTARA / Putra M.Akbar/bar ).

IHSG ditutup melemah ke level 6.858 pada perdagangan Selasa sore akibat tekanan rupiah, kenaikan yield obligasi, dan sentimen penurunan bobot saham Indonesia di indeks MSCI.( Poto : ANTARA / Putra M.Akbar/bar ).

Jakarta, oegopost.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah pada perdagangan Selasa sore setelah pelaku pasar merespons tekanan nilai tukar rupiah dan meningkatnya kekhawatiran terhadap pasar global.

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat IHSG turun 46,72 poin atau 0,68 persen ke posisi 6.858,9.

Di tengah pelemahan IHSG, indeks LQ45 justru masih mampu mencatat kenaikan tipis sebesar 0,18 persen ke level 669,84.

Kondisi tersebut menunjukkan sebagian saham berkapitalisasi besar masih menarik minat investor.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menjelaskan pelemahan rupiah hingga menembus Rp17.500 per dolar AS menjadi sentimen negatif utama yang menekan pergerakan pasar saham domestik.

Selain itu, pelaku pasar juga mengantisipasi kemungkinan penurunan bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI atau Morgan Stanley Capital International.

Menurut Ratna, kombinasi pelemahan rupiah dan sentimen MSCI membuat investor memilih lebih berhati-hati dalam melakukan transaksi saham.

Tekanan tersebut akhirnya mendorong IHSG bergerak di zona merah hingga penutupan perdagangan.

Kenaikan Harga Minyak Dorong Yield Obligasi

Selain tekanan dari nilai tukar rupiah, pasar juga mencermati kenaikan imbal hasil atau yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun yang naik 10 basis poin menjadi 6,72 persen.

Baca Juga :  Avanza 2015–2016 Banyak Dicari, Ini Harganya...

Angka tersebut menjadi level tertinggi dalam dua pekan terakhir.

Kenaikan yield terjadi setelah harga minyak dunia meningkat dan memicu kekhawatiran terhadap pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Situasi tersebut ikut menekan rupiah hingga menyentuh rekor terendah baru di level Rp17.525 per dolar AS.

Ratna menilai tren kenaikan yield obligasi tidak hanya terjadi di Indonesia. Amerika Serikat juga mengalami kenaikan yield obligasi pemerintah menjelang rilis data inflasi terbaru.

Sementara itu, Inggris menghadapi lonjakan yield obligasi ke level tertinggi sejak 2008 akibat tekanan politik terhadap perdana menterinya.

Sektor Kesehatan Catat Pelemahan Terdalam

Dari sisi sektoral, sektor kesehatan mengalami penurunan paling dalam dengan koreksi sebesar 3,52 persen.

Sektor industri juga turun 3,20 persen, diikuti sektor infrastruktur sebesar 1,49 persen dan sektor barang konsumen primer sebesar 1,44 persen.

Baca Juga :  Rupiah Melemah ke Rp17.529 per Dolar AS, Sentimen Pasar Tertekan Faktor Domestik dan Global

Sebaliknya, sektor barang baku menjadi sektor dengan penguatan terbesar setelah naik 1,85 persen.

Sektor transportasi dan logistik ikut menguat 1,59 persen, sedangkan sektor keuangan bertambah 0,31 persen.

Sepanjang perdagangan, BEI mencatat sebanyak 217 saham menguat, 486 saham melemah, dan 256 saham bergerak stagnan.

Aktivitas perdagangan mencapai 31,08 miliar saham dengan frekuensi transaksi sebanyak 2,51 juta kali. Nilai transaksi pasar tercatat mencapai Rp16,27 triliun dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp12.146 triliun.

IHSG Berpeluang Mengalami Technical Rebound

Secara teknikal, Ratna memperkirakan IHSG masih berpotensi menguji area support di kisaran 6.700 hingga 6.750.

Namun, apabila indeks mampu bertahan di atas level tersebut, pasar memiliki peluang mengalami technical rebound menuju level 6.900.

Pelaku pasar kini terus memantau pergerakan rupiah, perkembangan harga minyak dunia, dan arah kebijakan global yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar saham Indonesia dalam beberapa hari ke depan.(ar)

Follow WhatsApp Channel oegopost.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Inflasi Tahunan Jambi 2026 Tembus 3,85 Persen, Harga Pangan Jadi Pemicu Utama
Harga Cabai Jambi Hari Ini Naik di Angso Duo, Bawang Tetap Stabil
Platform Streaming Musik Buka Peluang Musisi Indonesia Tembus Pasar Global
Dampak Pemangkasan Anggaran dan Tunda Salur TKD Tekan Ekonomi Jambi, Kontraktor Mengeluh
Potensi Energi Terbarukan Jambi Jadi Sorotan di Seminar Nasional Electrical Fair 2026 UNJA
Harga Kentang Kayu Aro Anjlok Saat Panen Raya, Petani Kerinci Keluhkan Penurunan Pendapatan
PEP Jambi dan SKK Migas Sumbagsel Perkuat Transparansi Lewat Media Field Trip Bersama Jurnalis Migas
Polri Awasi Harga TBS Sawit di Jambi, Selisih Harga Capai Rp831 per Kg dan Rugikan Petani Swadaya
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 3 Juli 2026 - 20:00 WIB

Inflasi Tahunan Jambi 2026 Tembus 3,85 Persen, Harga Pangan Jadi Pemicu Utama

Jumat, 3 Juli 2026 - 15:59 WIB

Harga Cabai Jambi Hari Ini Naik di Angso Duo, Bawang Tetap Stabil

Sabtu, 27 Juni 2026 - 17:44 WIB

Platform Streaming Musik Buka Peluang Musisi Indonesia Tembus Pasar Global

Sabtu, 27 Juni 2026 - 12:00 WIB

Dampak Pemangkasan Anggaran dan Tunda Salur TKD Tekan Ekonomi Jambi, Kontraktor Mengeluh

Jumat, 26 Juni 2026 - 06:00 WIB

Potensi Energi Terbarukan Jambi Jadi Sorotan di Seminar Nasional Electrical Fair 2026 UNJA

Berita Terbaru