Jakarta, oegopost.id – Pasar mangga dunia terus berkembang pesat dan mencatat nilai ekonomi besar. Cuan mangga dunia 2026 diperkirakan mencapai Rp1.200 triliun dari berbagai sektor, mulai dari buah segar hingga produk olahan. Negara-negara seperti India, Meksiko, Thailand, dan Brasil aktif mengembangkan sektor ini dan terus memperluas pangsa pasar mereka di tingkat global.
Permintaan mangga meningkat seiring perubahan pola konsumsi masyarakat dunia yang semakin menyukai buah tropis. Pelaku industri di berbagai negara mendorong produksi secara masif dan memperkuat rantai distribusi agar mampu memenuhi kebutuhan ekspor yang terus naik setiap tahun.
Indonesia Punya Potensi Besar Namun Belum Maksimal
Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar untuk masuk dalam rantai nilai global. Namun, tanpa penguatan industri dan distribusi, peluang cuan mangga dunia 2026 bisa terus dinikmati negara lain. Iklim tropis mendukung pertumbuhan berbagai varietas mangga berkualitas tinggi. Petani di berbagai daerah seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sulawesi terus menghasilkan produksi yang cukup besar setiap musim panen.
Namun, Indonesia belum mampu mengoptimalkan potensi tersebut. Pelaku usaha masih menghadapi berbagai kendala seperti rantai distribusi yang kurang efisien, keterbatasan fasilitas pascapanen, serta standar kualitas yang belum konsisten untuk pasar ekspor. Akibatnya, Indonesia belum mampu menembus pasar internasional secara agresif seperti negara pesaing.
Negara Pesaing Kuasai Rantai Nilai
Negara seperti India dan Meksiko tidak hanya memproduksi mangga dalam jumlah besar, tetapi juga menguasai industri olahannya. Mereka mengembangkan produk turunan yang memiliki nilai tambah tinggi sehingga mampu meningkatkan pendapatan ekspor secara signifikan. Selain itu, mereka juga memperkuat infrastruktur logistik dan sertifikasi kualitas untuk memenuhi standar internasional.
Thailand juga memanfaatkan strategi branding dan ekspor yang kuat sehingga mampu menjadikan mangga sebagai salah satu komoditas unggulan di pasar global.
Indonesia Perlu Perkuat Hilirisasi
Untuk mengejar ketertinggalan, Indonesia perlu memperkuat hilirisasi sektor pertanian, termasuk mangga. Pemerintah dan pelaku usaha dapat meningkatkan investasi pada teknologi pascapanen, memperluas akses pasar ekspor, serta memperbaiki standar kualitas produk. Dengan langkah tersebut, Indonesia berpeluang lebih besar untuk mengambil bagian dari pasar mangga dunia yang nilainya sangat besar dan terus bertumbuh.***









