Jakarta, oegopost.id – Permintaan dollar Amerika Serikat (AS) meningkat di sejumlah money changer Jakarta seiring pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp18.000 per dollar AS.
Meski aktivitas transaksi bertambah, pelaku usaha penukaran valuta asing memastikan stok dollar AS tetap tersedia dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Peningkatan transaksi terlihat dalam sepekan terakhir. Penguatan mata uang AS terhadap rupiah mendorong banyak pemilik dollar memanfaatkan momentum untuk menjual simpanan valas mereka.
Di sisi lain, sebagian masyarakat juga membeli valuta asing untuk berbagai kebutuhan perjalanan, termasuk wisata dan ibadah haji. Kondisi tersebut membuat aktivitas penukaran mata uang asing menjadi lebih ramai dibandingkan pekan-pekan sebelumnya.
Transaksi Dollar AS Meningkat Dalam Sepekan Terakhir
Staf PT Daffa Indo Valuta, Aris, mengatakan tren transaksi dollar AS mengalami kenaikan dalam beberapa hari terakhir. Menurut dia, penguatan kurs dollar menjadi faktor utama yang mendorong meningkatnya aktivitas di money changer.
Banyak nasabah datang untuk menjual dollar AS yang mereka simpan. Mereka memanfaatkan pelemahan rupiah agar memperoleh nilai tukar yang lebih menguntungkan.
“Untuk minggu terakhir trafiknya menanjak karena nilai dollar naik. Jadi orang-orang yang menjual dollar semakin banyak,” kata Aris kepada Kompas.com, Jumat (29/5/2026).
Selain transaksi penjualan dollar AS, sejumlah nasabah juga membeli berbagai mata uang asing lainnya. Kebutuhan tersebut terutama terkait perjalanan ke luar negeri dan pelaksanaan ibadah haji.
Aris menyebut mata uang yang banyak dicari antara lain dollar Singapura, ringgit Malaysia, riyal Arab Saudi, dan baht Thailand. Permintaan terhadap mata uang tersebut meningkat menjelang musim liburan dan keberangkatan jamaah haji.
Sebagian Pemilik Dollar Memilih Menunggu
Meski banyak nasabah menjual dollar AS, tidak sedikit pula yang memilih menahan aset mereka. Kelompok ini memperkirakan nilai tukar dollar terhadap rupiah masih berpotensi naik dalam waktu dekat.
Mereka menilai pelemahan rupiah belum mencapai titik akhir. Karena itu, sebagian investor maupun pemilik simpanan valas memilih menunggu hingga kurs dollar mencapai level yang lebih tinggi.
“Ada beberapa orang yang memang menginvestasikan hartanya dalam bentuk dollar AS. Mereka masih menahan karena mungkin ada kesempatan untuk kembali naik,” ujar Aris.
Menurutnya, sejumlah nasabah bahkan menargetkan kurs dollar AS menyentuh angka Rp18.000 sebelum memutuskan menjual simpanan mereka.
Perilaku tersebut menunjukkan adanya ekspektasi bahwa tekanan terhadap rupiah masih berlanjut. Akibatnya, sebagian pemilik dollar memilih menunda transaksi demi memperoleh keuntungan yang lebih besar.
Rupiah Melemah 136 Poin Dalam Sepekan
Pergerakan nilai tukar rupiah selama sepekan terakhir memperkuat ekspektasi tersebut. Rupiah tercatat mengalami pelemahan cukup signifikan terhadap dollar AS.
Pada penutupan perdagangan Senin, 25 Mei 2026, kurs rupiah berada di level Rp17.744 per dollar AS. Empat hari kemudian, tepatnya pada Jumat, 29 Mei 2026, nilai tukar rupiah ditutup pada posisi Rp17.880 per dollar AS.
Artinya, mata uang Garuda melemah sebanyak 136 poin dalam kurun waktu satu pekan. Pelemahan itu membuat perhatian pelaku pasar dan masyarakat kembali tertuju pada pergerakan dollar AS.
Kondisi tersebut juga memicu peningkatan transaksi di sejumlah money changer karena masyarakat berusaha menyesuaikan strategi keuangan mereka dengan perkembangan kurs terbaru.
Money Changer Pastikan Stok Dollar AS Aman
Di tengah meningkatnya permintaan, pelaku usaha penukaran valuta asing memastikan ketersediaan dollar AS tetap aman. Mereka menegaskan tidak terjadi kelangkaan maupun gangguan pasokan.
Aris mengatakan stok dollar AS di tempat usahanya selalu tersedia. Peningkatan jumlah transaksi tidak mengurangi kemampuan perusahaan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
“Kalau stok dollar AS di sini selalu ada. Aman dan banyak, tidak langka,” katanya.
Pernyataan serupa disampaikan Kepala Cabang Dolarindo Samanhudi, Lucky. Ia mengungkapkan bahwa aktivitas penjualan dollar AS oleh nasabah saat ini tergolong tinggi.
Menurut Lucky, banyak masyarakat yang memanfaatkan penguatan dollar untuk mengonversi simpanan valas mereka menjadi rupiah. Tren tersebut terlihat cukup dominan dalam beberapa hari terakhir.
“Tren penukaran dollar AS sangat tinggi untuk penjualan. Jadi penjualannya adalah nasabah yang memiliki dollar lalu menjualnya kepada money changer,” ujar Lucky.
Spekulasi Kenaikan Kurs Masih Berlanjut
Lucky mengakui sebagian pemilik dollar AS masih memilih menahan aset mereka. Mereka beranggapan kurs dollar terhadap rupiah masih memiliki ruang untuk bergerak lebih tinggi.
Ekspektasi tersebut membuat sebagian masyarakat belum terburu-buru melakukan penukaran. Mereka menunggu peluang mendapatkan nilai tukar yang lebih menguntungkan.
“Walaupun hari ini naik, mereka masih berasumsi USD bisa tembus di angka Rp17.900 sekian saat ditukarkan ke rupiah,” kata Lucky.
Menurut dia, spekulasi mengenai kenaikan kurs masih cukup kuat di kalangan pemegang dollar AS. Karena itu, sebagian nasabah memilih menunggu perkembangan pasar dalam beberapa waktu ke depan.
Kebutuhan Nasabah Tetap Terpenuhi
Lucky memastikan cabangnya memiliki persediaan valuta asing yang cukup besar. Karena itu, peningkatan permintaan tidak menimbulkan kendala bagi operasional perusahaan.
Ia menegaskan pihaknya tetap mampu melayani transaksi dalam jumlah besar sekalipun. Ketersediaan stok menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga kelancaran layanan kepada masyarakat.
“Aman. Mau jual ataupun saya terima sampai 100.000 dollar AS pun, saya bisa memenuhi kebutuhan nasabah,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pasokan dollar AS di tingkat money changer masih berada dalam kondisi stabil meskipun aktivitas transaksi meningkat.
Bank Indonesia Jamin Likuiditas Valas
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) memastikan likuiditas valuta asing untuk kebutuhan money changer tetap tersedia. Bank sentral terus menjaga ketersediaan valas agar kebutuhan pasar dapat terpenuhi.
Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI, Ruth A. Cussoy Intama, mengatakan likuiditas dollar AS seharusnya tidak menjadi persoalan bagi KUPVA atau money changer.
Menurut dia, mekanisme permintaan dan penawaran di pasar tetap berjalan. Selama kebutuhan terhadap dollar AS masih ada, pasokan juga akan tersedia.
“Likuiditas terhadap dollar AS yang dibutuhkan oleh money changer atau KUPVA saat ini harusnya ada. BI juga meyakinkan bahwa likuiditasnya pasti ada,” jelas Ruth dalam media briefing di Makassar, Jumat (22/5/2026).
BI Minta Masyarakat Tidak Panic Buying
Di tengah pelemahan rupiah, BI mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian valuta asing secara berlebihan. Bank sentral menilai pembelian valas sebaiknya dilakukan sesuai kebutuhan.
Menurut Ruth, tindakan panic buying dapat memicu peningkatan permintaan yang tidak perlu. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.
Ia menegaskan masyarakat tidak perlu terburu-buru membeli dollar AS jika kebutuhan penggunaan valas masih jauh di masa mendatang.
“Kalau memang masih butuhnya nanti, tidak usah beli sekarang. Dengan begitu kita bisa meredam ekspektasi dan permintaan yang berlebihan,” tuturnya.
Bank Indonesia berharap masyarakat tetap bersikap rasional dalam mengambil keputusan terkait pembelian valuta asing. Dengan langkah tersebut, stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar rupiah dapat tetap terjaga di tengah meningkatnya perhatian terhadap pergerakan dollar AS.(ar)









