Kebijakan Guru Honorer: Masa Transisi Menuju Penghapusan Status Honorer

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 11 Mei 2026 - 15:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kebijakan guru honorer memasuki masa transisi menuju penghapusan status honorer pada 2027, dengan skema baru bagi guru non-ASN termasuk PPPK.( Poto : dok. E-ujian.id ).

Kebijakan guru honorer memasuki masa transisi menuju penghapusan status honorer pada 2027, dengan skema baru bagi guru non-ASN termasuk PPPK.( Poto : dok. E-ujian.id ).

Jakarta, oegopost.id – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 7 Tahun 2026 yang mengatur penugasan kebijakan guru honorer sebagai bagian dari masa transisi menuju penghapusan status tenaga honorer pada 2027.

Kebijakan ini menjadi perhatian nasional karena menyangkut ratusan ribu guru yang masih aktif mengajar di sekolah negeri.

Ketentuan Penugasan Guru Non-ASN Hingga 2026

Pemerintah menetapkan bahwa guru non-ASN masih dapat melaksanakan tugas mengajar di sekolah negeri hingga 31 Desember 2026.

Kebijakan ini diterapkan untuk menjaga stabilitas proses pembelajaran selama masa penyesuaian sistem kepegawaian.

Berdasarkan data pendidikan per 31 Desember 2024, terdapat sekitar 237.196 guru non-ASN yang masih aktif mengajar di sekolah negeri.

Hanya guru yang tercatat dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik) dan masih aktif bertugas yang dapat melanjutkan penugasan tersebut.

Kelompok Guru yang Terdampak Kebijakan

Guru honorer atau non-ASN menjadi kelompok utama yang terdampak kebijakan ini.

Mereka wajib memenuhi dua syarat utama, yaitu terdaftar dalam Dapodik dan masih aktif mengajar di sekolah negeri milik pemerintah daerah.

Guru yang tidak tercatat dalam sistem Dapodik berisiko tidak memperoleh akses terhadap program pemerintah, termasuk skema penugasan dan pengangkatan baru.

Baca Juga :  Mendikdasmen Tegaskan Penghapusan Istilah Guru Honorer dalam UU ASN

Kondisi ini juga berdampak pada pemerintah daerah yang harus menyesuaikan kebutuhan guru dengan kemampuan anggaran.

Masa Berlaku Kebijakan Transisi

Kebijakan ini mulai berlaku pada 2026 dan akan berakhir pada 31 Desember 2026.

Setelah itu, pemerintah akan menerapkan penuh ketentuan dalam Undang-Undang ASN 2023 yang menghapus istilah tenaga honorer dan menggantinya dengan sistem kepegawaian baru mulai 2027.

Wilayah Penerapan Kebijakan

Aturan ini berlaku secara nasional di seluruh sekolah negeri yang berada di bawah pemerintah daerah di Indonesia.

Seluruh pendataan dan penugasan guru mengacu pada sistem Dapodik sebagai basis administrasi pendidikan nasional.

Tujuan Penataan Sistem Kepegawaian Guru

Pemerintah menerapkan kebijakan ini untuk menyesuaikan sistem kepegawaian pendidikan dengan regulasi ASN terbaru.

Selain itu, langkah ini bertujuan menjaga keberlanjutan proses belajar mengajar sekaligus menata status guru secara bertahap dan terstruktur.

Pemerintah juga menekankan pentingnya integrasi data agar seluruh tenaga pendidik tercatat dalam sistem resmi untuk mempermudah pengelolaan dan kebijakan ke depan.

Baca Juga :  Farhan Beberkan Masalah 1.500 Penyapu Jalan, Akui Kinerja Belum Maksimal

Mekanisme Pengalihan Status Guru

Guru yang sudah memiliki sertifikat pendidik akan memperoleh tunjangan profesi sesuai ketentuan yang berlaku.

Sementara itu, guru yang belum tersertifikasi akan diarahkan menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu.

Pemerintah daerah dapat memberikan tambahan penghasilan sesuai kemampuan fiskal masing-masing wilayah.

Pemerintah pusat juga membuka ruang koordinasi jika daerah mengalami keterbatasan anggaran.

Dampak Sosial di Kalangan Guru

Sejumlah guru honorer mengungkapkan kekhawatiran terhadap masa depan mereka, terutama bagi yang belum masuk Dapodik atau belum berhasil lolos seleksi PPPK.

Situasi ini memunculkan ketidakpastian di kalangan tenaga pendidik yang telah lama mengabdi.

Di sisi lain, DPR melalui Komisi X berencana memanggil Mendikdasmen untuk meminta penjelasan terkait implementasi kebijakan ini agar tidak menimbulkan masalah baru di lapangan.

Kebijakan ini menjadi tonggak penting dalam reformasi sistem kepegawaian guru di Indonesia, namun juga menghadirkan tantangan besar dalam memastikan proses transisi berjalan adil, tertib, dan tidak merugikan tenaga pendidik yang telah lama berkontribusi di dunia pendidikan.(ar)

Follow WhatsApp Channel oegopost.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Gubernur Al Haris Tekandatangani MoU Forum Sumatera 10 di Medan
Pemkab Bungo Serahkan Rancangan KUA-PPAS APBD 2027 Proyeksi Rp1,3 Triliun
Bupati Agus Rubiyanto Resmi Melantik 17 Pejabat Pemkab Tebo Terbaru
Bupati Merangin Serahkan Rancangan Perubahan KUA PPAS 2026 ke DPRD
Pemkot Jambi Terapkan Manajemen Talenta ASN demi Birokrasi Profesional
Wakil Bupati Merangin Melantik Tiga Pejabat Eselon II Baru
DPRD dan Pemkab Merangin Sepakati KUA-PPAS APBD 2027
DPRD dan Pemprov Jambi Resmi Sepakati KUA-PPAS APBD 2027
Berita ini 47 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 07:21 WIB

Gubernur Al Haris Tekandatangani MoU Forum Sumatera 10 di Medan

Rabu, 9 September 2026 - 09:37 WIB

Pemkab Bungo Serahkan Rancangan KUA-PPAS APBD 2027 Proyeksi Rp1,3 Triliun

Rabu, 9 September 2026 - 09:29 WIB

Bupati Agus Rubiyanto Resmi Melantik 17 Pejabat Pemkab Tebo Terbaru

Selasa, 8 September 2026 - 16:15 WIB

Bupati Merangin Serahkan Rancangan Perubahan KUA PPAS 2026 ke DPRD

Minggu, 6 September 2026 - 16:29 WIB

Pemkot Jambi Terapkan Manajemen Talenta ASN demi Birokrasi Profesional

Berita Terbaru

Gubernur Jambi Al Haris menghadiri Rapat Koordinasi Gubernur se-Sumatera yang berlangsung di Medan, Rabu (9/9/2026).(poto: jamberita.com).

Pemerintahan

Gubernur Al Haris Tekandatangani MoU Forum Sumatera 10 di Medan

Kamis, 10 Sep 2026 - 07:21 WIB

Ini penyebab AC mobil tidak dingin.(poto: ist).

Otomotif

8 Penyebab AC Mobil Tidak Dingin dan Cuma Keluar Angin

Kamis, 10 Sep 2026 - 06:58 WIB