Jakarta, oegopost.id – Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menilai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mendorong perubahan pola konsumsi masyarakat. Ia menjelaskan bahwa kelompok konsumen menengah ke atas mulai merasakan dampak langsung dari naiknya harga BBM seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex.
Menurut Bhima, kenaikan tersebut membuat biaya operasional kendaraan berbahan bakar fosil semakin tinggi. Kondisi ini kemudian mendorong sebagian masyarakat untuk mencari alternatif transportasi yang lebih efisien.
Kendaraan Listrik Mulai Jadi Pilihan Konsumen Menengah ke Atas
Bhima menyebut konsumen kelas menengah ke atas menjadi kelompok yang paling cepat mempertimbangkan peralihan ke kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Ia menilai kelompok ini memiliki daya beli yang lebih kuat dibanding kelas menengah, sehingga lebih mudah menyesuaikan diri dengan perubahan harga energi.
Ia juga menegaskan bahwa EV menawarkan efisiensi biaya dalam jangka panjang. Pengguna kendaraan listrik dapat menekan pengeluaran bahan bakar dan perawatan jika dibandingkan dengan kendaraan berbahan bakar minyak.
Kendala Harga dan Insentif Masih Menjadi Tantangan
Meski minat terhadap EV meningkat, Bhima menilai masyarakat kelas menengah masih menghadapi kendala besar. Ia menyebut harga kendaraan listrik yang masih relatif tinggi menjadi penghambat utama.
Selain itu, ia juga menyoroti kebijakan insentif pemerintah yang belum stabil. Perubahan insentif pada 2026 serta gangguan rantai pasok global ikut mempengaruhi harga kendaraan listrik di pasar.
Harga BBM Mengikuti Mekanisme Pasar
Di sisi lain, pemerintah melalui PT Pertamina (Persero) terus menyesuaikan harga BBM nonsubsidi berdasarkan pergerakan harga minyak dunia. Mekanisme ini membuat harga BBM dapat berubah sesuai kondisi pasar global.
Kesimpulan
Bhima menilai tren kenaikan BBM nonsubsidi berpotensi mempercepat adopsi kendaraan listrik di Indonesia, terutama pada kelompok masyarakat yang memiliki kemampuan finansial lebih tinggi. Namun, ia menekankan bahwa dukungan kebijakan dan stabilitas harga EV tetap menjadi faktor penting untuk mempercepat transisi energi di sektor transportasi.***








