Jakarta, oegopost.id – Nilai tukar rupiah dolar AS kembali melemah tajam pada perdagangan Rabu (20/5/2026) pagi.
Mata uang Garuda turun hingga menyentuh Rp17.721 per dolar AS di pasar spot dan mencatat rekor terendah sepanjang sejarah.
Data Bloomberg menunjukkan rupiah melemah 15 poin atau 0,08 persen dibandingkan penutupan akhir pekan sebelumnya.
Tekanan ini muncul seiring meningkatnya ketidakpastian global yang terus memengaruhi pasar keuangan.
Pada awal perdagangan, dolar AS langsung menguat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Investor global memilih dolar sebagai aset aman di tengah situasi pasar yang tidak stabil.
Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat memperkuat posisi dolar. Kondisi ini mendorong arus modal keluar dari pasar negara berkembang.
Mata Uang Asia Bergerak Bervariasi
Sejumlah mata uang Asia justru menguat pada perdagangan pagi hingga pukul 09.13 WIB. Pergerakan ini menunjukkan kondisi pasar yang tidak seragam di kawasan Asia.
Rinciannya sebagai berikut:
- Baht Thailand menguat 0,01 persen
- Peso Filipina menguat 0,02 persen
- Won Korea menguat 0,33 persen
- Yen Jepang menguat 0,05 persen
- Rupee India melemah 0,18 persen
Perbedaan arah ini menunjukkan bahwa faktor domestik masih sangat memengaruhi masing-masing negara.
Ketegangan Geopolitik Dorong Tekanan Tambahan
Analis mata uang Lukman Leong menilai ketegangan geopolitik, terutama di Timur Tengah, ikut menekan rupiah.
Konflik yang belum mereda mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memperburuk sentimen pasar.
Kenaikan harga minyak kemudian meningkatkan inflasi global dan memperkuat dolar AS. Kondisi ini membuat mata uang negara berkembang semakin tertekan.
“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS di tengah ketidakpastian kesepakatan perdamaian Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak mentah, imbal hasil obligasi AS, dan indeks dolar AS,” ujar Lukman.
Pelaku pasar kini menunggu keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang digelar hari ini.
Investor berharap bank sentral merespons tekanan global dengan kebijakan suku bunga yang tepat.
Jika bank sentral menaikkan suku bunga sesuai ekspektasi, rupiah berpotensi mendapat dukungan dalam jangka pendek. Pasar akan langsung bereaksi terhadap arah kebijakan tersebut.
Kebijakan Fiskal Pemerintah Ikut Jadi Sorotan
Selain kebijakan moneter, pasar juga memantau pidato Presiden Prabowo Subianto terkait Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027.
Investor menilai arah kebijakan fiskal sangat penting karena menentukan kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.
Analis memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.650 hingga Rp17.800 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Pergerakan ini mencerminkan tingginya volatilitas pasar.
Faktor eksternal seperti dolar AS dan geopolitik masih mendominasi arah pergerakan rupiah. Sementara itu, kebijakan domestik berperan sebagai penyeimbang.
Kesimpulan
Rupiah yang menembus rekor terendah menunjukkan dominasi faktor eksternal dalam pasar valuta asing.
Penguatan dolar AS, ketegangan geopolitik, dan ekspektasi suku bunga AS terus menekan mata uang negara berkembang.
Ke depan, keputusan Bank Indonesia dan arah kebijakan fiskal Presiden Prabowo Subianto akan menentukan arah stabilitas rupiah di tengah tekanan global yang masih kuat.(ar)









