Madiun, oegopost.id – Harga cabai rawit di sejumlah pasar tradisional masih bertahan tinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Kondisi ini langsung memengaruhi biaya bahan baku makanan, terutama bagi pelaku usaha kecil yang bergantung pada cabai sebagai bahan utama masakan.
Di Kota Madiun, lonjakan harga tersebut terasa nyata bagi pedagang nasi pecel yang setiap hari menggunakan cabai rawit untuk membuat sambal.
Harga yang sebelumnya berada pada level normal kini belum kembali stabil.
Kondisi Harga di Pasar Besar Madiun
Aktivitas perdagangan cabai di Pasar Besar Kota Madiun menunjukkan fluktuasi harga yang cukup tajam.
Dalam tiga bulan terakhir, harga cabai rawit sempat melonjak hingga kisaran Rp80.000–Rp90.000 per kilogram sebelum akhirnya turun ke sekitar Rp66.000–Rp68.000 per kilogram.
Meski mengalami penurunan, harga tersebut masih jauh lebih tinggi dibanding harga normal yang biasanya berada di kisaran Rp40.000 per kilogram.
Dampak Terhadap Pedagang Nasi Pecel
Sri Handayani, seorang pedagang nasi pecel di Madiun, menyesuaikan operasional usahanya akibat kenaikan harga cabai.
Ia mengurangi jumlah pembelian cabai rawit dari satu kilogram menjadi hanya setengah kilogram agar modal tetap mencukupi.
Penyesuaian ini ia lakukan karena cabai rawit menjadi komponen penting dalam pembuatan sambal pecel.
Kenaikan harga secara langsung menekan biaya produksi harian, sehingga ia harus mengatur ulang porsi belanja bahan baku tanpa mengurangi aktivitas berjualan.
Faktor Penyebab Kenaikan Harga
Pedagang cabai menjelaskan bahwa cuaca yang tidak menentu menjadi penyebab utama kenaikan harga cabai rawit.
Curah hujan tinggi dalam beberapa waktu terakhir menyebabkan banyak tanaman cabai rusak dan gagal panen di sejumlah daerah produksi.
Kondisi tersebut mengurangi pasokan cabai ke pasar. Ketika pasokan menurun sementara permintaan tetap tinggi, harga cabai otomatis meningkat.
Situasi ini juga berdampak pada cabai jenis lain seperti cabai keriting yang ikut mengalami kenaikan harga.
Perubahan Pola Belanja Konsumen
Kenaikan harga cabai tidak hanya berdampak pada pedagang, tetapi juga pada perilaku konsumen. Banyak pembeli kini mengurangi jumlah pembelian cabai.
Jika sebelumnya konsumen dapat membeli hingga tiga kilogram sekaligus, saat ini sebagian besar hanya membeli sekitar satu kilogram untuk menekan pengeluaran.
Ari Tri, pedagang cabai di pasar tersebut, mencatat penurunan daya beli masyarakat setelah harga naik.
Ia juga menegaskan bahwa kondisi cuaca menjadi faktor dominan yang memengaruhi ketersediaan stok di pasar.
Harapan Stabilitas Harga Pangan
Para pedagang berharap harga cabai rawit dapat segera kembali stabil.
Mereka menilai kestabilan harga sangat penting agar usaha kecil seperti penjual nasi pecel dapat beroperasi dengan normal tanpa harus terus menekan jumlah bahan baku.
Situasi ini menunjukkan bahwa perubahan cuaca dan pasokan pertanian memiliki dampak langsung terhadap ekonomi masyarakat kecil, terutama pelaku usaha makanan yang sangat bergantung pada komoditas cabai.(ar)









