Jakarta, oegopost.id – Wall Street bergerak campuran pada penutupan perdagangan Senin (18/5/2026) di bursa Amerika Serikat.
Indeks saham utama bergerak tidak seragam karena investor melakukan aksi ambil untung pada saham teknologi, sementara pasar juga menghadapi tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi dan lonjakan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi.
Investor global, pelaku pasar institusi, serta manajer investasi di Wall Street memengaruhi arah perdagangan.
Sentimen pasar juga terbentuk dari kebijakan Federal Reserve sebagai bank sentral AS serta perkembangan geopolitik yang melibatkan Presiden Donald Trump dan Iran.
Kinerja Indeks Utama di Bursa AS
Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 0,32 persen ke level 49.686,12. Penguatan ini didorong oleh sektor industri dan energi yang masih mencatat kinerja positif.
Sebaliknya, S&P 500 melemah tipis 0,07 persen ke level 7.403,05 akibat tekanan dari saham teknologi yang mulai terkoreksi setelah reli panjang.
Sementara itu, Nasdaq Composite turun 0,51 persen ke level 26.090,73. Pelemahan ini terutama berasal dari aksi ambil untung pada saham teknologi dan perusahaan semikonduktor.
Seluruh transaksi berlangsung di bursa utama Amerika Serikat, yaitu New York Stock Exchange (NYSE) dan Nasdaq.
Pergerakan di dua bursa ini memiliki dampak luas karena menjadi acuan utama pasar global.
Pergerakan pasar terjadi pada sesi perdagangan Senin, 18 Mei 2026 waktu setempat dan dilaporkan kembali pada 19 Mei 2026.
Faktor Penyebab Tekanan Pasar
Pasar mengalami tekanan akibat beberapa faktor utama. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke level tertinggi sejak Februari 2025, sehingga mendorong investor beralih dari saham ke aset yang lebih aman.
Selain itu, harga minyak dunia meningkat akibat ketegangan di kawasan Selat Hormuz yang merupakan jalur penting perdagangan energi global.
Kondisi ini memperbesar kekhawatiran inflasi jangka panjang.
Aksi ambil untung juga terjadi setelah indeks utama mencatat kenaikan signifikan sejak akhir Maret 2026, sehingga investor memilih mengamankan keuntungan.
Dinamika Geopolitik dan Energi
Harga minyak sempat melonjak lebih dari 3 persen sebelum kembali berfluktuasi.
Pasar merespons pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menunda rencana serangan terhadap Iran demi membuka peluang negosiasi damai.
Namun, ketidakpastian masih tinggi karena potensi konflik belum sepenuhnya mereda.
Pergerakan Sektor Saham
Sektor teknologi mencatat pelemahan terbesar di indeks S&P 500. Saham semikonduktor ikut tertekan dengan penurunan signifikan pada indeks Philadelphia Semiconductor.
Sebaliknya, sektor energi menguat karena kenaikan harga minyak meningkatkan prospek pendapatan perusahaan di sektor tersebut.
Ekspektasi Kebijakan dan Sentimen Investor
Pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve mencapai sekitar 36,7 persen hingga akhir tahun.
Data inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi memperkuat spekulasi tersebut.
Investor juga menantikan laporan keuangan dari perusahaan besar seperti Nvidia dan Walmart untuk mengukur kekuatan sektor teknologi serta daya beli konsumen di tengah tekanan inflasi.
Pergerakan Saham Individu
Sejumlah saham mencatat pergerakan tajam. NextEra Energy melemah, sementara Dominion Energy menguat signifikan setelah kabar akuisisi besar.
Regeneron Pharmaceuticals juga turun tajam setelah uji klinis obat kanker kulitnya gagal memenuhi target.
Kesimpulan
Wall Street menunjukkan kondisi yang tidak seimbang antara penguatan dan pelemahan.
Tekanan inflasi, kenaikan imbal hasil obligasi, serta ketidakpastian geopolitik membuat investor bersikap lebih hati-hati.
Meskipun beberapa sektor masih menguat, pasar secara keseluruhan bergerak lebih selektif menunggu arah ekonomi berikutnya.(ar)









