Wall Street Bergerak Campuran di Tengah Tekanan Inflasi dan Geopolitik

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 19 Mei 2026 - 10:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wall Street bergerak campuran pada perdagangan 18 Mei 2026 akibat aksi ambil untung saham teknologi, kenaikan imbal hasil obligasi AS, dan lonjakan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi.( Poto : KOMPAS.com ).

Wall Street bergerak campuran pada perdagangan 18 Mei 2026 akibat aksi ambil untung saham teknologi, kenaikan imbal hasil obligasi AS, dan lonjakan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi.( Poto : KOMPAS.com ).

Jakarta, oegopost.id – Wall Street bergerak campuran pada penutupan perdagangan Senin (18/5/2026) di bursa Amerika Serikat.

Indeks saham utama bergerak tidak seragam karena investor melakukan aksi ambil untung pada saham teknologi, sementara pasar juga menghadapi tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi dan lonjakan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi.

Investor global, pelaku pasar institusi, serta manajer investasi di Wall Street memengaruhi arah perdagangan.

Sentimen pasar juga terbentuk dari kebijakan Federal Reserve sebagai bank sentral AS serta perkembangan geopolitik yang melibatkan Presiden Donald Trump dan Iran.

Kinerja Indeks Utama di Bursa AS

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 0,32 persen ke level 49.686,12. Penguatan ini didorong oleh sektor industri dan energi yang masih mencatat kinerja positif.

Sebaliknya, S&P 500 melemah tipis 0,07 persen ke level 7.403,05 akibat tekanan dari saham teknologi yang mulai terkoreksi setelah reli panjang.

Sementara itu, Nasdaq Composite turun 0,51 persen ke level 26.090,73. Pelemahan ini terutama berasal dari aksi ambil untung pada saham teknologi dan perusahaan semikonduktor.

Seluruh transaksi berlangsung di bursa utama Amerika Serikat, yaitu New York Stock Exchange (NYSE) dan Nasdaq.

Baca Juga :  Pertumbuhan Ekonomi Singapura 2026 Melambat di Bawah Target

Pergerakan di dua bursa ini memiliki dampak luas karena menjadi acuan utama pasar global.

Pergerakan pasar terjadi pada sesi perdagangan Senin, 18 Mei 2026 waktu setempat dan dilaporkan kembali pada 19 Mei 2026.

Faktor Penyebab Tekanan Pasar

Pasar mengalami tekanan akibat beberapa faktor utama. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke level tertinggi sejak Februari 2025, sehingga mendorong investor beralih dari saham ke aset yang lebih aman.

Selain itu, harga minyak dunia meningkat akibat ketegangan di kawasan Selat Hormuz yang merupakan jalur penting perdagangan energi global.

Kondisi ini memperbesar kekhawatiran inflasi jangka panjang.

Aksi ambil untung juga terjadi setelah indeks utama mencatat kenaikan signifikan sejak akhir Maret 2026, sehingga investor memilih mengamankan keuntungan.

Dinamika Geopolitik dan Energi

Harga minyak sempat melonjak lebih dari 3 persen sebelum kembali berfluktuasi.

Pasar merespons pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menunda rencana serangan terhadap Iran demi membuka peluang negosiasi damai.

Namun, ketidakpastian masih tinggi karena potensi konflik belum sepenuhnya mereda.

Pergerakan Sektor Saham

Sektor teknologi mencatat pelemahan terbesar di indeks S&P 500. Saham semikonduktor ikut tertekan dengan penurunan signifikan pada indeks Philadelphia Semiconductor.

Baca Juga :  Saham Apple melonjak didorong Lonjakan iPhone 17 dan Kinerja Q2 Kuat

Sebaliknya, sektor energi menguat karena kenaikan harga minyak meningkatkan prospek pendapatan perusahaan di sektor tersebut.

Ekspektasi Kebijakan dan Sentimen Investor

Pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve mencapai sekitar 36,7 persen hingga akhir tahun.

Data inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi memperkuat spekulasi tersebut.

Investor juga menantikan laporan keuangan dari perusahaan besar seperti Nvidia dan Walmart untuk mengukur kekuatan sektor teknologi serta daya beli konsumen di tengah tekanan inflasi.

Pergerakan Saham Individu

Sejumlah saham mencatat pergerakan tajam. NextEra Energy melemah, sementara Dominion Energy menguat signifikan setelah kabar akuisisi besar.

Regeneron Pharmaceuticals juga turun tajam setelah uji klinis obat kanker kulitnya gagal memenuhi target.

Kesimpulan

Wall Street menunjukkan kondisi yang tidak seimbang antara penguatan dan pelemahan.

Tekanan inflasi, kenaikan imbal hasil obligasi, serta ketidakpastian geopolitik membuat investor bersikap lebih hati-hati.

Meskipun beberapa sektor masih menguat, pasar secara keseluruhan bergerak lebih selektif menunggu arah ekonomi berikutnya.(ar)

Follow WhatsApp Channel oegopost.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Film Colony Kuasai Box Office Korea, Tembus 1,2 Juta Tiket
Arsenal Akhiri Dominasi City dan Rebut Gelar Liga Inggris
Bayern Kejar Gelar Ganda di Final Piala Jerman
Ringgit Malaysia Makin Kuat, Ini Penyebabnya
Thailand Tekan Pajak Mobil Listrik Impor untuk Lindungi Industri Lokal
Alex Marquez Cedera Serius Usai Insiden Keras di GP Catalunya 2026
Malaysia Protes Norwegia usai Pembatalan Pengiriman Rudal Angkatan Laut
Trump Tiba di Beijing, Siap Bahas Iran dan AI Bersama Xi Jinping
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 22:00 WIB

Film Colony Kuasai Box Office Korea, Tembus 1,2 Juta Tiket

Senin, 25 Mei 2026 - 11:00 WIB

Arsenal Akhiri Dominasi City dan Rebut Gelar Liga Inggris

Sabtu, 23 Mei 2026 - 15:00 WIB

Bayern Kejar Gelar Ganda di Final Piala Jerman

Sabtu, 23 Mei 2026 - 13:00 WIB

Ringgit Malaysia Makin Kuat, Ini Penyebabnya

Selasa, 19 Mei 2026 - 13:00 WIB

Thailand Tekan Pajak Mobil Listrik Impor untuk Lindungi Industri Lokal

Berita Terbaru

Koordinator P4MI Jambi Deliyus Eka Saputra saat memberikan keterangan kepada awak media di Jambi, Selasa (7/7/2026).( poto: ANTARA).

Daerah

P4MI Jambi Ajak Masyarakat Tempuh Jalur Kerja Resmi

Kamis, 9 Jul 2026 - 21:00 WIB