Jakarta, oegopost.id – Ekonom menyoroti shrinkflation kenaikan harga plastik yang mulai berdampak pada industri barang konsumsi. Kondisi ini mendorong produsen mengurangi isi produk untuk menekan biaya produksi tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Produsen menghadapi peningkatan biaya kemasan sehingga mereka mencari cara untuk menjaga margin keuntungan tetap stabil. Kondisi ini mendorong pelaku usaha untuk menyesuaikan strategi produksi agar tetap kompetitif di pasar.
Perusahaan Mengurangi Isi Produk Tanpa Naikkan Harga
Sejumlah perusahaan mulai mempertimbangkan strategi shrinkflation sebagai respons terhadap tekanan biaya. Mereka mengurangi ukuran atau isi produk, tetapi tetap mempertahankan harga jual di tingkat yang sama. Perusahaan melakukan langkah ini untuk mencegah konsumen langsung merasakan kenaikan harga di etalase.
Konsumen berpotensi menerima produk dengan ukuran lebih kecil tanpa perubahan harga yang signifikan. Situasi ini membuat daya beli masyarakat tertekan secara tidak langsung karena nilai barang yang dibeli menjadi lebih rendah. Banyak konsumen tidak segera menyadari perubahan tersebut karena harga terlihat stabil.
Ekonom Minta Pemerintah Awasi Dampak Inflasi Terselubung
Ekonom meminta pemerintah dan pelaku industri memperhatikan dampak shrinkflation terhadap inflasi terselubung. Mereka menilai fenomena ini dapat memengaruhi transparansi harga di pasar dan merugikan konsumen dalam jangka panjang. Pengawasan diperlukan agar perubahan biaya produksi tidak sepenuhnya dialihkan ke konsumen secara tidak terlihat.
Kenaikan harga plastik tidak hanya memicu kenaikan biaya industri, tetapi juga mendorong perubahan strategi produksi. Produsen aktif menyesuaikan ukuran produk, sementara konsumen berpotensi menerima dampak berupa penurunan isi barang tanpa perubahan harga yang jelas.***









