Jakarta, oegopost.id – Pada abad ke-19, Augustijn Michiels atau Mayor Jantje menjalani kehidupan sebagai salah satu orang terkaya di Jawa. Ia tidak mengurus seluruh kebutuhan rumah tangganya sendiri, tetapi mempekerjakan sekitar 320 orang untuk membantu berbagai aktivitas sehari-hari.
Sejarawan Djoko Soekiman dalam buku Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa (2000) mencatat bahwa jumlah pekerja dalam rumah tangga Michiels mencapai ratusan orang yang pada masa itu dikenal sebagai budak atau babu.
Michiels Bagi Pekerjaan Secara Rinci
Michiels membagi para pekerja tersebut ke dalam berbagai tugas yang sangat terstruktur. Ia menugaskan sebagian orang untuk mengurus pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, dan membersihkan rumah.
Ia juga menempatkan kelompok lain untuk bekerja di luar rumah, seperti mengelola kebun dan lahan miliknya. Michiels menetapkan pembagian kerja yang sangat detail. Ia menugaskan sekitar 80 orang untuk memotong rumput, 9 orang untuk memetik sayuran, dan 5 orang untuk merawat taman. Selain itu, ia juga mempekerjakan sejumlah orang untuk menghibur dengan menari dan memainkan gamelan.
Michiels memiliki sekitar 362 ekor kuda yang juga membutuhkan perawatan khusus. Ia menugaskan pekerja tertentu untuk mengurus hewan-hewan tersebut agar tetap terawat dengan baik.
Kekayaan Michiels Tersebar di Banyak Wilayah
Michiels menguasai lahan di berbagai daerah seperti Cileungsi, Klapanunggal, Nambo, Cipanas, Ciputri, Cibarusah, hingga Naggewer yang kini berada di wilayah Bogor dan Bekasi.
Sejarawan mencatat total lahannya mencapai sekitar 144 ribu hektare, setara dengan luas Provinsi Utrecht di Belanda. Ayah Michiels, Jonathan, terlebih dahulu membangun kekayaan dengan membeli tanah di Cileungsi pada 1776. Ia mengembangkan lahan tersebut hingga menghasilkan komoditas bernilai tinggi seperti sarang burung walet. Setelah Jonathan meninggal, Michiels mewarisi seluruh aset keluarga dan meninggalkan karier militernya untuk mengelola kekayaan tersebut.
Michiels Kembangkan Aset dan Bisnis
Michiels mengelola aset warisan dengan strategi bisnis yang lebih luas. Ia mengembangkan lahan dan memaksimalkan potensi komoditas bernilai tinggi, terutama sarang burung walet. Pengelolaan tersebut membuat kekayaannya terus meningkat dan memperkuat posisinya sebagai salah satu tokoh paling kaya di Jawa pada masanya.***









