Harga Kedelai Impor Naik, Pengrajin Tempe Malang Ubah Strategi Produksi

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 19 Mei 2026 - 23:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Harga kedelai naik di Malang akibat penguatan dolar AS.( Poto : Wowkeren ).

Harga kedelai naik di Malang akibat penguatan dolar AS.( Poto : Wowkeren ).

Malang, oegopost.id – Para pengrajin Tempe di Sentra Industri Tempe Sanan, Kota Malang, Jawa Timur, menghadapi kenaikan biaya produksi setelah harga Kedelai impor terus naik.

Mereka merasakan dampak penguatan dolar Amerika Serikat yang mendorong lonjakan harga bahan baku di pasar global.

Para pelaku usaha menyebut harga kedelai sudah meningkat dalam beberapa waktu terakhir.

Mereka kemudian menyesuaikan cara produksi agar usaha tetap berjalan dan pelanggan tidak berpindah ke produk lain.

Penguatan Dolar dan Gangguan Perdagangan Dorong Harga Naik

Para pengrajin menjelaskan bahwa penguatan dolar AS langsung menaikkan harga kedelai impor karena Indonesia masih bergantung pada pasokan luar negeri.

Kondisi ini membuat biaya produksi meningkat dari sekitar Rp9.800 menjadi Rp10.900 per kilogram, bahkan kadang lebih tinggi.

Selain nilai tukar, gangguan jalur perdagangan internasional juga meningkatkan biaya distribusi. Situasi itu membuat harga bahan baku semakin tidak stabil di tingkat pengrajin.

Baca Juga :  Harga Pangan Nasional Bergerak, Ini Rincian Harga Terbaru Menurut PIHPS

Ami, salah satu pekerja pengrajin tempe, mengatakan bahwa kondisi tersebut sudah ia rasakan dalam beberapa waktu terakhir dan semakin berat ketika situasi perdagangan global terganggu.

Pengrajin Menyesuaikan Ukuran Tempe, Bukan Harga

Para pengrajin memilih mempertahankan harga jual Tempe agar pelanggan tetap membeli. Mereka kemudian mengubah strategi dengan mengecilkan ukuran produk.

Ami menjelaskan bahwa mereka membuat tempe lebih tipis, sekitar 1,5 sentimeter, agar biaya tetap terkendali.

Mereka menjual satu lonjor tempe besar sekitar Rp23.000–Rp25.000, sementara ukuran lebih kecil mereka jual Rp18.000–Rp20.000.

Para pengrajin sengaja tidak menaikkan harga karena mereka khawatir konsumen akan mengurangi pembelian atau beralih ke makanan lain.

Baca Juga :  Rekening Tidur Tembus 50 Ribu, LPS Tingkatkan Pengawasan

Daya Beli Konsumen Ikut Menurun

Para pedagang pasar melaporkan bahwa konsumen kini membeli tempe dalam jumlah lebih kecil.

Banyak pembeli yang sebelumnya menghabiskan Rp10.000, kini hanya membeli Rp5.000–Rp7.000.

Kondisi tersebut menekan penjualan harian di pasar tradisional. Para pengrajin juga mencatat penurunan produksi dari sekitar 7–8 kuintal per hari menjadi sekitar 6,5 kuintal per hari karena permintaan melemah.

Produksi Melambat dan Stok Sering Kembali

Para pedagang pasar sering mengembalikan tempe yang tidak terjual kepada pengrajin.

Kondisi ini membuat perputaran barang menjadi tidak stabil dan menambah tekanan bagi pelaku usaha kecil.

Para pengrajin terus menyesuaikan produksi agar tidak terjadi kelebihan stok.

Mereka juga berusaha menjaga kualitas agar tetap menarik minat pembeli meskipun ukuran produk mengecil.(ar)

Follow WhatsApp Channel oegopost.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rupiah Tembus Rekor Terendah Rp17.721 per Dolar AS di Tengah Tekanan Global
Lonjakan Harga Cabai Rawit Menekan Pedagang Nasi Pecel di Madiun
Cabai dan Daging Naik di Pasar Tanjung Bajure Sungai Penuh
Rupiah Tembus Rp 17.668, Pasar Keuangan Tertekan dan BI Bersiap Ambil Langkah
Faktor yang Memengaruhi Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS
Rupiah Melemah Rp 17.601 , Pemerintah dan Akademisi Berbeda Sikap
Harga Emas UBS, Antam, dan Galeri24 Kompak Mengalami Penurunan di Pegadaian
Prabowo Perkuat Stok Pangan Nasional di Tengah Ketidakpastian Global
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 20 Mei 2026 - 17:00 WIB

Rupiah Tembus Rekor Terendah Rp17.721 per Dolar AS di Tengah Tekanan Global

Selasa, 19 Mei 2026 - 23:59 WIB

Lonjakan Harga Cabai Rawit Menekan Pedagang Nasi Pecel di Madiun

Selasa, 19 Mei 2026 - 23:00 WIB

Harga Kedelai Impor Naik, Pengrajin Tempe Malang Ubah Strategi Produksi

Selasa, 19 Mei 2026 - 11:41 WIB

Cabai dan Daging Naik di Pasar Tanjung Bajure Sungai Penuh

Selasa, 19 Mei 2026 - 11:00 WIB

Rupiah Tembus Rp 17.668, Pasar Keuangan Tertekan dan BI Bersiap Ambil Langkah

Berita Terbaru

Kepala Divisi Pelayanan Hukum Kanwil Kemenkum Jambi Diana Yuli Astuti.( Poto : JAMBIlink ).

Daerah

Kemenkum Jambi Genjot Merek Kolektif Koperasi Batanghari

Jumat, 22 Mei 2026 - 10:00 WIB

Promo ruko JBC Mei 2026 ( Poto : istimewa ).

Bisnis

Promo Ruko JBC Jambi, Diskon Besar Mulai Diburu

Jumat, 22 Mei 2026 - 09:00 WIB

Kapolda Jambi Irjen Pol. Krisno H. Siregar di Swiss-Belhotel Jambi, Rabu (20/5/2026).( Poto : JAMBIlink ).

Daerah

Kapolda Jambi Buka Uji Kompetensi Penyidik Polri 2026

Jumat, 22 Mei 2026 - 08:00 WIB

Kementerian Hukum Jambi dan Pemerintah Kabupaten Tebo pada Kamis, 21 Mei 2026.( Poto : JAMBIlink ).

Daerah

Harmonisasi Perda Disabilitas Tebo Jadi Sorotan

Jumat, 22 Mei 2026 - 07:00 WIB

Kantor Wilayah Kementerian Hukum Jambi pada Kamis, 21 Mei 2026.( Poto : JAMBIlink ).

Daerah

Cek Kesehatan Pegawai, Kanwil Kemenkum Jambi Fokus SDM

Jumat, 22 Mei 2026 - 06:00 WIB