Jakarta, oegopost.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa rencana impor bubuk nikel dari Filipina tidak melibatkan pembahasan antarpemerintah.
Ia menjelaskan bahwa pelaku usaha Indonesia dan Filipina justru aktif membahas peluang kerja sama tersebut dalam skema business-to-business (B2B) selama rangkaian KTT ASEAN.
Bahlil menekankan pemerintah tidak membawa isu itu ke meja perundingan tingkat kepala negara.
Ia menilai para pengusaha lebih dulu menjajaki peluang kerja sama secara langsung karena mereka melihat potensi keuntungan ekonomi dari sektor nikel.
Pemerintah, menurutnya, tetap mendukung selama kerja sama tersebut memperkuat hilirisasi industri nasional.
Indonesia dan Filipina Kuasai Cadangan Nikel Dunia
Bahlil menjelaskan bahwa Indonesia menguasai sekitar 43 persen cadangan nikel dunia, sementara Filipina memiliki sekitar 15 hingga hampir 20 persen.
Jika digabungkan, kedua negara mengendalikan lebih dari 60 persen cadangan nikel global.
Ia menyoroti bahwa Filipina memiliki bahan baku nikel dalam jumlah besar, tetapi negara tersebut belum mengembangkan industri pengolahan secara maksimal.
Sebaliknya, Indonesia telah membangun banyak fasilitas smelter sehingga kedua negara memiliki peluang untuk saling melengkapi kebutuhan industri.
Koridor Nikel ASEAN Dorong Integrasi Industri
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa Indonesia dan Filipina telah menyepakati pengembangan Indonesia–Philippines Nickel Corridor.
Kedua negara meresmikan kerja sama itu melalui penandatanganan Nota Kesepahaman antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA) di sela KTT ASEAN ke-27 di Cebu.
Airlangga menyebut kerja sama tersebut menghubungkan pasokan bijih nikel dari Filipina dengan fasilitas pengolahan di Indonesia.
Ia juga menjelaskan bahwa pelaku industri akan menerapkan skema blending untuk menyesuaikan kualitas bahan baku sesuai kebutuhan smelter.
Melalui koridor ini, Indonesia memperkuat pasokan bahan baku untuk industri baterai kendaraan listrik dan baja tahan karat.
Di sisi lain, Filipina meningkatkan perannya dalam rantai nilai industri nikel kawasan, tidak hanya sebagai pemasok bahan mentah.(ar)









