Batang Hari, oegopost.id – Revitalisasi Sungai Batang Hari menjadi langkah strategis untuk mengembalikan peran penting sungai terpanjang di Pulau Sumatera tersebut. Akademisi sekaligus pakar transportasi Ivan Wirata menilai pengembangan kawasan ini harus berjalan secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Menurut Ivan, Batang Hari bukan sekadar aliran air biasa yang membelah Provinsi Jambi. Sungai sepanjang lebih dari 800 kilometer ini merupakan nadi peradaban masyarakat sejak era Kerajaan Melayu Jambi hingga masa kejayaan Sriwijaya.
Pada masa lalu, sungai ini menjadi jalur perdagangan utama yang menghubungkan wilayah pedalaman dengan dunia luar. Kini, seluruh pihak perlu menghidupkan kembali fungsi sejarah tersebut secara modern.
Ivan menegaskan bahwa upaya pemulihan fungsi sungai harus berfokus pada tiga dimensi utama. Tiga dimensi tersebut mencakup konektivitas transportasi, pelestarian lingkungan hidup, serta pengembangan ekonomi masyarakat.
Potensi Angkutan Sungai Kurangi Beban Jalan Darat
Pada sektor transportasi, moda angkutan sungai mampu menjadi solusi efektif untuk mengurangi beban jalan darat. Jalur air ini dapat mendukung distribusi logistik dari wilayah hulu menuju Kota Jambi.
Wilayah hulu seperti Kabupaten Bungo, Tebo, dan Sarolangun memiliki potensi pengiriman barang yang sangat besar. Penggunaan jalur sungai akan memperlancar arus barang secara lebih efisien.
Pemerintah perlu melakukan pengerukan alur sungai yang tepat untuk mendukung kelancaran navigasi kapal. Selain itu, pengerjaan revitalisasi dermaga-dermaga tradisional akan membuka peluang angkutan barang dan penumpang.
Langkah ini akan mengembalikan kejayaan transportasi air yang pernah menjadi andalan warga Jambi. Efisiensi biaya distribusi barang juga dapat tercapai melalui pemanfaatan kembali jalur sungai ini.
Penanganan Sedimentasi Dan Tambang Emas Tanpa Izin
Dari sisi lingkungan, Sungai Batang Hari saat ini menghadapi berbagai tantangan ekologis yang cukup serius. Masalah utama meliputi pendangkalan akibat sedimentasi dan alih fungsi lahan di daerah tangkapan air.
Aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) juga semakin memperparah kerusakan ekosistem sungai. Kondisi ini membutuhkan penanganan cepat agar dampak buruknya tidak semakin meluas.
Ivan menekankan pentingnya sinkronisasi antara Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Jambi dengan program pengendalian DAS. Penataan ruang yang harmonis akan mencegah kerusakan lingkungan yang lebih parah di masa depan.
Pembangunan infrastruktur daerah tidak boleh mengabaikan daya dukung lingkungan di sekitar aliran sungai. Keseimbangan ekologi harus tetap menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan pembangunan.
Konsep Waterfront Development Dorong Sektor Usaha Mikro
Pada aspek ekonomi, Ivan melihat peluang besar dalam pengembangan kawasan tepian sungai. Penerapan konsep river tourism dan waterfront development dapat mengubah wajah kawasan Batang Hari.
Kawasan sungai berpotensi menjadi ruang publik baru yang menarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Penataan kawasan ini akan mendorong pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) setempat.
Sektor ekonomi kreatif dan pariwisata daerah juga akan merasakan dampak positif dari penataan ini. Masyarakat sekitar dapat memanfaatkan peluang usaha baru di sepanjang bantaran sungai.
Namun, Ivan menegaskan bahwa pemulihan fungsi Batang Hari bukanlah proyek yang selesai dalam waktu singkat. Program besar ini memerlukan komitmen jangka panjang serta kerja keras dari semua pihak.
Keberhasilan program ini hanya bisa terwujud melalui kerja kolaboratif lintas sektor yang solid. Pemerintah, akademisi, pelaku transportasi, dan masyarakat harus bersatu mengembalikan fungsi sungai ini.
Sinergi tersebut akan menjadikan Batang Hari sebagai urat nadi ekonomi sekaligus identitas budaya Jambi. Warisan leluhur ini harus terus dijaga agar memberikan manfaat bagi generasi mendatang.(ar)









