Jambi, Oegopost.id – Petani di Kota Jambi berhasil mencatatkan capaian penting dalam memperkuat ketahanan pangan daerah. Mereka menuntaskan penanaman padi seluas 539 hektare, melampaui target awal seluas 529 hektare.
Meski demikian, ancaman serius kini membayangi keberhasilan tersebut. Cuaca panas ekstrem memicu krisis air yang mengancam kelangsungan hidup tanaman padi di berbagai sudut kota.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Jambi, Boy Evirdal Asri, mengonfirmasi kabar keberhasilan tanam sekaligus ancaman kekeringan tersebut. Luas baku lahan sawah di wilayah ini sebetulnya berada di angka 459 hektare. Namun, perputaran masa tanam memungkinkan realisasi luas tambah tanam menembus angka 539 hektare.
Jadwal Tanam Juli Hadapi Krisis Air Terparah
Perbedaan waktu tanam menentukan nasib tanaman para petani selama musim April–September ini. Petani yang memulai olah tanah dan semai bibit pada April serta Mei sukses mengamankan pasokan air.
Situasi berbanding terbalik menimpa para petani yang baru menancapkan bibit pada Juli. Mereka kini menanggung beban berat akibat minimnya pasokan air dari saluran irigasi maupun curah hujan.
Data dinas mencatat setidaknya 123 hektare sawah kini masuk zona merah kekeringan. Tanpa ketersediaan air yang cukup, tanaman padi mengalami perlambatan fase vegetatif sehingga mengancam fase pembuahan bulir padi.
Pompa Air Bergerak Selamatkan Produktivitas Gabah
Kelangkaan air langsung memukul potensi tonase gabah kering panen para petani. Saat kondisi normal dan pasokan air tercukupi, petani mampu memanen 5 hingga 6 ton gabah per hektare.
Kini, keterbatasan air memangkas proyeksi hasil panen hingga tersisa rata-rata 4 ton per hektare. Angka tersebut menjadi alarm nyata bagi stabilitas pasokan beras di tingkat lokal.
Menghadapi situasi ini, pemerintah kota segera mengerahkan bantuan alat dan mesin pertanian langsung ke petak-petak sawah warga. Petugas lapangan memprioritaskan distribusi pompa air guna menyedot sumber air terdekat menuju hamparan sawah yang mulai mengering.
Pemerintah berharap intervensi mekanisasi ini mampu menyelamatkan tanaman padi dari ancaman puso serta menjaga pendapatan petani.(ar)









