Jakarta, oegopost.id – Pasar keuangan global bergerak cepat setelah Partai Demokrat diproyeksikan menguasai DPR Amerika Serikat melalui Pemilu Sela. Kemenangan ini meredakan kecemasan politik investor, sekaligus memicu pergerakan besar pada nilai tukar mata uang dan komoditas utama dunia.
Perdagangan logam mulia langsung merespons kabar tersebut secara signifikan. Harga emas di pasar spot melonjak 3,4 persen hingga menyentuh angka 4.061,30 dolar AS per troy ounce. Pada saat yang sama, harga perak melonjak lebih tajam sebesar 5,1 persen ke level 52,29 dolar AS per ounce.
Tren serupa juga terjadi di pasar berjangka. Kontrak emas pengiriman terdekat ditutup naik 3,4 persen pada level 4.073 dolar AS per ounce, sedangkan kontrak perak berjangka menguat 5,1 persen menjadi 52,28 dolar AS per ounce.
Di sisi lain, indeks dolar AS melemah sekitar 0,3 persen dan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury yield) merosot. Kondisi ini memberi ruang bagi mata uang negara berkembang seperti rupiah untuk bergerak di kisaran Rp17.950 hingga Rp18.450 per dolar AS.
Dampak Hasil Pemilu AS Terhadap Kebijakan Ekonomi
Pasar saham AS justru menyambut positif kepastian politik ini dengan mencatatkan reli penguatan. Namun, dinamika di tingkat pemerintahan memperlihatkan potensi friksi baru antara lembaga eksekutif dan legislatif dalam pembahasan anggaran.
Kepala Analisis Pasar EMEA dan Asia StoneX, Rhona O’Connell, menilai pergeseran peta politik di Kongres berpotensi menekan imbal hasil obligasi dan memperlemah posisi dolar AS. Tarik-menarik kebijakan fiskal antara pemerintah dan DPR AS berisiko memunculkan ketidakpastian baru di pasar.
O’Connell menambahkan bahwa ketegangan geopolitik seperti konflik Iran dan pelemahan dolar AS akan berhadapan langsung dengan arah kebijakan bank sentral AS (The Fed). Pendekatan hawkish The Fed yang cenderung mempertahankan atau menaikkan suku bunga demi menekan inflasi tetap menjadi faktor penahan utama.
Stimulus fiskal yang diprediksi lebih kecil memang dapat menurunkan imbal hasil obligasi jangka panjang. Meski begitu, investor tetap memperhitungkan risiko batas utang jangka pendek serta potensi kenaikan suku bunga acuan berikutnya.
Tantangan Pemulihan Logam Mulia Sepanjang 2026
Lonjakan harga yang terjadi pada pertengahan minggu ini menjadi angin segar bagi investor emas dan perak. Sepanjang tahun 2026, kedua komoditas tersebut mengalami tekanan hebat akibat lonjakan inflasi, kenaikan suku bunga, dan pengetatan kebijakan moneter global.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan tren sepanjang tahun 2025. Kala itu, harga emas melesat 66 persen dan perak meroket hingga 135 persen karena investor memburu aset aman (safe haven) di tengah tingginya gejolak geopolitik.
Namun, sejak awal tahun 2026 hingga saat ini (year-to-date), harga emas tercatat masih terkoreksi lebih dari 6 persen. Sementara itu, akumulasi penurunan harga perak sudah menembus angka sekitar 26 persen.
Analis Pasar Senior Capital.com, Daniela Hathorn, mengingatkan bahwa tren pemulihan harga logam mulia masih tergolong rentan. Menurutnya, ketidakpastian geopolitik tidak selalu otomatis menggenjot permintaan aset aman jika pasar berada di bawah bayang-bayang kebijakan moneter yang ketat.
Hathorn juga menegaskan risiko aksi jual ketika pasar saham mengalami tekanan hebat. Dalam situasi tersebut, para pelaku pasar cenderung mencairkan aset yang paling likuid—termasuk emas dan perak—guna mengamankan dana tunai secara cepat.(ar)









