JAKARTA, Oegopost.id – Harga emas dunia menguat tajam pada penutupan perdagangan awal pekan ini. Rebound ini membawa logam mulia bangkit dari level terendah sepanjang tahun terakhir.
Penurunan harga minyak mentah menjadi katalis utama yang memberikan napas segar bagi pasar komoditas. Meredanya tekanan inflasi global langsung memicu aksi beli oleh para investor.
Mengutip data CNBC, harga emas spot melonjak 1,8 persen hingga menyentuh angka 3.943,62 dollar AS per ounce. Jalur kenaikan senada terjadi pada emas berjangka AS untuk pengiriman Desember 2026 yang menguat 1,8 persen ke level 3.969,60 dollar AS per ounce.
Langkah pemulihan ini berbalik arah dari tekanan hebat pada akhir pekan lalu. Pada perdagangan Jumat sebelumnya, emas spot sempat merosot 3,6 persen dan terlempar ke titik terendahnya sejak akhir tahun lalu.
Pendorong Utama Kenaikan Emas dan Meredanya Inflasi
Pasar menyambut positif kabar diplomasi di Timur Tengah yang meredam gejolak geopolitik. Pembicaraan intensif antara pejabat Iran dan Qatar selama tiga hari berturut-turut membuka peluang meredanya konflik, sehingga menekan harga minyak hingga 8 persen.
Anjloknya harga minyak mentah secara langsung mengurangi ancaman lonjakan inflasi global. Penurunan beban inflasi ini memberi ruang lega bagi pelaku pasar modal dan komoditas.
Selain faktor minyak, melandainya indeks dollar AS turut mengerek daya tarik emas. Pelemah mata uang Paman Sam membuat harga logam mulia jauh lebih murah bagi pemegang mata uang lain.
Meski demikian, bayang-bayang kebijakan moneter Bank Sentral AS (The Fed) tetap membayangi pasar. CME Group FedWatch Tool mencatat peluang kenaikan suku bunga AS pada Desember mendatang kini berada di angka 75 persen, sedikit turun dari posisi pekan lalu yang mencapai 80 persen.
Arah Kebijakan Fiskal AS dan Pergerakan Logam Mulia Lain
Fokus para pemodal kini tertuju pada penyelenggaraan Pemilihan Paruh Waktu AS (Midterm Election). Investor terus mencermati arah kebijakan fiskal dan dinamika geopolitik pasca-pemilu tersebut.
Namun, pengamat pasar menilai hasil pemilu tidak akan mengubah struktur mendasar ekonomi AS secara drastis. Defisit anggaran dan beban utang negara yang tebal diperkirakan tetap bertahan dalam jangka panjang.
Kondisi fiskal yang belum stabil ini justru menjadi pondasi kuat yang terus menopang nilai emas dalam jangka panjang. Logam mulia tetap memegang peran sentral sebagai aset pemelihara kekayaan saat ketidakpastian tinggi.
Tren positif perdagangan juga menulari komoditas logam mulia lainnya. Harga perak spot melesat 2,9 persen ke tingkat 50,54 dollar AS per ounce, sementara platinum spot naik 1,3 persen menjadi 1.449,70 dollar AS per ounce. Hanya palladium yang mencatat penurunan 1,1 persen ke posisi 965,91 dollar AS per ounce.(ar)









