Jakarta, oegopost.id – Nilai tukar Rupiah melemah Rp 17.601 dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan pada perdagangan Jumat (15/5/2026).
Mata uang Garuda melemah hingga menyentuh Rp17.601 per dolar AS, kondisi yang langsung memicu perhatian publik dan pelaku ekonomi.
Sejumlah kalangan akademisi menilai pelemahan ini tidak bisa dianggap sebagai gejolak sementara.
Mereka melihat adanya potensi dampak lanjutan terhadap harga kebutuhan pokok, terutama barang-barang yang masih bergantung pada impor.
Akademisi Ingatkan Dampak ke Harga Pangan
Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menyoroti dampak langsung pelemahan rupiah terhadap struktur harga di dalam negeri.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku penting seperti gandum dan kedelai.
Rahma menyampaikan bahwa pelemahan rupiah mulai mendorong kenaikan biaya produksi di tingkat produsen sejak akhir April 2026. Ia menilai kondisi ini kemudian akan merambat ke harga produk konsumsi sehari-hari.
Menurutnya, komoditas seperti mi instan, roti, tahu, dan tempe berpotensi mengalami kenaikan harga karena bahan bakunya berasal dari pasar internasional.
Ia juga menekankan bahwa kelompok masyarakat berpenghasilan rendah akan paling cepat merasakan dampaknya karena ketergantungan mereka pada pangan berbasis kedelai sebagai sumber protein murah.
Selain itu, ia memperkirakan kelas menengah juga akan menghadapi tekanan tambahan akibat meningkatnya biaya makan di luar rumah serta naiknya harga makanan olahan.
Pemerintah Menilai Ekonomi Masih Stabil
Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto merespons kekhawatiran tersebut dengan pandangan yang lebih optimistis.
Saat menghadiri peresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026), ia menegaskan bahwa kondisi ekonomi nasional masih berada dalam posisi yang kuat.
Prabowo menilai masyarakat tidak perlu terlalu terpengaruh oleh fluktuasi nilai tukar dolar.
Ia menekankan bahwa sebagian besar kebutuhan masyarakat di daerah tidak bergantung langsung pada mata uang asing.
Ia juga menyampaikan bahwa sektor pangan dan energi Indonesia masih berada dalam kondisi aman.
Karena itu, ia meminta publik tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang menggambarkan kondisi ekonomi Indonesia akan melemah drastis.
Indonesia Disebut Tetap Tangguh di Tengah Krisis Global
Prabowo juga menyoroti situasi ekonomi global yang menurutnya sedang menghadapi tekanan akibat konflik geopolitik dan gangguan rantai pasok.
Ia menyebut sejumlah negara mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan energi dan pangan.
Namun, ia mengklaim Indonesia justru menerima peningkatan permintaan ekspor dari berbagai negara.
Komoditas seperti pupuk dan beras disebut mengalami lonjakan permintaan dari sejumlah negara, termasuk Australia, India, Filipina, Bangladesh, dan Brasil.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian Indonesia masih memiliki daya saing yang kuat di pasar internasional.
Ia menilai ketahanan sektor riil ini menjadi salah satu penopang utama ekonomi nasional di tengah tekanan global.(ar)









