Jakarta, oegopost.id – Pada tahun 2025, Google Student Ambassador (GSA) melibatkan 800 mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Program ini mendorong peserta untuk memanfaatkan teknologi, terutama kecerdasan buatan (AI), dalam proses belajar, eksperimen, dan pengembangan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori teknologi, tetapi juga menggunakannya secara langsung untuk menyelesaikan persoalan nyata di lingkungan sekitar mereka.
Latar Belakang dan Inspirasi Dika
Syahdika Kurnia Azhari atau Dika, mahasiswa Teknik Elektro di Politeknik Negeri Medan, mengikuti GSA 2025 hingga berhasil menjadi Graduate. Sejak kecil, ia sudah mengenal kehidupan usaha kecil karena ibunya berjualan bakso. Pengalaman tersebut membentuk cara pandangnya terhadap kerja keras dan ketahanan usaha mikro.
Kisah keluarganya membuat Dika memahami bahwa sistem sederhana dapat bertahan dan berkembang jika dikelola dengan baik, meskipun menghadapi keterbatasan.
Perubahan Cara Belajar di Dunia Teknik
Saat kuliah, Dika mempelajari Teknik Elektro yang menekankan praktik seperti rangkaian listrik, sistem energi, dan pengujian perangkat. Awalnya, ia memandang bidang teknik hanya dari sisi fisik dan eksperimen langsung.
Namun, pandangannya berubah ketika ia mulai menggunakan Gemini dalam proses belajarnya. Ia mengembangkan ide lebih cepat, menyusun konsep dengan lebih rapi, dan memahami sistem teknis secara lebih menyeluruh melalui bantuan AI tersebut.
Dika juga menggunakan Gemini untuk mensimulasikan konsep sistem pengisian daya kendaraan listrik. Sebelumnya, ia hanya bisa mempelajari hal tersebut melalui perangkat lunak khusus, tetapi kini ia dapat mengeksplorasinya lebih fleksibel.
GSA Mendorong Ide Menjadi Solusi Nyata
Setelah bergabung dengan GSA, Dika mulai mengembangkan ide yang terinspirasi dari kehidupan keluarganya. Ia mengamati tantangan yang dihadapi perempuan pelaku usaha kecil dalam mengembangkan bisnis mereka.
Bersama timnya, ia kemudian membangun She Success di Sei Rotan. Aplikasi ini membantu perempuan wirausaha mengelola usaha, meningkatkan strategi bisnis, dan memperluas peluang pengembangan usaha mereka.
AI sebagai Alat Penguat Inovasi
Dika memanfaatkan Gemini sebagai alat pendukung untuk mempercepat proses berpikir dan eksplorasi ide. Ia tidak menggantikan praktik teknik dengan AI, tetapi menggabungkan keduanya untuk menciptakan pendekatan belajar yang lebih efektif.
Melalui GSA, ia juga memperoleh ruang untuk menguji ide dan mengubahnya menjadi solusi yang dapat digunakan oleh masyarakat secara nyata.
Dampak dan Makna Perjalanan Dika
Perjalanan Dika menunjukkan bahwa teknologi dapat menghubungkan dunia akademik dengan kebutuhan masyarakat. Ia membuktikan bahwa mahasiswa dapat memanfaatkan AI untuk menciptakan solusi yang relevan dan berdampak.
Kisahnya juga mencerminkan semangat GSA 2025, yaitu membuka peluang bagi talenta muda dari berbagai latar belakang untuk berkembang melalui teknologi.
GSA 2026 Hadir dengan Skala Lebih Besar
Melihat keberhasilan program sebelumnya, Google Student Ambassador akan kembali hadir pada tahun 2026. Program ini akan melibatkan 2.000 mahasiswa dari seluruh Indonesia dan memperluas dampaknya.
GSA 2026 akan terus mendorong mahasiswa agar tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga mampu menggunakannya untuk menyelesaikan tantangan nyata di masyarakat.
Kisah Dika membuktikan bahwa teknologi bukan sekadar alat inovasi, tetapi juga sarana pemberdayaan. Dengan memanfaatkan AI secara tepat, mahasiswa dapat mengubah ide sederhana menjadi solusi yang membawa perubahan nyata, baik di kampus maupun di masyarakat.***









