Kisah Dika di GSA 2025: Dari Praktik Teknik ke Inovasi Berbasis AI

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 24 April 2026 - 14:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kisah Dika di Google Student Ambassador 2025 menunjukkan bagaimana AI membantu mahasiswa menciptakan inovasi nyata dari kampus hingga masyarakat.( Poto : Tril Polmed )

Kisah Dika di Google Student Ambassador 2025 menunjukkan bagaimana AI membantu mahasiswa menciptakan inovasi nyata dari kampus hingga masyarakat.( Poto : Tril Polmed )

Jakarta, oegopost.id – Pada tahun 2025, Google Student Ambassador (GSA) melibatkan 800 mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Program ini mendorong peserta untuk memanfaatkan teknologi, terutama kecerdasan buatan (AI), dalam proses belajar, eksperimen, dan pengembangan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori teknologi, tetapi juga menggunakannya secara langsung untuk menyelesaikan persoalan nyata di lingkungan sekitar mereka.

Latar Belakang dan Inspirasi Dika

Syahdika Kurnia Azhari atau Dika, mahasiswa Teknik Elektro di Politeknik Negeri Medan, mengikuti GSA 2025 hingga berhasil menjadi Graduate. Sejak kecil, ia sudah mengenal kehidupan usaha kecil karena ibunya berjualan bakso. Pengalaman tersebut membentuk cara pandangnya terhadap kerja keras dan ketahanan usaha mikro.

Kisah keluarganya membuat Dika memahami bahwa sistem sederhana dapat bertahan dan berkembang jika dikelola dengan baik, meskipun menghadapi keterbatasan.

Perubahan Cara Belajar di Dunia Teknik

Saat kuliah, Dika mempelajari Teknik Elektro yang menekankan praktik seperti rangkaian listrik, sistem energi, dan pengujian perangkat. Awalnya, ia memandang bidang teknik hanya dari sisi fisik dan eksperimen langsung.

Baca Juga :  Fakultas Humaniora UBR Jambi Menandatangani MoU Bersama FPIS INISMA Jambi

Namun, pandangannya berubah ketika ia mulai menggunakan Gemini dalam proses belajarnya. Ia mengembangkan ide lebih cepat, menyusun konsep dengan lebih rapi, dan memahami sistem teknis secara lebih menyeluruh melalui bantuan AI tersebut.

Dika juga menggunakan Gemini untuk mensimulasikan konsep sistem pengisian daya kendaraan listrik. Sebelumnya, ia hanya bisa mempelajari hal tersebut melalui perangkat lunak khusus, tetapi kini ia dapat mengeksplorasinya lebih fleksibel.

GSA Mendorong Ide Menjadi Solusi Nyata

Setelah bergabung dengan GSA, Dika mulai mengembangkan ide yang terinspirasi dari kehidupan keluarganya. Ia mengamati tantangan yang dihadapi perempuan pelaku usaha kecil dalam mengembangkan bisnis mereka.

Bersama timnya, ia kemudian membangun She Success di Sei Rotan. Aplikasi ini membantu perempuan wirausaha mengelola usaha, meningkatkan strategi bisnis, dan memperluas peluang pengembangan usaha mereka.

AI sebagai Alat Penguat Inovasi

Dika memanfaatkan Gemini sebagai alat pendukung untuk mempercepat proses berpikir dan eksplorasi ide. Ia tidak menggantikan praktik teknik dengan AI, tetapi menggabungkan keduanya untuk menciptakan pendekatan belajar yang lebih efektif.

Baca Juga :  Royalti Karya Jurnalistik Dinilai Penting untuk Menjaga Kedaulatan Digital Indonesia

Melalui GSA, ia juga memperoleh ruang untuk menguji ide dan mengubahnya menjadi solusi yang dapat digunakan oleh masyarakat secara nyata.

Dampak dan Makna Perjalanan Dika

Perjalanan Dika menunjukkan bahwa teknologi dapat menghubungkan dunia akademik dengan kebutuhan masyarakat. Ia membuktikan bahwa mahasiswa dapat memanfaatkan AI untuk menciptakan solusi yang relevan dan berdampak.

Kisahnya juga mencerminkan semangat GSA 2025, yaitu membuka peluang bagi talenta muda dari berbagai latar belakang untuk berkembang melalui teknologi.

GSA 2026 Hadir dengan Skala Lebih Besar

Melihat keberhasilan program sebelumnya, Google Student Ambassador akan kembali hadir pada tahun 2026. Program ini akan melibatkan 2.000 mahasiswa dari seluruh Indonesia dan memperluas dampaknya.

GSA 2026 akan terus mendorong mahasiswa agar tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga mampu menggunakannya untuk menyelesaikan tantangan nyata di masyarakat.

Kisah Dika membuktikan bahwa teknologi bukan sekadar alat inovasi, tetapi juga sarana pemberdayaan. Dengan memanfaatkan AI secara tepat, mahasiswa dapat mengubah ide sederhana menjadi solusi yang membawa perubahan nyata, baik di kampus maupun di masyarakat.***

Follow WhatsApp Channel oegopost.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

SPI Pendidikan 2026 Naik: KPK Soroti Dana BOS dan Joki Skripsi
Kepala SMAN Titian Teras Jambi Ungkap Duduk Perkara Kasus Pengeroyokan Siswa
Dari Intimidasi Guru Hingga Penganiayaan Siswa: Rapor Merah Pendidikan Jambi
Siswa MTsN 1 Kota Sungai Penuh Siap Raih Prestasi di OMI Provinsi Jambi 2026
Pemkab Tebo Raih Rp1 Triliun dari Pusat untuk Pendidikan
KEMORI Peduli UNJA 2026 Sambut Mahasiswa Baru Melalui Kegiatan Kepramukaan
UNJA Dorong Riset Digital Lewat Workshop PIPS FKIP
Tiga Tim PPK Ormawa UNJA Lolos Verifikasi Abdidaya 2026
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:28 WIB

SPI Pendidikan 2026 Naik: KPK Soroti Dana BOS dan Joki Skripsi

Rabu, 7 Oktober 2026 - 06:49 WIB

Kepala SMAN Titian Teras Jambi Ungkap Duduk Perkara Kasus Pengeroyokan Siswa

Selasa, 6 Oktober 2026 - 07:03 WIB

Dari Intimidasi Guru Hingga Penganiayaan Siswa: Rapor Merah Pendidikan Jambi

Minggu, 4 Oktober 2026 - 09:32 WIB

Siswa MTsN 1 Kota Sungai Penuh Siap Raih Prestasi di OMI Provinsi Jambi 2026

Kamis, 1 Oktober 2026 - 09:22 WIB

Pemkab Tebo Raih Rp1 Triliun dari Pusat untuk Pendidikan

Berita Terbaru

Ilustrasi Pegadaian.(poto: istimewa).

Ekonomi

Pegadaian Luncurkan Gadai Bebas Sewa Modal Tanpa Bunga

Kamis, 8 Okt 2026 - 13:37 WIB