Jakarta, oegopost.id – Sejumlah dosen di perguruan tinggi melaporkan penurunan kemampuan membaca pada mahasiswa Generasi Z. Mereka menilai banyak mahasiswa kesulitan memahami teks akademik yang panjang dan kompleks. Kondisi ini membuat proses perkuliahan berjalan lebih lambat dari standar yang seharusnya.
Mahasiswa Lebih Terbiasa Konten Cepat
Dosen mengamati bahwa mahasiswa lebih sering mengonsumsi informasi dari media sosial berbentuk video pendek dan ringkasan instan. Kebiasaan tersebut membuat mahasiswa jarang melatih kemampuan membaca mendalam. Akibatnya, mereka kesulitan ketika harus menghadapi bacaan akademik yang membutuhkan fokus tinggi.
Untuk menyesuaikan kondisi tersebut, sejumlah dosen mengubah metode pengajaran di kelas. Mereka membacakan materi secara langsung dan menjelaskan isi teks secara bertahap. Langkah ini mereka lakukan agar mahasiswa tetap dapat mengikuti materi perkuliahan dengan baik.
Sistem Pendidikan dan Teknologi Jadi Sorotan
Pengamat pendidikan menilai perubahan pola belajar ini tidak lepas dari pengaruh sistem pendidikan dan perkembangan teknologi. Mereka menyoroti meningkatnya ketergantungan mahasiswa pada ringkasan digital dan alat bantu berbasis teknologi. Kondisi ini dinilai dapat mengurangi kemampuan berpikir kritis jika tidak diimbangi dengan latihan membaca.
Fenomena ini memunculkan kekhawatiran terhadap kualitas literasi generasi muda di masa depan. Para pendidik mendorong mahasiswa untuk kembali membiasakan diri membaca teks panjang secara mandiri. Mereka juga menekankan pentingnya keseimbangan antara teknologi dan kemampuan dasar membaca.***








