Lulusan Guru Membludak, Pemerintah Evaluasi Arah Pendidikan Tinggi

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 24 April 2026 - 12:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengungkapkan bahwa lembaga pendidikan setiap tahun menghasilkan ratusan ribu lulusan kependidikan.( Poto : detikbali/ fabiola Dianira ).

Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengungkapkan bahwa lembaga pendidikan setiap tahun menghasilkan ratusan ribu lulusan kependidikan.( Poto : detikbali/ fabiola Dianira ).

Jakarta, oegopost.idKementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menyoroti fenomena lulusan guru membludak di Indonesia yang tidak sebanding dengan kebutuhan dunia kerja. Kondisi ini dinilai berpotensi menimbulkan ketidakseimbangan tenaga kerja di sektor pendidikan.

Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengungkapkan bahwa lembaga pendidikan setiap tahun menghasilkan ratusan ribu lulusan kependidikan. Namun, dunia kerja hanya membuka peluang terbatas bagi tenaga pengajar baru.

Ia menjelaskan bahwa dari sekitar 490.000 lulusan keguruan per tahun, hanya sekitar 20.000 yang terserap sebagai guru maupun tenaga pendidikan anak usia dini. Kondisi ini memicu lonjakan jumlah lulusan yang belum mendapatkan pekerjaan.

Ancaman Pengangguran Terdidik

Kesenjangan antara jumlah lulusan dan kebutuhan tenaga kerja membuat ratusan ribu sarjana berisiko menganggur setiap tahun. Situasi ini berkontribusi pada meningkatnya angka pengangguran terdidik di Indonesia.

Badri menegaskan bahwa masalah ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut karena dapat menghambat pemanfaatan bonus demografi. Ia menilai sistem pendidikan harus segera beradaptasi agar lebih relevan dengan kebutuhan masa depan.

Baca Juga :  Warkop Banda Aceh Penuh Saat Listrik Padam Total

Potensi Kelebihan Dokter pada 2028

Selain sektor pendidikan, pemerintah juga mencermati potensi kelebihan tenaga medis. Badri memperkirakan Indonesia bisa mengalami kelebihan jumlah dokter pada 2028 jika tren saat ini terus berlanjut.

Ia juga menyoroti ketimpangan distribusi tenaga kesehatan yang masih terjadi di berbagai daerah. Beberapa wilayah kekurangan dokter, sementara daerah lain justru berpotensi mengalami kelebihan tenaga medis.

Perguruan Tinggi Masih Ikuti Tren Pasar

Menurut Badri, banyak perguruan tinggi masih membuka program studi berdasarkan minat pasar yang sedang populer. Pendekatan ini mendorong kampus untuk mengejar jumlah mahasiswa tanpa mempertimbangkan kebutuhan jangka panjang. Fenomena lulusan guru membludak ini terjadi karena perguruan tinggi terus menghasilkan ratusan ribu lulusan kependidikan setiap tahun, sementara daya serap pasar kerja sangat terbatas.

Akibatnya, sejumlah bidang mengalami kelebihan lulusan karena tidak diimbangi dengan permintaan tenaga kerja yang memadai.

Dorongan Strategi Baru: Market-Driving

Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah mendorong perubahan strategi pendidikan tinggi. Kemdiktisaintek ingin perguruan tinggi mulai menerapkan pendekatan market-driving, yaitu menyesuaikan program studi dengan kebutuhan industri masa depan.

Baca Juga :  Konflik Universitas Batanghari: Sengketa Yayasan Berujung Perebutan Kendali Kampus

Pemerintah juga menyiapkan konsep pembelajaran interdisipliner. Mahasiswa nantinya dapat mengombinasikan jurusan utama dengan bidang pendukung, seperti teknik dengan manajemen atau kedokteran dengan pengelolaan rumah sakit dan logistik kesehatan.

Peran Kajian dan Kolaborasi

Pemerintah mengharapkan dukungan dari berbagai pihak dalam menyusun kebijakan pendidikan yang lebih tepat sasaran. Salah satu yang berperan penting adalah Panitia Teknis Pendidikan Kedokteran melalui kajian strategis di bidang kesehatan.

Melalui kolaborasi ini, pemerintah ingin memastikan kebijakan yang diambil mampu menjawab tantangan ketenagakerjaan sekaligus memanfaatkan bonus demografi secara optimal.

Menuju Indonesia 2045

Kemdiktisaintek menargetkan sistem pendidikan tinggi yang lebih adaptif dan relevan dengan perkembangan zaman. Pemerintah berharap langkah ini dapat menciptakan lulusan yang siap kerja dan mendukung visi Indonesia maju pada 2045.***

Follow WhatsApp Channel oegopost.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Royalti Karya Jurnalistik Dinilai Penting untuk Menjaga Kedaulatan Digital Indonesia
Demo Mahasiswa UI di Bundaran HI Hari Ini, Bawa 5 Tuntutan ke Pemerintah
Ombudsman Soroti Maladministrasi Layanan Imigrasi WNA, Desak Perbaikan Sistem Pengaduan di Imipas
Gaji ke-13 Cair Rp15,2 Triliun, Ini Rincian Penerima PNS, TNI, Polri hingga PPPK
Kejagung Geledah Kantor BGN Usai Dadan Hindayana Dicopot dari Jabatan
Indomaret Tutup Sementara di Sejumlah Daerah, Warganet Soroti Penyebabnya
Kemnaker Buka 24 Kejuruan Vokasi Tahap 2, Pendaftaran Dibuka
Ekspor Sawit, Batu Bara, dan Ferro Alloy Wajib Lewat PT DSI Mulai 1 Juni 2026
Berita ini 22 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 27 Juni 2026 - 18:51 WIB

Royalti Karya Jurnalistik Dinilai Penting untuk Menjaga Kedaulatan Digital Indonesia

Jumat, 12 Juni 2026 - 09:59 WIB

Demo Mahasiswa UI di Bundaran HI Hari Ini, Bawa 5 Tuntutan ke Pemerintah

Jumat, 12 Juni 2026 - 05:00 WIB

Ombudsman Soroti Maladministrasi Layanan Imigrasi WNA, Desak Perbaikan Sistem Pengaduan di Imipas

Rabu, 10 Juni 2026 - 16:00 WIB

Gaji ke-13 Cair Rp15,2 Triliun, Ini Rincian Penerima PNS, TNI, Polri hingga PPPK

Rabu, 3 Juni 2026 - 13:00 WIB

Kejagung Geledah Kantor BGN Usai Dadan Hindayana Dicopot dari Jabatan

Berita Terbaru