Jambi, oegopost.id – Tingginya jumlah perokok aktif, terutama di kalangan remaja, masih menjadi persoalan serius di Jambi. Berbagai peringatan bergambar pada bungkus rokok belum mampu menghentikan kebiasaan ini. Banyak orang tetap mengabaikan risiko dan terus merokok seolah hal tersebut tidak berbahaya.
Rokok mengandung lebih dari 7.000 zat kimia berbahaya. Di dalamnya terdapat nikotin, tar, dan karbon monoksida yang dapat merusak tubuh. Zat-zat ini meningkatkan risiko kanker paru-paru, penyakit jantung, serta gangguan pernapasan kronis. Dampaknya tidak hanya menyerang perokok aktif, tetapi juga membahayakan orang di sekitarnya.
Perokok pasif, termasuk anak-anak dan ibu hamil, ikut menghirup asap beracun. Kondisi ini memperbesar risiko gangguan kesehatan sejak dini, bahkan dapat memicu penyakit serius dalam jangka panjang.
Dosen Promosi Kesehatan Poltekkes Kemenkes Jambi, Ary Irfan, menyatakan bahwa lingkungan dan rendahnya pemahaman masyarakat menjadi penyebab utama sulitnya menekan angka perokok. Ia menilai banyak orang masih menganggap merokok sebagai kebiasaan biasa, padahal dampaknya sangat berbahaya.
Remaja Jadi Kelompok Paling Rentan
Remaja menjadi kelompok yang paling mudah terpengaruh. Tekanan dari teman sebaya dan paparan media mendorong rasa penasaran untuk mencoba rokok. Banyak remaja akhirnya mulai merokok tanpa memahami risiko jangka panjang yang mereka hadapi.
Padahal, masa remaja merupakan fase penting dalam pertumbuhan tubuh. Ketika zat beracun masuk ke dalam tubuh, organ-organ vital yang sedang berkembang dapat mengalami kerusakan. Dalam banyak kasus, kerusakan tersebut bersifat permanen dan sulit diperbaiki.
Upaya Pencegahan Belum Maksimal
Pemerintah sebenarnya telah mengambil berbagai langkah untuk menekan angka perokok. Mereka menerapkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan menggelar kampanye kesehatan di sekolah-sekolah. Namun, upaya ini belum memberikan hasil optimal.
Rendahnya kesadaran individu menjadi hambatan utama. Banyak orang belum memiliki keinginan kuat untuk berhenti merokok, sehingga program pencegahan tidak berjalan efektif. Keluarga memegang peran penting dalam mencegah anak merokok sejak dini. Orang tua perlu memberikan contoh dengan tidak merokok di rumah. Selain itu, mereka harus membangun kebiasaan hidup sehat dalam lingkungan keluarga.
Lingkungan yang sehat dapat membantu anak menjauhi rokok. Sebaliknya, lingkungan yang permisif justru mendorong anak untuk mencoba kebiasaan tersebut.
Perlu Kerja Sama Semua Pihak
Upaya mengurangi jumlah perokok tidak bisa bergantung pada pemerintah saja. Tenaga pendidik, masyarakat, dan pemerintah daerah harus bekerja sama. Mereka perlu menciptakan lingkungan yang bebas asap rokok dan mendukung gaya hidup sehat. Kesadaran bersama menjadi kunci utama. Jika semua pihak mengambil tindakan nyata, maka kualitas hidup generasi muda Jambi dapat terjaga dengan lebih baik.***









