Tanjab Barat, oegopost.id – Majelis Ulama Indonesia (Majelis Ulama Indonesia) Kabupaten Tanjung Jabung Barat langsung membahas polemik penampilan DJ perempuan yang tampil di salah satu tempat hiburan di Kuala Tungkal. Isu ini muncul setelah penampilan Disk Jockey perempuan di Cafe Oris memicu perhatian masyarakat.
Masyarakat memperdebatkan penampilan tersebut karena sebagian pihak menilai gaya tampilnya tidak sesuai dengan norma sosial setempat. Kondisi ini membuat isu tersebut cepat menyebar di ruang publik.
Ketua MUI Tanjabbar pilih menunggu hasil rapat
Ketua MUI Tanjung Jabung Barat, Prof. Dr. Ahmad Syukri, MA, menegaskan bahwa dirinya belum memberikan pernyataan resmi terkait persoalan tersebut. Ia memilih menunggu hasil pembahasan internal sebelum menyampaikan sikap lembaga.
“Untuk sementara saya belum bisa memberikan komentar tentang masalah ini,” ujarnya saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa MUI Tanjabbar ingin menjaga kehati-hatian dalam menyikapi isu yang berkembang di masyarakat.
MUI Tanjabbar gelar rapat internal malam ini
MUI Tanjabbar menggelar rapat internal pada Minggu (14/6/2026) malam untuk membahas persoalan tersebut secara menyeluruh. Pengurus MUI akan mengumpulkan berbagai pandangan sebelum menentukan sikap resmi lembaga.
Ahmad Syukri menjelaskan bahwa rapat tersebut menjadi ruang utama untuk menyatukan pendapat para pengurus di daerah. Ia menekankan pentingnya proses musyawarah sebelum MUI mengambil keputusan.
MUI Tanjabbar juga mengumpulkan masukan dari pengurus di lapangan untuk memperkuat dasar pertimbangan. Ahmad Syukri menyebut informasi dari daerah menjadi bagian penting dalam proses pengambilan sikap.
Ia menegaskan bahwa MUI tidak akan terburu-buru dalam menyampaikan keputusan. “Karena perlu mendengarkan masukan dari pengurus MUI di lapangan dan insya Allah akan disampaikan setelah rapat internal malam ini,” katanya.
Isu penampilan DJ perempuan di Cafe Oris Kuala Tungkal menarik perhatian masyarakat luas. Sebagian warga menyampaikan kritik karena menilai penampilan tersebut tidak sesuai dengan norma lokal.
Namun, sebagian warga lain meminta agar masyarakat menyikapi persoalan ini dengan lebih proporsional. Perbedaan pandangan tersebut membuat isu ini terus menjadi perbincangan di ruang publik.
Masyarakat kini menunggu hasil rapat MUI Tanjabbar sebagai lembaga yang memiliki peran dalam memberikan pandangan keagamaan dan moral. MUI menjadi rujukan penting dalam menyikapi isu sosial yang berkembang di daerah.
Hingga saat ini, MUI Tanjabbar belum mengumumkan keputusan resmi terkait hasil pembahasan internal tersebut. Lembaga itu masih merampungkan proses musyawarah sebelum menyampaikan sikap ke publik.
MUI Tanjabbar masih memproses pembahasan internal terkait polemik tersebut dan belum mengeluarkan keputusan resmi. Publik menunggu langkah lanjutan yang akan diumumkan setelah rapat selesai.(ar)









