Muaro Jambi, oegopost.id – Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah mulai memetakan desa rawan kekeringan Muaro Jambi demi mengantisipasi dampak buruk musim kemarau tahun ini. Langkah ini menjadi fokus utama pemerintah daerah dalam menjaga ketersediaan pasokan air bersih bagi seluruh warga pemukiman.
Melalui pendataan terbaru, tim membagi pemetaan wilayah terdampak ke dalam sembilan kecamatan yang berada di seluruh penjuru Kabupaten Muaro Jambi. Langkah cepat ini sekaligus menandai kesiapan petugas dalam menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi kering yang kerap melanda daerah tersebut.
BPBD Muaro Jambi Mulai Memetakan Wilayah Rawan Kekeringan
Hasil pemetaan awal menunjukkan bahwa sedikitnya 45 desa masuk dalam daftar wilayah rawan kekeringan di Kabupaten Muaro Jambi. Sembilan kecamatan tersebut meliputi Mestong, Bahar Selatan, Bahar Utara, Kumpeh Ulu, Sungai Gelam, Kumpeh, Taman Rajo, Maro Sebo, dan Jaluko.
Sementara itu, pihak BPBD belum memasukkan Kecamatan Sungai Bahar dan Sekernan ke dalam daftar wilayah rawan hingga saat ini. Petugas terus memantau perkembangan kondisi cuaca harian di dua lokasi tersebut guna mengantisipasi perubahan data lapangan secara mendadak.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Muaro Jambi, Anari Hasiholan Sitorus, menegaskan bahwa status ini murni merupakan hasil pemetaan potensi awal. Menurutnya, penetapan wilayah rawan tersebut bukan berarti desa-desa tersebut sudah langsung mengalami krisis air saat ini.
“Ini merupakan daerah yang dipetakan sebagai wilayah rawan kekeringan saat musim kemarau, bukan berarti sudah terdampak,” kata Anari menegaskan kondisi lapangan saat ini.
Pemerintah Daerah Menyiapkan Armada Mobil Tangki Air Bersih
Anari menjelaskan bahwa pemetaan ini menjadi langkah antisipasi awal agar tim BPBD dapat menyalurkan bantuan secara lebih cepat. Kesiapsiagaan personil menjadi kunci utama dalam merespons setiap keluhan warga terkait ketersediaan pasokan air bersih di pemukiman.
BPBD Muaro Jambi juga telah menyiapkan langkah penanganan darurat apabila ada wilayah yang mulai kesulitan mendapat air bersih. Salah satu bentuk aksi nyatanya, yaitu menyalurkan bantuan pasokan air bersih secara gratis menggunakan armada mobil tangki langsung ke pemukiman.
Namun, Anari menyampaikan bahwa petugas hanya menyalurkan bantuan air bersih berdasarkan permohonan resmi dari Pemerintah Desa setempat. Mekanisme administrasi ini bertujuan agar distribusi bantuan berjalan tepat sasaran serta terdata secara rapi oleh petugas lapangan.
Pihak BPBD mengimbau seluruh Pemerintah Desa dan masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau ini berlangsung. Warga perlu segera melaporkan penurunan debit air di sumur pemukiman agar petugas bisa langsung mengambil tindakan darurat.
Masyarakat Perlu Menghemat Air Selama Musim Kemarau Berlangsung
Di samping itu, Anari meminta seluruh lapisan masyarakat untuk lebih bijak serta menghemat penggunaan air bersih dalam kehidupan sehari-hari. Imbauan ini menjadi langkah pencegahan mandiri yang sangat efektif untuk memperpanjang ketersediaan cadangan air keluarga di rumah.
“Apabila ada desa yang membutuhkan suplai air bersih, silakan mengajukan permohonan melalui Pemerintah Desa kepada BPBD Muaro Jambi,” ujar Anari memberikan arahan langsung.
Selanjutnya, setelah menerima laporan dan pengajuan resmi dari desa, tim BPBD akan langsung menerjunkan petugas untuk melakukan verifikasi lapangan. Petugas akan segera menyalurkan bantuan air bersih secara terukur sesuai dengan tingkat kebutuhan riil warga di lokasi terdampak.
Kerja sama yang baik antara masyarakat, pemerintah desa, dan BPBD Muaro Jambi diharapkan mampu meminimalkan dampak buruk dari bencana kekeringan ini. Pengawasan secara berkala terus berlangsung demi memastikan pasokan air untuk kebutuhan harian warga tetap terpenuhi secara aman.(ar)









