Orang Rimba Beralih ke Kebun, Cara Baru Jaga Pangan di TNBD

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 27 Mei 2026 - 15:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tumenggung Nyenong (73) tahun( Poto : ATARA )

Tumenggung Nyenong (73) tahun( Poto : ATARA )

Jambi, oegopost.id – Di kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD), Jambi, ketahanan pangan Orang Rimba kini perlahan berubah.

Mereka mulai meninggalkan ketergantungan penuh pada hutan dan beralih ke kebun agroforestri untuk memastikan makanan tetap tersedia sepanjang tahun.

Kehidupan di Sungai Terap

Di Sungai Terap, Desa Jelutih, Batang Hari, kehidupan Orang Rimba masih sangat dekat dengan alam. Di antara pepohonan, sudung-sudung berdiri sederhana tanpa pola rapi.

Tumenggung Nyenong (73) menyambut tamu dengan tenang. Di bawah sudung, ia menunjukkan umbi-umbian hasil kebun yang jadi stok pangan keluarga.

“Kalau ada ubi, kami makan ubi. Kalau ada beras, ya kami makan beras,” katanya.

Umbi itu bukan sekadar makanan, tapi cadangan penting saat musim sulit. Jenisnya beragam, dari umbi ketan sampai umbi kelapa, semua ditanam di sekitar permukiman.

Agroforestri sebagai Harapan Baru

Perlahan, pola hidup mulai bergeser. Orang Rimba kini mengenal agroforestri, yaitu menanam berbagai tanaman dalam satu lahan. Mulai dari singkong, durian, mangga, hingga petai dan pinang.

Tumenggung Nyenong menyebut perubahan ini penting karena mereka masih menjalankan tradisi melangun, yaitu berpindah tempat setelah ada keluarga yang meninggal.

Baca Juga :  Angka Ketidakcukupan Pangan Sungai Penuh Tertinggi di Jambi 2025

“Tradisi melangun tetap kami pertahankan. Itu adat yang tidak bisa hilang,” ujarnya.

Dengan kebun, mereka tetap punya sumber pangan saat kembali dari melangun tanpa harus memulai dari nol.

Hal serupa dilakukan Tumenggung Ngelembo (53). Ia mengelola kebun bantuan bibit dan mulai belajar bertani meski banyak tanaman mati akibat cuaca ekstrem.

“Kendalanya banyak, ini masih tahap belajar,” katanya.

Tantangan Ekonomi Sehari-hari

Selain kebun, sebagian keluarga juga mendapat lahan karet dari kerja sama dengan perusahaan HTI. Namun, hasilnya belum cukup untuk kebutuhan harian.

Nyerban (37) mengaku penghasilan dari karet masih rendah. Ia harus menambah dengan menanam cabai dan talas.

“Dari karet belum cukup. Jadi kami cari tambahan lain,” ujarnya.

Di Sako Selenseng, Sarolangun, kondisi serupa juga terjadi. Basmen (63) mengelola kebun pinang, alpukat, dan rambutan, tetapi harga pinang yang rendah membuat hasilnya tidak stabil.

“Kalau 20 kilogram cuma Rp8.000 per kilo, ya masih kecil hasilnya,” katanya.

Ia tetap berburu di hutan sebagai pelengkap hidup, meski tidak selalu mudah menemukan hewan buruan seperti dulu.

Pendampingan KKI Warsi

Perubahan ini tidak lepas dari peran pendampingan Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi. Sejak 2018, mereka mendorong penguatan agroforestri di komunitas Orang Rimba.

Baca Juga :  Pangdam XX/TIB dan Gubernur Jambi Sukses Gelar Panen Raya Padi Serentak Nasional Virtual

Pendampingan dilakukan lewat pemberian bibit, pelatihan bertani, hingga pembentukan kader lokal. Salah satunya kader pertanian di Bukit Suban yang membantu distribusi bibit dan pembuatan pupuk organik.

Project Officer KKI Warsi, Jauharul Maknun, menyebut pendekatan ini penting untuk menjaga keseimbangan antara adat dan kebutuhan ekonomi.

“Kami ingin mereka tetap hidup sesuai adat, tapi juga punya ketahanan pangan yang lebih kuat,” ujarnya.

Data Warsi mencatat ada sekitar 228 kepala keluarga Orang Rimba di wilayah TNBD bagian timur dan selatan yang kini mulai mengembangkan pola ini.

Menjaga Adat, Menjaga Pangan

Meski mulai bertani, Orang Rimba tidak sepenuhnya meninggalkan tradisi lama. Berburu masih dilakukan, dan melangun tetap dijalankan sebagai bagian dari adat.

Namun kini, kebun menjadi “pegangan baru” saat kondisi alam berubah. Dari umbi di kolong sudung hingga pinang di kebun agroforestri, semuanya menjadi bagian dari upaya menjaga hidup tetap berjalan.

Perlahan, ketahanan pangan Orang Rimba tidak lagi hanya bergantung pada hutan, tetapi juga pada lahan yang mereka kelola sendiri.(ar)

Follow WhatsApp Channel oegopost.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kemenkum Jambi Turun Langsung Cicipi Kopi Arabika Kerinci
Hari Bakti Adhyaksa Tebo: Bupati Dorong Penegakan Hukum Humanis
UIN Jambi Gelar Pelatihan Bendahara demi Perkuat Tata Kelola Keuangan
Banggar DPRD dan TAPD Jambi Sepakat Batalkan Anggaran Rp57 Miliar
Kanwil Kemenkum Jambi Perkuat Tata Kelola dan Pelayanan Publik
Satgas Karhutla Jambi Perkuat Mitigasi Hadapi Puncak Kemarau 2026
Polda Jambi Usut Kasus Kematian Anggota Polri di Tanjab Timur
Kecelakaan Mahasiswa Baru UNJA: Duka Mendalam Civitas Akademika Universitas Jambi
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 23 Juli 2026 - 08:15 WIB

Kemenkum Jambi Turun Langsung Cicipi Kopi Arabika Kerinci

Kamis, 23 Juli 2026 - 07:00 WIB

Hari Bakti Adhyaksa Tebo: Bupati Dorong Penegakan Hukum Humanis

Kamis, 23 Juli 2026 - 04:00 WIB

UIN Jambi Gelar Pelatihan Bendahara demi Perkuat Tata Kelola Keuangan

Rabu, 22 Juli 2026 - 22:00 WIB

Banggar DPRD dan TAPD Jambi Sepakat Batalkan Anggaran Rp57 Miliar

Rabu, 22 Juli 2026 - 16:00 WIB

Kanwil Kemenkum Jambi Perkuat Tata Kelola dan Pelayanan Publik

Berita Terbaru

Pengawasan Kopi Kerinci Jambi oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum Jambi berlangsung unik di Kabupaten Kerinci pada Rabu (22/7/2026).(poto: jamberita.com).

Bisnis

Kemenkum Jambi Turun Langsung Cicipi Kopi Arabika Kerinci

Kamis, 23 Jul 2026 - 08:15 WIB

Workshop penguatan sistem pengukuran Capaian Pembelajaran Lulusan serta finalisasi penerapan kurikulum berbasis OBE UNJA pada Senin (20/7/2026).(poto: jamberita.com).

Pendidikan

Pascasarjana UNJA Mantapkan Pengukuran CPL dan Kurikulum OBE

Kamis, 23 Jul 2026 - 02:30 WIB