Misteri Penyadapan Presiden Prabowo: Mengapa Nama Gibran Absen?

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 4 November 2026 - 15:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Listiyo Sigit Prabowo dan mantan Presiden Joko widodo.(poto; ist).

Listiyo Sigit Prabowo dan mantan Presiden Joko widodo.(poto; ist).

Jakarta, oegopost.id – Dunia politik tanah air geger setelah Bareskrim Polri membongkar kasus penyadapan ilegal dan akses tanpa izin yang menjerat mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Tim penyidik menemukan bahwa operasi gelap ini berlangsung sepanjang kurun waktu 2025 hingga 2026 dengan memanfaatkan sistem Lawful Interception Management System (LIMS).

Kabareskrim Polri Komjen Pol. Asep Safrudin membeberkan deretan target yang masuk dalam radas peretasan tersebut. Para perwira tinggi yang terlibat menyasar pejabat strategis negara, mulai dari Presiden Prabowo Subianto, Menteri Pertahanan, hingga Kepala BIN. Selain pejabat ring satu, operasi ini juga membidik pimpinan partai politik, tokoh masyarakat, aktivis LSM, insan media, dan pengusaha nasional.

Namun, penyidikan Bareskrim menemukan satu fakta mengejutkan di tengah riuhnya pengusutan kasus ini. Nama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sama sekali tidak terdaftar sebagai korban penyadapan maupun akses ilegal tersebut.

Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, membenarkan temuan tersebut. Pihaknya mengaku belum menerima laporan yang mengindikasikan bahwa sang Wakil Presiden ikut menjadi korban pengintaian para tersangka.

Baca Juga :  Pemerintah Hentikan Wacana “War Tiket Haji” Sementara

Spekulasi Arah Politik dan Isu Pemakzulan

Tidak masuknya nama Gibran dalam daftar sasaran LIMS ilegal langsung memicu beragam spekulasi politik. Banyak pihak menilai operasi terstruktur ini memiliki rancangan khusus untuk memetakan kekuatan politik di luar lingkaran kekuasaan tertentu.

Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu, menyampaikan kecurigaannya melalui media sosial. Ia menduga aksi kelompok tersebut bukan sekadar pelanggaran prosedur internal Polri, melainkan ada pesanan dari kelompok kepentingan tertentu yang ia sebut sebagai “Geng SOP” (Solo, Oligarki, dan Parcok).

Said Didu mengaitkan kasus ini dengan rekaman pidato lama Presiden ke-7 RI Joko Widodo pada September 2023 yang mengaku memegang data intelijen lengkap parpol. Menurutnya, hasil penyadapan terhadap Presiden Prabowo dan pejabat lain diduga kuat mengalir ke pihak luar untuk mengunci peta kekuatan politik rezim yang sedang berjalan.

Baca Juga :  Kasus Penyadapan Presiden Prabowo, Istana Sebut Mengarah Makar

Dugaan pergerakan politik ini kian memanas karena momentum penangkapan para jenderal Polri bertepatan dengan kedatangan Joko Widodo ke Jakarta. Meskipun secara resmi hadir sebagai saksi kasus hukum di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, sejumlah pihak mencium adanya agenda lobi politik di balik kedatangan tersebut.

Anggota Tim Advokasi Penegak Etika, Moral, dan Integritas Bangsa, Ahmad Khozinudin, menilai ada upaya meredam gelombang desakan pemakzulan Gibran. Tekanan politik terhadap Wapres memang sedang menguat pasca-putusan Mahkamah Agung yang membatalkan keabsahan surat keterangan penyetaraan ijazah SMA miliknya.

Khozinudin menduga ada gerakan mengintervensi kementerian terkait agar mengajukan Peninjauan Kembali (PK) guna menyelamatkan posisi hukum Gibran. Sementara itu, pengamat politik Pangi Syarwi menilai langkah cepat mengganti pucuk pimpinan Polri sudah sangat tepat untuk mengantisipasi risiko politik yang lebih besar.(ar)

Follow WhatsApp Channel oegopost.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Gaji PPPK Cair Lewat APBN Mulai 2027, Ini Rincian Lengkapnya
Demo Bundaran HI Tertib, Pramono Puji Massa Jaga Fasilitas
Polisi Adang Wartawan Demo di HI, Ujian Nyata Kebebasan Pers
Tarif Listrik PLN Akhir Oktober 2026 Dipastikan Tidak Berubah
Pertamina Tambah 72 Mobil Tangki BBM di Tiga Provinsi
Habiburokhman Pimpin Panja RUU Perampasan Aset DPR
Operasi Patuh 2026 Dimulai, Polisi Incar 11 Pelanggaran Ini
Panglima TNI Pertama dari Matra Laut Tutup Usia
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 15:31 WIB

Misteri Penyadapan Presiden Prabowo: Mengapa Nama Gibran Absen?

Senin, 2 November 2026 - 07:33 WIB

Gaji PPPK Cair Lewat APBN Mulai 2027, Ini Rincian Lengkapnya

Kamis, 29 Oktober 2026 - 13:05 WIB

Demo Bundaran HI Tertib, Pramono Puji Massa Jaga Fasilitas

Kamis, 29 Oktober 2026 - 13:00 WIB

Polisi Adang Wartawan Demo di HI, Ujian Nyata Kebebasan Pers

Rabu, 28 Oktober 2026 - 10:51 WIB

Tarif Listrik PLN Akhir Oktober 2026 Dipastikan Tidak Berubah

Berita Terbaru

Presiden Prabowo menunjuk Letjen Ariyo Windutomo sebagai Plt Kepala KSP menggantikan Listyo Sigit yang terseret kasus penyadapan.(poto: ist).

Pemerintahan

Prabowo Tunjuk Letjen Ariyo Windutomo Jadi Plt Kepala KSP

Rabu, 4 Nov 2026 - 15:25 WIB