Jambi, oegopost.id – Pesawat Garuda Jakarta Jambi terpaksa memutar balik ke Bandara Soekarno-Hatta setelah gagal mendarat di Bandara Sultan Thaha Saifuddin akibat kabut asap pekat pada Sabtu (19/9/2026). Cuaca buruk berupa kabut asap tebal yang menyelimuti wilayah Jambi menurunkan jarak pandang secara drastis hingga membahayakan keselamatan penerbangan.
Pilot sempat memutar pesawat di udara selama puluhan menit untuk memantau kondisi landasan sebelum mengambil keputusan ekstrem demi keselamatan seluruh penumpang. Langkah mengalihkan kembali rute penerbangan ini menjadi pilihan terbaik saat kondisi cuaca di lokasi tujuan tidak memungkinkan proses pendaratan secara aman.
Gangguan Jarak Pandang Memaksa Pilot Kembali Ke Jakarta
Anggota DPRD Provinsi Jambi, Ansori Hasan, yang menjadi salah satu penumpang penerbangan tersebut membagikan pengalaman menegangkan yang ia alami di dalam pesawat. Ia menyebut armada Garuda Indonesia yang ia tumpangi lepas landas dari Jakarta pada pukul 12.50 WIB sesuai jadwal operasional.
Ansori menjelaskan bahwa pilot sempat mengudara dan berputar-putar di langit Jambi sekitar 30 menit demi menunggu celah jarak pandang. Namun, kabut asap yang makin pekat membuat pilot akhirnya memutuskan return to base demi menghindari risiko kecelakaan yang tidak diinginkan.
Keputusan memutar balik pesawat murni berlandaskan pada prosedur keselamatan operasional penerbangan yang ketat saat menghadapi gangguan cuaca buruk. Para penumpang akhirnya mendarat kembali dengan selamat di Bandara Soekarno-Hatta setelah menempuh perjalanan udara yang cukup melelahkan tersebut.
Otoritas Bandara Sultan Thaha Terus Pantau Perkembangan Cuaca
General Manager Bandara Sultan Thaha Saifuddin Jambi, Ardon Marbun, membenarkan kejadian balik arah penerbangan yang di alami oleh maskapai Garuda Indonesia tersebut. Ia menyatakan bahwa ketebalan kabut asap mulai menutupi kawasan sekitar bandara secara signifikan sejak siang hari.
Ardon menegaskan bahwa penurunan jarak pandang di area landasan pacu telah melewati batas aman yang tertera pada Standard Operating Procedure. Kondisi visual yang sangat terbatas ini membuat petugas menolak pendaratan karena berisiko tinggi bagi keselamatan penerbangan.
Pihak pengelola bandara kini berkoordinasi aktif dengan badan meteorologi setempat untuk terus memantau pergerakan kabut asap dan kualitas udara. Petugas lapangan akan langsung menginformasikan perubahan jarak pandang agar jadwal penerbangan susulan dapat kembali berjalan normal saat cuaca membaik.(ar)









