Rupiah Tembus Rp18.000 Imbas Sentimen MSCI dan Inflasi Amerika

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustarsi: Pekerja di kantor keuangan Jakarta cemas memantau IHSG yang anjlok dan rupiah yang melemah di layar pergerakan saham.(poto: AI).

Ilustarsi: Pekerja di kantor keuangan Jakarta cemas memantau IHSG yang anjlok dan rupiah yang melemah di layar pergerakan saham.(poto: AI).

Jakarta, Oegopost.id – Perekonomian domestik menghadapi guncangan bertubi menjelang penutupan tahun 2026. Pasar keuangan nasional langsung merespons tajam kemunculan tekanan eksternal ekonomi indonesia dari dua arah sekaligus.

Tantangan pertama berasal dari langkah lembaga keuangan global MSCI Inc. pada 15 Oktober 2026. Lembaga riset tersebut membuka konsultasi publik terkait usulan penurunan klasifikasi Indeks MSCI Indonesia dari status Pasar Berkembang (Emerging Market) menjadi Pasar Mandiri (Standalone Market).

Pada saat bersamaan, otoritas statistik Amerika Serikat mengumumkan kenaikan indeks harga konsumen September 2026 ke level 3,7% secara tahunan. Realisasi inflasi Negeri Paman Sam tersebut langsung melampaui perkiraan pasar sebesar 3,6% sekaligus melesat jauh di atas target sasaran 2%.

Kombinasi sentimen buruk tersebut langsung memicu pelarian modal asing secara masif dari pasar domestik menuju aset berdenominasi dolar AS. Pengumuman inflasi AS itu sendiri melambungkan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) hingga mendekati level 5,3%.

Pasar modal domestik mencatat koreksi sangat dalam akibat pergeseran portofolio investor global tersebut. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bahkan anjlok 11,57% ke level 5.185,11 pada penutupan perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026.

Arus keluar modal asing ini menekan nilai tukar rupiah secara signifikan di pasar valuta asing. Data Jisdor Bank Indonesia mencatat rupiah terpuruk ke posisi Rp18.052 per dolar AS pada penutupan pekan tersebut.

Posisi nilai tukar rupiah ini melemah 2,06% jika dibandingkan dengan catatan satu bulan sebelumnya di level Rp17.687 per dolar AS. Lonjakan permintaan dolar AS terjadi secara serentak karena investor berbondong-bondong melepas instrumen investasi berbasis rupiah.

Baca Juga :  Harga Kentang Kayu Aro Anjlok Saat Panen Raya, Petani Kerinci Keluhkan Penurunan Pendapatan

Tekanan Pasar Global Mulai Mengancam Stabilitas Sektor Riil

Kondisi ini memicu kekhawatiran meluasnya aksi jual investor asing ke Surat Berharga Negara serta instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia. Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede mengingatkan risiko besar apabila arus keluar modal asing menjalar ke pasar obligasi pemerintah.

Pelemahan mata uang garuda kini mengintai aktivitas industri manufaktur dan dunia usaha di dalam negeri. Kepala Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk. Irman Faiz menjelaskan depresiasi rupiah langsung mengerek biaya pengadaan bahan baku impor dan komoditas energi.

Kenaikan biaya produksi tersebut berisiko memperberat beban keuangan korporasi yang belum mengamankan fasilitas lindung nilai. Situasi ini pada akhirnya memicu transmisi kenaikan harga barang konsumen yang berpotensi memangkas daya beli masyarakat luas.

Bank sentral sendiri memprediksi gejolak pasar keuangan global masih akan membayangi pergerakan modal domestik dalam beberapa waktu ke depan. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menyatakan arus keluar dana portofolio masih berpotensi berlanjut seiring penguatan dolar AS.

Meskipun demikian, Bank Indonesia menegaskan komitmen penuh untuk mengawal stabilitas nilai tukar agar tetap bergerak sesuai nilai fundamentalnya. Otoritas moneter secara aktif menggelar intervensi berlapis melalui transaksi pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pasar NDF luar negeri.

Bank sentral juga terus menyerap Surat Berharga Negara di pasar sekunder untuk menahan kepanikan investor obligasi. Langkah tersebut berjalan beriringan dengan pengelolaan likuiditas rupiah dan penataan struktur suku bunga di pasar uang.

Baca Juga :  Bank Indonesia dan Bank Negara Malaysia Perkuat Kerja Sama Keuangan Regional

Ruang Kebijakan Moneter Menahan Kenaikan Suku Bunga Acuan

Kalangan ekonom menilai otoritas moneter masih memiliki fleksibilitas kebijakan tanpa perlu terburu-buru menaikkan suku bunga acuan BI Rate. Kenaikan suku bunga acuan justru berisiko menambah beban cicilan kredit perbankan bagi pelaku usaha dan masyarakat.

Kajian internal BI mencatat kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin berpotensi memangkas pertumbuhan ekonomi nasional hingga 0,1%. Irman Faiz menyarankan bank sentral mengoptimalkan pelebaran selisih imbal hasil obligasi negara terhadap obligasi AS guna menjaga daya pikat aset rupiah.

Josua Pardede menambahkan bahwa langkah antisipasi BI sebelumnya telah memberi bantalan kebijakan yang memadai. Otoritas moneter telah mengerek BI Rate secara kumulatif sebesar 100 basis poin sepanjang periode Mei hingga Juni 2026.

Laju inflasi domestik per September 2026 juga masih terkendali aman di angka 3,28% secara tahunan. Tingkat inflasi tersebut masih bertahan rapi di dalam sasaran target tahunan pemerintah sebesar 2,5 plus minus 1%.

Bank sentral juga berpeluang menunggu pengumuman suku bunga The Fed yang baru akan berlangsung pada 27 hingga 28 Oktober 2026. Waktu pertemuan tersebut jatuh sepekan setelah Bank Indonesia merampungkan Rapat Dewan Gubernur pada 20 sampai 21 Oktober 2026.

Kendati demikian, bank sentral tetap berpeluang menaikkan BI Rate menuju angka 6,00% pada pengujung tahun apabila tekanan nilai tukar terus memburuk. Josua memproyeksikan rupiah akan bergerak di kisaran level Rp17.980 per dolar AS hingga akhir 2026 seiring ketatnya arah kebijakan moneter global.(ar)

Follow WhatsApp Channel oegopost.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Harga Cabai Keriting Jakarta Anjlok Tajam, Minyakita dan Bawang Kompak Naik
Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini Stagnan, Cek Rincian Lengkapnya
Cara Cek Desil Bansos Kemensos Oktober 2026 Pakai NIK
IHSG Melemah Tajam ke Level 5.907 Pagi Ini
Arti Status KPD Cek Bansos Kemensos KTP Terbaru
Harga Emas Antam 15 Oktober 2026 Anjlok, Cek Rincian Lengkap per Gram dan Pajaknya
Bertemu Bos Bank Dunia, Menkeu Suahasil Nazara Tegaskan Disiplin Fiskal dan Hilirisasi Sawit
Harga Emas Antam Hari Ini 14 Oktober 2026
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:47 WIB

Harga Cabai Keriting Jakarta Anjlok Tajam, Minyakita dan Bawang Kompak Naik

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:36 WIB

Rupiah Tembus Rp18.000 Imbas Sentimen MSCI dan Inflasi Amerika

Kamis, 15 Oktober 2026 - 10:17 WIB

Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini Stagnan, Cek Rincian Lengkapnya

Kamis, 15 Oktober 2026 - 10:12 WIB

Cara Cek Desil Bansos Kemensos Oktober 2026 Pakai NIK

Kamis, 15 Oktober 2026 - 10:06 WIB

IHSG Melemah Tajam ke Level 5.907 Pagi Ini

Berita Terbaru