Muaro Jambi, oegopost.id – Program MBG ayam broiler mulai memberikan dampak terhadap usaha peternakan di Kabupaten Muaro Jambi. Hartadi, pemilik peternakan ayam broiler di Kecamatan Sekernan, mengaku mengalami peningkatan permintaan sejak program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan.
Hartadi mengelola peternakan dengan populasi sekitar 12.000 ekor ayam broiler. Ia mengatakan kebutuhan ayam meningkat karena program MBG turut mendorong konsumsi ayam di masyarakat.
“Permintaan ayam meningkat sejak adanya program MBG,” ujar Hartadi, Selasa.
Menurut Hartadi, perubahan permintaan terlihat dari meningkatnya frekuensi produksi ayam dalam satu tahun. Sebelumnya, ia hanya mampu menjalankan empat hingga lima siklus produksi.
Kini, ia bisa menjalankan produksi sebanyak enam hingga tujuh kali dalam setahun. Kondisi tersebut membuat aktivitas peternakan berjalan lebih cepat dibandingkan sebelumnya.
Siklus Produksi Naik Seiring Kebutuhan Ayam
Peningkatan produksi terjadi karena peternak harus menyesuaikan pasokan dengan kebutuhan pasar yang semakin besar. Hartadi menyebut masuknya anak ayam umur sehari atau day old chick (DOC) menjadi lebih sering dibandingkan periode sebelumnya.
Namun, peningkatan permintaan belum membuat sebagian besar peternak ayam broiler di Jambi beralih ke sistem mandiri. Mayoritas peternak masih memilih pola kemitraan dengan perusahaan peternakan.
Melalui sistem kemitraan, perusahaan menyediakan kebutuhan utama peternakan seperti bibit ayam, pakan, obat-obatan, hingga membantu proses pemasaran ayam saat masa panen.
Hartadi menilai pola tersebut memberikan kepastian bagi peternak, terutama dalam menghadapi perubahan harga di pasar.
“Pola tersebut memberikan kepastian terhadap biaya produksi dan harga jual,” katanya.
Ia menjelaskan, bisnis ayam broiler memiliki risiko cukup tinggi karena harga ayam dan biaya produksi dapat berubah sewaktu-waktu. Sistem kemitraan membantu peternak menjaga kestabilan usaha ketika kondisi pasar tidak menentu.
Peternak Harapkan Akses Pasokan Langsung MBG
Meski program MBG meningkatkan permintaan ayam, hingga saat ini belum ada kerja sama langsung antara peternak ayam broiler dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai penyedia makanan dalam program tersebut.
Hartadi berharap pemerintah dapat membuka peluang bagi peternak lokal untuk menjadi pemasok langsung kebutuhan ayam bagi program MBG.
Menurutnya, keterlibatan peternak daerah dalam rantai pasok MBG dapat memberikan manfaat bagi pelaku usaha kecil sekaligus menjaga ketersediaan bahan pangan lokal.
Selain akses kerja sama, Hartadi juga berharap pemerintah membantu menjaga kestabilan harga pakan. Ia menyebut pakan menjadi komponen terbesar dalam biaya operasional peternakan.
Biaya pakan, kata Hartadi, mencapai sekitar 70 hingga 80 persen dari total biaya produksi ayam broiler. Karena itu, perubahan harga pakan sangat memengaruhi keuntungan peternak.
“Stabilitas harga pakan dan harga jual ayam menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan usaha peternak broiler,” ujarnya.
Harga Ayam Stabil Meski Permintaan Menurun
Hartadi mengatakan harga ayam broiler saat ini masih berada dalam kondisi relatif normal. Namun, permintaan mengalami sedikit penurunan pada bulan ini akibat libur sekolah yang bertepatan dengan bulan Muharam.
Berkurangnya aktivitas hajatan masyarakat turut memengaruhi tingkat pembelian ayam. Meski demikian, Hartadi menilai penurunan tersebut masih bersifat sementara dan menjadi bagian dari siklus pasar.
Ia tetap melihat peluang positif bagi peternak ayam broiler seiring keberlanjutan program MBG. Menurutnya, kebutuhan pangan bergizi dapat membuka pasar baru bagi produk peternakan lokal.
Dengan meningkatnya permintaan ayam dan peluang kerja sama yang lebih luas, peternak berharap program MBG tidak hanya memberikan manfaat bagi penerima makanan bergizi, tetapi juga memperkuat sektor peternakan daerah.
Bagi Hartadi, dukungan terhadap kestabilan biaya produksi dan akses pasar menjadi kunci agar peternak ayam broiler di Jambi dapat terus berkembang.(ar)









