Jambi, oegopost.id – Kuliah lapangan sejarah mahasiswa STKIP Yayasan Abdi Pendidikan Payakumbuh di kawasan Candi Kedaton, kompleks Candi Muaro Jambi, membuat mereka belajar langsung jejak peradaban kuno. Kegiatan ini mengubah situs sejarah menjadi ruang belajar terbuka yang lebih hidup dan nyata.
Mahasiswa Turun Langsung ke Situs Sejarah
Sebanyak 19 mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP Payakumbuh turun langsung ke lapangan pada 28 April 2026. Mereka tidak hanya membaca teori di kelas, tetapi juga mengamati langsung peninggalan sejarah di salah satu situs terbesar di Sumatra.
Kegiatan ini berjalan lewat kerja sama kampus dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Dosen dan peneliti mendampingi mahasiswa selama kegiatan agar mereka bisa memahami sejarah secara langsung dari sumbernya.
Peneliti BRIN, Zusneli Zubir, menjelaskan bahwa kegiatan ini membantu calon guru sejarah memahami materi dengan cara yang lebih nyata.
“Mahasiswa jadi lebih mudah memahami sejarah ketika mereka melihat langsung bukti peninggalannya di lapangan,” ujarnya.
Candi Muaro Jambi Jadi Ruang Belajar Terbuka
Di lokasi, mahasiswa mengamati langsung struktur bata merah khas Candi Muaro Jambi. Mereka mencatat bentuk bangunan, pola susunan, dan jejak teknologi konstruksi kuno yang masih terlihat hingga sekarang.
Mereka juga menelusuri bagaimana kawasan ini pernah menjadi pusat aktivitas Kerajaan Melayu dan tradisi Hindu-Buddha di Sumatra.
Dosen STKIP, Fikrul Hanif Sufyan, mengatakan pengalaman langsung seperti ini membuat mahasiswa lebih mudah memahami sejarah.
“Kalau hanya membaca buku, mereka sulit membayangkan. Tapi di sini mereka bisa melihat langsung bagaimana masyarakat masa lalu hidup dan membangun peradaban,” katanya.
Jejak Peradaban yang Masih Terjaga
Candi Muaro Jambi dikenal sebagai salah satu kompleks percandian terbesar di Asia Tenggara. Lokasinya berada di sepanjang Sungai Batanghari dan masih menyimpan banyak jejak sejarah yang menarik untuk ditelusuri.
Arkeolog dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Jambi, Novie Hari Putranto, menjelaskan bahwa kawasan ini punya suasana yang unik karena masih alami.
“Lingkungannya masih hijau dan tenang. Ini membuat Candi Muaro Jambi cocok untuk wisata sejarah sekaligus edukasi,” ujarnya.
Mahasiswa juga mempelajari sejarah penemuan situs ini yang pertama kali tercatat pada abad ke-19 oleh S.C. Crooke saat melakukan pemetaan wilayah.
Pengalaman Lapangan untuk Calon Guru Sejarah
Ketua rombongan, Dedi Asmara, menegaskan bahwa kegiatan ini melatih mahasiswa agar lebih siap menjadi guru sejarah di masa depan. Mereka tidak hanya memahami teori, tetapi juga melihat langsung objek sejarah yang akan mereka ajarkan nanti.
“Pengalaman di lapangan seperti ini membuat mahasiswa lebih percaya diri saat mengajar,” katanya.
Program ini juga menjadi bagian dari kerja sama antara kampus dan BRIN yang sudah berjalan sejak 2025 dan akan terus berlanjut di beberapa lokasi lain.
Penutup
Kegiatan kuliah lapangan di Candi Kedaton menunjukkan bahwa sejarah bisa dipelajari dengan cara yang lebih sederhana dan menyenangkan. Mahasiswa tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga dari situs nyata yang menyimpan cerita masa lalu.(ar)









