Jakarta, oegopost.id – Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat empat kasus penularan hantavirus sepanjang 2026.
Petugas kesehatan menangani seluruh pasien secara intensif, dengan tiga orang berhasil pulih dan satu orang masih menjalani pemantauan sebagai kasus suspek.
Temuan ini membuat otoritas kesehatan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran penyakit zoonosis di wilayah perkotaan.
Pihak yang Terlibat dalam Penanganan
Dinas Kesehatan DKI Jakarta berkoordinasi dengan fasilitas layanan kesehatan untuk menangani kasus ini.
Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), termasuk Arief Mulyono dari Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi, menjelaskan karakteristik virus serta memberikan edukasi ilmiah kepada masyarakat agar tidak terjadi kesalahpahaman mengenai risiko penularannya.
Tim kesehatan menemukan dan mencatat kasus ini sepanjang tahun 2026. Pemerintah kemudian memperbarui informasi pada Mei 2026 setelah melakukan pemantauan pasien dan kajian ilmiah terhadap perkembangan penyakit di lapangan.
Lokasi dan Sumber Penyebaran Virus
Hantavirus berasal dari hewan pengerat, terutama tikus liar yang hidup di sekitar permukiman, pertanian, dan area hutan.
Tikus rumah, tikus got, dan mencit liar dapat membawa virus ini. Kondisi lingkungan yang kotor dan padat meningkatkan peluang manusia terpapar virus, terutama di area gudang, rumah kosong, dan bangunan tertutup.
Dampak Kesehatan dan Risiko Penularan
Hantavirus dapat menyebabkan penyakit serius seperti Hantavirus Pulmonary Syndrome yang menyerang sistem pernapasan dan dapat berkembang menjadi gagal napas akut.
Meski demikian, peneliti BRIN menegaskan bahwa virus ini hampir tidak pernah menyebar dari manusia ke manusia dalam kondisi normal.
Penularan antarmanusia hanya terjadi dalam situasi sangat terbatas, biasanya ketika seseorang melakukan kontak sangat dekat dan lama dengan penderita pada fase akut, terutama melalui paparan cairan tubuh seperti air liur atau sekret pernapasan.
Cara Penularan dan Langkah Pencegahan
Manusia umumnya terinfeksi ketika menghirup partikel halus dari urin, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi.
Aktivitas seperti membersihkan gudang, rumah kosong, atau ruangan tertutup tanpa perlindungan meningkatkan risiko paparan.
Untuk mencegah infeksi, masyarakat perlu menjaga kebersihan lingkungan secara rutin, menutup akses tikus ke rumah, dan menyimpan makanan dalam wadah tertutup rapat.
Saat membersihkan area yang berisiko, warga harus memakai masker dan sarung tangan serta menyemprotkan disinfektan sebelum membersihkan agar partikel tidak beterbangan di udara.
Kesimpulan
Kasus hantavirus di DKI Jakarta menegaskan pentingnya kewaspadaan terhadap penyakit yang berasal dari hewan.
Meskipun masyarakat perlu waspada, peneliti menilai risiko penularan antarmanusia sangat rendah.
Pengendalian tikus, kebersihan lingkungan, dan edukasi publik tetap menjadi langkah utama untuk mencegah penyebaran penyakit ini secara efektif.(ar)









