Jakarta, oegopost.id – Kajian ikhlas dan riya dalam Islam menjadi fokus utama dalam Pengajian Malam Selasa. Dalam kesempatan itu, ia mengulas kitab Miftahul Khitabah wal Wa’dzi karya Muhammad Al-‘Adawi sebagai bahan kajian utama.
Rohmansyah menjelaskan bahwa para dai menjadikan kitab tersebut sebagai rujukan penting dalam berdakwah.
Ia menilai kitab itu menyajikan panduan menyampaikan nasihat secara sistematis, sehingga memudahkan penceramah dalam berbagai forum, baik formal maupun nonformal.
Ia juga menegaskan bahwa isi kitab tersebut mencakup empat aspek utama ajaran Islam, yaitu akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah duniawiyah, yang sejalan dengan pemahaman keislaman Muhammadiyah.
Selain itu, kitab ini memperkuat pembahasan hukum syariat melalui dalil Al-Qur’an dan hadis Nabi.
Ikhlas sebagai Dasar Utama Amal
Dalam kajian tersebut, Rohmansyah memfokuskan pembahasan pada tiga tema penting, yaitu ikhlas, riya, dan ilmu. Ia memulai dengan penjelasan tentang ikhlas sebagai inti dari setiap amal ibadah.
Ia mengutip pandangan Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam Tazkiyatun Nufus yang menyatakan bahwa seseorang mewujudkan ikhlas ketika ia memurnikan niat hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah tanpa kepentingan lain.
Ia menegaskan bahwa setiap amal harus bertujuan mengesakan Allah dalam niat dan tujuan.
Rohmansyah kemudian menekankan hubungan erat antara ikhlas dan niat berdasarkan hadis Nabi Muhammad Saw, “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.”
Ia menjelaskan bahwa Allah menilai amal seseorang berdasarkan niat yang melandasinya.
Jika seseorang meniatkan amal karena Allah, maka ia memperoleh pahala dan ridha-Nya, sedangkan niat duniawi hanya menghasilkan balasan dunia.
Ia juga menegaskan bahwa Allah tidak menilai rupa maupun harta manusia, melainkan melihat hati dan amalnya. Karena itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga hati dari penyakit, terutama riya.
Bahaya Riya dalam Amal Ibadah
Setelah membahas ikhlas, Rohmansyah beralih menjelaskan riya sebagai kebalikan dari keikhlasan. Ia menyebut riya sebagai tindakan beramal untuk mendapatkan pujian manusia, bukan karena Allah.
Ia menegaskan bahwa riya termasuk syirik kecil yang dapat merusak nilai amal seseorang. Ia mengutip Al-Qur’an dan hadis Nabi yang memperingatkan bahwa riya dapat menghapus pahala ibadah.
Rohmansyah juga memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari, seperti seseorang yang bersedekah agar disebut dermawan atau menuntut ilmu demi popularitas.
Ia menjelaskan bahwa motivasi semacam itu membuat amal kehilangan nilai di sisi Allah.
Ia mengingatkan bahwa riya memiliki kedekatan dengan sifat munafik, seperti malas beribadah, ingin dipuji manusia, dan kurang mengingat Allah.
Karena itu, ia mengajak jamaah untuk terus mengevaluasi niat dalam setiap amal.
“Setan tidak mampu menyesatkan orang yang benar-benar ikhlas,” tegasnya dalam kajian tersebut.
Pentingnya Ilmu dan Tazkiyatun Nafs
Selain membahas ikhlas dan riya, Rohmansyah juga menyoroti pentingnya ilmu sebagai landasan dalam beramal. Ia menilai ilmu menjadi pembimbing agar seseorang tidak salah dalam niat maupun tindakan ibadah.
Di akhir kajian, ia mengajak jamaah untuk melakukan tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa dengan memperkuat keikhlasan dan menjauhi riya dalam kehidupan sehari-hari.
Ia berharap seluruh jamaah dapat menjaga kemurnian niat dalam beramal sehingga memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat.
“Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu ikhlas dan terhindar dari syirik, sehingga mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat,” tutupnya.(ar)









