Jambi, oegopost.id – Temuan Kemenkes dr Myta, mengungkap hasil investigasi terkait meninggalnya dokter internship, di Kuala Tungkal, Jambi.
Dalam pemeriksaan tersebut, Kemenkes menemukan dugaan manipulasi jadwal jaga, lemahnya pengawasan dokter pendamping, serta kondisi dr Myta yang tetap menjalankan tugas meski sedang sakit.
Kemenkes menegaskan bahwa temuan ini akan menjadi dasar evaluasi sistem program internship dokter di Indonesia.
Keluarga Minta Perbaikan Sistem Internship
Orang tua dr Myta, Okta dan Haidriatul, meminta pemerintah memperbaiki sistem internship agar kejadian serupa tidak terulang.
Mereka berharap pengalaman ini menjadi titik perubahan dalam sistem pendidikan dan penugasan dokter muda.
Di sisi lain, keluarga menyampaikan apresiasi atas perhatian Kemenkes, termasuk bantuan beasiswa untuk adik dr Myta yang masih berkuliah di bidang kedokteran.
Kemenkes Hentikan Sementara Program di Kuala Tungkal
Kemenkes memutuskan untuk membekukan sementara program internship di Puskesmas dan RSUD Daud Arif Kuala Tungkal.
Seluruh peserta internship di wilayah tersebut dipindahkan ke fasilitas lain sambil menunggu hasil investigasi lanjutan.
Langkah ini diambil setelah Kemenkes menerima banyak laporan dan melakukan evaluasi langsung.
Sanksi untuk Dokter Pendamping
Kemenkes menjatuhkan teguran berat kepada dokter pendamping program internship.
Investigasi menemukan dugaan adanya perubahan atau manipulasi jadwal jaga dalam pengawasan program.
Kemenkes menilai pendamping tidak menjalankan fungsi pengawasan dengan baik, terutama dalam memantau kondisi kesehatan peserta internship.
Kondisi dr Myta Sebelum Meninggal
Dalam investigasi, Kemenkes memutar rekaman suara dr Myta yang menggambarkan kondisi kesehatannya sebelum meninggal.
Ia mengeluhkan demam tinggi, batuk, pilek, dan kelelahan, namun tetap menjalankan tugas di Instalasi Gawat Darurat.
Meski kondisinya menurun, dr Myta masih berusaha mencari pengganti jadwal jaga sebelum akhirnya harus terus bekerja dalam kondisi sakit.(ar)









