Jambi, oegopost.id – Setiap musim panen kembali menghadirkan ironi. Petani meningkatkan produksi, tetapi pasar justru menekan harga komoditas. Cabai yang melimpah cepat kehilangan nilai, sementara pada waktu lain harganya melonjak dan membebani konsumen. Buah tropis hasil kerja panjang petani sering berakhir terbuang karena keterbatasan distribusi dan daya simpan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa masalah utama tidak terletak pada produksi, melainkan pada lemahnya sistem hilir pangan.
Hilirisasi Mengubah Sistem Pangan Secara Menyeluruh
Hilirisasi tidak hanya berarti pengolahan hasil panen. Pemerintah dan pelaku usaha perlu membangun sistem yang menghubungkan produksi, pengolahan, distribusi, hingga konsumsi dalam satu rantai nilai.
Provinsi Jambi memiliki peluang besar untuk memperkuat peran tersebut karena sektor pertaniannya yang kuat dan terus tumbuh. Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Provinsi Jambi pada 2025 mencapai Rp349,66 triliun dengan pertumbuhan 4,93 persen. Sektor pertanian tetap menjadi penopang utama.
Produksi padi juga meningkat signifikan. Jambi menghasilkan sekitar 366,5 ribu ton gabah kering giling pada 2025. Angka ini naik lebih dari 30 persen dibanding tahun sebelumnya. Data tersebut menunjukkan bahwa Jambi sudah memiliki kekuatan produksi yang cukup besar.
Tantangan Utama Terletak pada Pascapanen
Meskipun produksi meningkat, petani tetap menghadapi tekanan harga saat panen raya. Hal ini terjadi karena sistem pengolahan dan distribusi belum berjalan optimal. Kabupaten Kerinci, sebagai sentra cabai terbesar di Jambi, menyumbang lebih dari 90 persen produksi cabai merah provinsi. Ketika panen serentak terjadi, pasar tidak mampu menyerap seluruh hasil produksi.
Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Batanghari yang terus berkembang sebagai wilayah produksi pangan dengan jumlah penduduk lebih dari 316 ribu jiwa.
Teknologi Tepat Guna Dorong Hilirisasi Sederhana
Pemerintah dan masyarakat perlu mendorong hilirisasi melalui Teknologi Tepat Guna (TTG). TTG membantu petani mengolah hasil panen menjadi produk bernilai tambah dengan cara sederhana dan sesuai kondisi lokal.
Petani dapat mengolah cabai menjadi bubuk atau pasta, tomat menjadi saus, bawang menjadi bawang goreng, dan buah menjadi jus atau produk kemasan. Proses ini tidak membutuhkan teknologi kompleks, tetapi mampu meningkatkan nilai ekonomi secara signifikan.
Hilirisasi Menstabilkan Harga dan Mengurangi Kerugian
Pengolahan hasil pertanian membantu menstabilkan harga di tingkat petani. Produk olahan memiliki daya tahan lebih lama sehingga tidak mudah rusak saat panen melimpah. Organisasi Pangan Dunia (FAO) mencatat bahwa negara berkembang kehilangan 20–30 persen hasil pangan akibat minimnya pengolahan dan distribusi. Hilirisasi dapat menekan angka tersebut secara signifikan.
TTG memungkinkan petani, kelompok tani, hingga usaha mikro ikut terlibat dalam proses hilirisasi. Proses ini tidak hanya menguntungkan industri besar, tetapi juga masyarakat di tingkat desa.
Dengan pendekatan ini, transformasi ekonomi berjalan lebih merata dan berkelanjutan. Hilirisasi perlu berkembang lebih jauh melalui digitalisasi pemasaran, peningkatan standar mutu, dan penguatan rantai pasok. Pemerintah daerah perlu menyediakan pelatihan, akses pembiayaan, dan infrastruktur logistik agar hilirisasi berjalan efektif.
Jambi Berpeluang Jadi Pusat Hilirisasi Pangan Sumatra
Posisi geografis Jambi di tengah Pulau Sumatra memberi keuntungan strategis dalam distribusi pangan. Dengan penguatan hilirisasi, Jambi dapat berkembang dari daerah produksi menjadi pusat pengolahan dan distribusi pangan regional.
Hal ini akan memperkuat stabilitas pasokan dan mengurangi ketimpangan harga antarwilayah. Ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada produksi, tetapi juga pada kemampuan mengelola hasil panen menjadi nilai tambah.
Hilirisasi berbasis Teknologi Tepat Guna menawarkan solusi nyata yang dapat dimulai dari skala kecil di desa. Dengan potensi besar yang dimiliki, Jambi memiliki peluang kuat untuk tidak hanya menjadi lumbung produksi, tetapi juga pusat transformasi pangan di Sumatra.(r***)









