Jambi, oegopost.id – Setiap memasuki tahun ajaran baru, proses pendaftaran sekolah negeri kembali menyita perhatian masyarakat.
Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) menawarkan layanan digital untuk mempercepat pelayanan, meningkatkan transparansi, dan membuka kesempatan yang sama bagi seluruh calon peserta didik. Namun, banyak orang tua justru menghadapi proses yang lebih panjang dan membingungkan.
Pemerintah mengembangkan sistem daring agar masyarakat tidak lagi bergantung pada pelayanan manual. Meski begitu, pengalaman banyak orang tua menunjukkan bahwa proses pendaftaran masih menyisakan berbagai kendala yang memicu kecemasan.
Orang Tua Jalani Tahapan Pendaftaran Yang Semakin Rumit
Orang tua harus membuat akun, mengunggah dokumen, memverifikasi data, memilih jalur penerimaan, serta memantau perubahan peringkat selama masa seleksi. Mereka juga harus memastikan setiap tahapan selesai sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Banyak orang tua berkali-kali membuka laman pendaftaran karena sistem sering melambat pada jam tertentu. Sebagian gagal mengunggah dokumen sehingga harus mengulang proses dari awal.
Sebagian lainnya sempat melihat nama anak berada pada posisi aman. Beberapa saat kemudian, posisi tersebut berubah sehingga mereka kembali memantau perkembangan setiap waktu.
Kondisi itu membuat telepon genggam hampir tidak pernah lepas dari tangan orang tua. Mereka terus mengecek informasi terbaru agar tidak kehilangan kesempatan memperoleh kursi di sekolah tujuan.
Sekolah Swasta Hadir Dengan Alur Pendaftaran Lebih Praktis
Di sisi lain, sekolah swasta menawarkan proses yang jauh lebih sederhana. Orang tua cukup datang ke sekolah, menyerahkan dokumen, membayar biaya pendaftaran, lalu menunggu jadwal masuk.
Mereka tidak perlu memantau perubahan peringkat setiap saat atau mempelajari berbagai istilah teknis dalam sistem digital. Setelah menyelesaikan administrasi, mereka tinggal menunggu keputusan sekolah.
Perbandingan tersebut bukan bertujuan menempatkan sekolah swasta lebih baik daripada sekolah negeri. Sekolah negeri memang harus melayani jumlah pendaftar yang jauh lebih besar sekaligus menjaga proses seleksi tetap adil.
Digitalisasi Harus Memudahkan Pelayanan Bagi Seluruh Masyarakat
Digitalisasi seharusnya memangkas birokrasi, bukan menambah kerumitan administrasi. Sistem yang baik harus memberikan kepastian sekaligus memudahkan masyarakat sejak awal proses pendaftaran.
Tidak semua orang tua menguasai teknologi digital. Sebagian masih menghadapi keterbatasan akses internet, sedangkan sebagian lainnya harus meminta bantuan keluarga, tetangga, atau operator sekolah untuk memahami setiap tahapan.
Pendidikan merupakan hak seluruh warga negara. Karena itu, proses awal menuju sekolah seharusnya berlangsung sederhana, jelas, dan mudah diikuti siapa pun.
Pemerintah bersama penyelenggara SPMB perlu meninjau kembali mekanisme penerimaan dari sudut pandang masyarakat. Mereka tidak hanya membutuhkan sistem yang modern, tetapi juga pelayanan yang mudah, cepat, dan memberikan kepastian.
Pada akhirnya, masyarakat menginginkan proses pendaftaran yang sederhana tanpa harus mempelajari aplikasi, memahami banyak jalur penerimaan, atau terus memantau perubahan data.
Jika kondisi tersebut masih terjadi, maka evaluasi terhadap penyelenggaraan SPMB menjadi langkah yang patut dilakukan.(ar)









