Merangin, oegopost.id – Di tengah derasnya arus teknologi digital yang memengaruhi perilaku anak, lulusan pesantren Merangin desa kini mendapat peran strategis dari Pemerintah Kabupaten Merangin.
Pemerintah daerah mendorong para santri untuk tampil sebagai garda moral di tengah masyarakat, terutama di tingkat desa.
Selain itu, pemerintah menilai perubahan perilaku anak akibat gadget sudah semakin nyata.
Oleh karena itu, kehadiran lulusan pesantren dianggap sangat penting untuk menjaga keseimbangan nilai sosial dan keagamaan.
Wabup Tekankan Peran Sosial Santri di Desa
Wakil Bupati Merangin, A. Khafidh, menyampaikan langsung arahan tersebut saat menghadiri wisuda angkatan ke-20 Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Wal Hadits Al-Munawwaroh di Kelurahan Dusun Bangko, Kecamatan Bangko, Selasa (19/05).
Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa wisuda bukan akhir perjalanan, melainkan awal pengabdian.
Karena itu, ia meminta para santri kembali ke kampung halaman masing-masing dan aktif membina anak-anak di lingkungan sekitar.
Selanjutnya, ia juga mengajak mereka membangun kegiatan keagamaan sederhana, khususnya menghidupkan kembali tradisi mengaji setelah Maghrib.
“Santri yang kembali ke dusun harus mengajak anak-anak SD dan SMP yang belum masuk pesantren. Kita ingin mereka belajar bersama, minimal dari Maghrib sampai Isya,” ujar A. Khafidh.
Gadget dan Perubahan Perilaku Anak Jadi Perhatian Serius
Kemudian, pemerintah daerah menyoroti dampak penggunaan gadget yang semakin meluas di kalangan anak-anak.
Menurut Wabup, perubahan ini sudah menggeser kebiasaan lama, termasuk tradisi mengaji di waktu sore.
Selain itu, ia menilai banyak anak kini lebih sering menghabiskan waktu dengan gim online dan media sosial. Akibatnya, interaksi sosial di lingkungan keluarga dan masyarakat mulai melemah.
“Sekarang anak-anak lebih banyak bermain gadget, sehingga waktu mengaji mulai berkurang. Ini harus menjadi perhatian bersama,” tegasnya.
Dengan demikian, pemerintah menilai perlu ada gerakan sosial yang lebih kuat dari lingkungan terdekat, termasuk peran aktif para santri.
Santri Didorong Jadi Penggerak di Lingkungan Sosial
Lebih lanjut, Wabup meminta para lulusan pesantren tidak hanya mengajar secara formal. Sebaliknya, ia mendorong mereka terlibat langsung dalam kehidupan sosial masyarakat.
Selain itu, ia menekankan pentingnya komunikasi antara santri, tokoh desa, orang tua, dan anak-anak. Dengan cara ini, lingkungan desa bisa menjadi lebih religius sekaligus produktif.
“Pengawasan lingkungan harus berjalan bersama agar teknologi memberi dampak positif, bukan sebaliknya,” kata Khafidh.
Oleh karena itu, pemerintah berharap santri dapat menjadi jembatan nilai moral di tengah perubahan zaman.
Pesantren Diminta Perkuat Sistem Pengawasan
Di sisi lain, pemerintah daerah juga memberi perhatian pada lingkungan internal pesantren. Wabup meminta semua lembaga pendidikan keagamaan memperkuat sistem pengawasan terhadap santri.
Selain itu, ia mendorong keterlibatan aparat dan instansi terkait untuk menjaga keamanan lingkungan pendidikan.
Langkah ini muncul sebagai bentuk antisipasi terhadap berbagai kasus kekerasan di lembaga pendidikan yang sempat mencuat di sejumlah daerah.
“Kita harus memastikan pesantren tetap aman, nyaman, dan dipercaya masyarakat. Karena itu, pengawasan harus diperkuat,” tegasnya.
Peluang Besar Hafiz Al-Qur’an di Perguruan Tinggi
Selanjutnya, Wabup juga memberikan motivasi kepada para santri untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Ia menyebut banyak perguruan tinggi negeri kini membuka jalur khusus bagi hafiz dan hafizah Al-Qur’an.
Bahkan, menurutnya, penghafal 30 juz memiliki peluang besar masuk kampus tanpa tes melalui jalur afirmasi.
“Sekarang banyak universitas menerima hafiz dan hafizah Al-Qur’an, terutama yang hafal 30 juz. Mereka bisa masuk tanpa tes,” jelasnya.
Selain itu, beberapa kampus di Riau, Medan, dan berbagai daerah lain juga sudah menerapkan kebijakan serupa.
Kesimpulan
Pada akhirnya, Pemerintah Kabupaten Merangin menegaskan bahwa lulusan pesantren memiliki peran penting dalam menjaga moral masyarakat desa.
Di tengah perkembangan teknologi yang cepat, mereka hadir sebagai penyeimbang nilai.
Oleh sebab itu, pemerintah mendorong kolaborasi antara santri, masyarakat, dan lembaga pendidikan agar desa tetap memiliki lingkungan yang religius, aman, dan produktif.
Dengan demikian, lulusan pesantren Merangin desa tidak hanya menjadi simbol pendidikan agama, tetapi juga motor penggerak perubahan sosial di era digital.(ar)









