Muaro Jambi, oegopost.id – Wilayah rawan banjir Muaro Jambi kembali menjadi perhatian setelah hujan dengan intensitas tinggi terus mengguyur sejumlah daerah dalam beberapa pekan terakhir.
Untuk mengantisipasi dampak banjir yang lebih luas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Muaro Jambi memetakan 65 titik rawan banjir yang tersebar di enam kecamatan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mitigasi menghadapi potensi bencana hidrometeorologi selama musim hujan.
Selain mempercepat penanganan darurat, pemetaan itu membantu pemerintah daerah menentukan wilayah prioritas pengawasan dan evakuasi.
BPBD mencatat wilayah rawan banjir itu mencakup dua kelurahan dan 63 desa. Sebagian besar daerah berada di kawasan bantaran sungai dan dataran rendah yang mudah tergenang ketika hujan turun dalam waktu lama.
Curah Hujan Tinggi Tingkatkan Risiko Banjir
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Muaro Jambi, Anari Hasiholan Sitorus, mengatakan pihaknya mulai memperkuat langkah antisipasi karena hujan turun hampir merata di berbagai wilayah Muaro Jambi.
Menurut dia, kondisi cuaca saat ini meningkatkan risiko luapan sungai dan genangan air di sejumlah permukiman warga.
“Curah hujan belakangan ini cukup tinggi dan terjadi hampir merata di sejumlah wilayah Muaro Jambi. Karena itu kami melakukan pemetaan daerah rawan banjir untuk mempercepat langkah penanganan jika terjadi kondisi darurat,” katanya.
BPBD memasukkan Kecamatan Kumpeh, Kumpeh Ulu, Jambi Luar Kota (Jaluko), Taman Rajo, Sekernan, dan Maro Sebo ke dalam daftar wilayah rawan banjir.
Dari seluruh kecamatan tersebut, Kumpeh menjadi daerah paling rentan terdampak. BPBD mencatat sebanyak 16 desa dan satu kelurahan di kecamatan itu masuk kategori rawan banjir.
Kondisi geografis menjadi faktor utama tingginya ancaman banjir di wilayah tersebut.
Banyak warga tinggal di dataran rendah yang berdekatan dengan aliran Sungai Batanghari dan anak sungainya.
Saat hujan turun terus-menerus, debit air sungai cepat meningkat dan meluber ke permukiman warga.
Permukiman Bantaran Sungai Jadi Titik Paling Rentan
BPBD menilai kombinasi curah hujan tinggi, luapan anak sungai, dan buruknya saluran drainase memperbesar ancaman banjir di Muaro Jambi.
Selain itu, sedimentasi sungai juga mengurangi kapasitas tampung air sehingga air lebih mudah meluap ketika hujan deras terjadi dalam waktu lama.
Beberapa desa di bantaran Sungai Batanghari menjadi titik paling rentan terdampak banjir. Warga di kawasan tersebut biasanya mulai siaga ketika hujan turun tanpa henti selama berjam-jam.
“Langkah mitigasi penting dilakukan sejak dini agar dampak bencana bisa ditekan, terutama terhadap keselamatan warga,” ujar Anari.
Banjir tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga menghambat kegiatan ekonomi, pendidikan, dan transportasi warga.
Dalam beberapa kejadian sebelumnya, genangan air sempat memutus akses jalan desa sehingga warga kesulitan beraktivitas.
Selain itu, sejumlah sekolah juga mengalami gangguan kegiatan belajar karena halaman dan ruang kelas tergenang air.
Petani dan pelaku usaha kecil menjadi kelompok yang paling merasakan dampak banjir. Mereka sering mengalami kerugian karena aktivitas produksi dan distribusi terganggu.
BPBD Perkuat Koordinasi dan Kesiapan Darurat
Saat ini BPBD menetapkan status siaga bencana hidrometeorologi di Kabupaten Muaro Jambi.
Pemerintah daerah meminta masyarakat tidak mengabaikan potensi banjir meski kondisi saat ini masih terkendali.
Berdasarkan prakiraan cuaca, hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Karena itu, BPBD mulai memperkuat koordinasi dengan pemerintah kecamatan dan desa guna memastikan kesiapan personel dan perlengkapan darurat.
Petugas juga memeriksa jalur evakuasi dan menyiapkan logistik untuk menghadapi kemungkinan banjir.
Selain menyiapkan perahu evakuasi, BPBD terus memantau debit air di sejumlah titik rawan. Langkah tersebut membantu petugas memberikan peringatan lebih cepat kepada masyarakat.
Warga Diminta Aktif Melapor
BPBD meminta masyarakat yang tinggal di bantaran sungai dan daerah rendah meningkatkan kewaspadaan selama musim hujan berlangsung.
Petugas mengimbau warga segera melapor kepada aparat desa atau BPBD jika melihat tanda-tanda banjir seperti kenaikan debit air sungai atau meluasnya genangan.
“Kami mengimbau masyarakat tetap waspada. Jika curah hujan tinggi berlangsung lama dan debit sungai mulai naik, warga diminta segera melapor kepada aparat desa atau petugas BPBD terdekat,” tutup Anari.
Selain itu, warga juga perlu menyiapkan kebutuhan darurat seperti dokumen penting, obat-obatan, makanan instan, dan perlengkapan evakuasi sederhana.
Kesadaran masyarakat menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko korban saat banjir terjadi. Semakin cepat warga melapor dan melakukan evakuasi mandiri, semakin kecil risiko kerugian yang muncul.
Banjir Jadi Ancaman Tahunan di Muaro Jambi
Banjir masih menjadi ancaman tahunan di sejumlah wilayah Muaro Jambi. Letak geografis yang berada di sepanjang aliran Sungai Batanghari membuat beberapa kawasan sangat rentan terdampak saat musim hujan tiba.
Karena itu, pemerintah daerah mengajak masyarakat menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah ke sungai maupun saluran drainase.
Kebiasaan tersebut dapat membantu memperlancar aliran air dan mengurangi risiko genangan saat hujan deras turun.
BPBD juga menegaskan bahwa upaya pencegahan banjir membutuhkan kerja sama semua pihak.
Pemerintah, aparat desa, dan masyarakat harus bergerak bersama agar dampak bencana bisa ditekan semaksimal mungkin.
Dengan kesiapan yang lebih baik dan kewaspadaan sejak dini, pemerintah berharap masyarakat dapat menghadapi musim hujan dengan lebih aman.(ar)









