Jakarta, oegopost.id – Talqis Nurdianto menegaskan bahwa setiap manusia pasti menghadapi ujian dalam hidupnya. Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu menyampaikan pesan tersebut saat mengisi ceramah di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Ia mengajak jamaah memahami bahwa ujian bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan. Bahkan, seseorang bisa menjadi bagian dari ujian bagi orang lain tanpa disadari.
“Kita tidak hanya diuji, tetapi juga bisa menjadi ujian bagi orang lain,” ujarnya.
Ujian Bukan Hukuman, Tapi Tanda Cinta
Talqis menolak anggapan bahwa ujian merupakan bentuk hukuman dari Allah. Ia justru menilai ujian sebagai tanda perhatian dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.
Menurutnya, ujian menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas iman sekaligus mengangkat derajat spiritual seseorang.
Ia menegaskan bahwa setiap ujian membawa pesan agar manusia berkembang menjadi pribadi yang lebih kuat.
Kenikmatan Juga Bisa Menjadi Ujian
Talqis menjelaskan bahwa ujian tidak selalu hadir dalam bentuk kesulitan. Ia menilai kenikmatan seperti kekayaan, jabatan, dan prestasi juga merupakan bentuk ujian.
Ia mengingatkan bahwa banyak orang mampu bertahan saat susah, tetapi justru gagal saat mendapat kemudahan.
“Menjaga syukur saat senang sering kali lebih sulit daripada bersabar saat susah,” jelasnya.
Semua Orang, Termasuk Nabi, Mengalami Ujian
Talqis menegaskan bahwa tidak ada manusia yang hidup tanpa ujian. Ia mencontohkan para nabi yang juga menghadapi berbagai cobaan berat.
Menurutnya, ujian yang dialami para nabi justru menunjukkan kemuliaan mereka, bukan kelemahan.
Ia juga mengingatkan bahwa Al-Qur’an telah menegaskan kepastian adanya ujian dalam kehidupan manusia.
Bentuk Ujian yang Sering Dialami
Talqis menyebut beberapa bentuk ujian yang sering terjadi dalam kehidupan, seperti rasa takut, kekurangan, kehilangan, hingga tekanan mental.
Ia menyoroti kondisi mahasiswa yang kerap menghadapi overthinking, tekanan ekonomi, dan kebingungan menentukan arah hidup.
Menurutnya, kondisi tersebut juga termasuk ujian yang harus dihadapi dengan bijak.
Empat Sikap dalam Menghadapi Ujian
Talqis menjelaskan empat respons manusia saat menghadapi ujian. Sebagian orang memilih marah dan menyalahkan keadaan. Sebagian lainnya mampu bersabar.
Ada juga yang mencapai tingkat rida, yaitu menerima dengan lapang dada. Namun, tingkat tertinggi adalah bersyukur meski berada dalam kondisi sulit.
Ia menekankan bahwa sabar bukan berarti pasif, melainkan kemampuan menahan diri dari pikiran, ucapan, dan tindakan negatif.
Ujian Menghapus Dosa dan Menguatkan Jiwa
Talqis menyampaikan bahwa setiap ujian memiliki manfaat besar, salah satunya menghapus dosa.
Ia menegaskan bahwa rasa sakit, kesedihan, hingga kesulitan hidup dapat menjadi sarana pembersihan diri.
Selain itu, ujian juga membentuk mental agar lebih kuat dalam menghadapi tantangan kehidupan.
Belajar dari Kesabaran Nabi Ayub
Talqis mengangkat kisah Nabi Ayub sebagai teladan dalam menghadapi ujian. Nabi Ayub tetap teguh beribadah meski kehilangan harta, keluarga, dan kesehatan.
Kesabaran itulah yang membuatnya mendapat kedudukan tinggi di sisi Allah.
Jadilah Seperti Kopi, Bukan Wortel atau Telur
Dalam ilustrasinya, Talqis membandingkan tiga benda saat terkena air panas: wortel, telur, dan kopi.
Wortel yang awalnya keras menjadi lembek. Telur yang rapuh justru menjadi keras. Sementara kopi mampu mengubah air menjadi harum.
Ia mengajak mahasiswa untuk menjadi seperti kopi, yang mampu mengubah kondisi sulit menjadi sesuatu yang bernilai.
Cara Bijak Menghadapi Ujian Hidup
Sebagai penutup, Talqis memberikan sejumlah langkah menghadapi ujian. Ia mengajak mahasiswa untuk memperkuat iman, berpikir positif, dan mencari hikmah di balik setiap peristiwa.
Ia juga mendorong agar seseorang tidak menghadapi ujian sendirian, melainkan mencari lingkungan yang mendukung.
Menurutnya, cara pandang sangat menentukan. Ia mengajak jamaah untuk berhenti bertanya “mengapa ini terjadi” dan mulai bertanya “apa yang bisa dipelajari dari ini”.
Ujian Adalah Proses Pembentukan Diri
Talqis menegaskan bahwa ujian bukan beban semata. Ia melihat ujian sebagai proses pembentukan karakter dan peningkatan iman.
Ia menutup ceramahnya dengan pesan bahwa setiap ujian merupakan bagian dari rencana Allah untuk mempersiapkan manusia menghadapi kehidupan yang lebih besar.(ar)









