Tebo, oegopost.id – Pagar Nusa Nahdlatul Ulama Cabang Tebo menggelar tasyakuran dan doa bersama dalam rangka wisuda santri Pagar Nusa pada Senin, 27 Juli 2026. Panitia memusatkan seluruh rangkaian kegiatan khidmat tersebut di Gedung Lembaga Adat Melayu Kabupaten Tebo.
Melalui momentum ini, pengurus NU mengingatkan para pendekar agar tidak sekadar menguasai teknik bela diri di gelanggang. Mereka juga wajib menjaga keteguhan akidah serta keluhuran akhlak sebagai seorang santri.
Sejumlah tokoh penting dan pejabat daerah tampak menghadiri acara pengukuhan serta tasyakuran tersebut. Jajaran PCNU Kabupaten Tebo, Kapolres Tebo, hingga perwakilan Disporapar Tebo menyempatkan hadir untuk memberikan dukungan moral.
Selain itu, dewan pembina, anggota kehormatan, dewan pendekar, pelatih cabang, dan ratusan anggota tetap Pagar Nusa Cabang Tebo turut memadati ruangan. Kehadiran para tokoh ini semakin menegaskan soliditas organisasi di wilayah Tebo.
Pendekar Pagar Nusa Harus Selalu Menjaga Akidah Aswaja
Khatib Syuriah PCNU Kabupaten Tebo sekaligus Sesepuh Pagar Nusa Tebo, KH Basri, S.Ag., M.Si., menyampaikan tausiah mendalam di hadapan peserta. Ia menegaskan bahwa setiap pendekar Pagar Nusa harus menjiwai setiap gerakan pencak silat dengan kelembutan hati.
KH Basri meminta seluruh anggota untuk tetap memegang teguh akidah Ahlussunnah wal Jama’ah dalam setiap langkah kehidupan. Nilai-nilai keislaman ini menjadi fondasi utama yang membedakan pendekar NU dengan praktisi bela diri lainnya.
Menurutnya, olah raga pencak silat bukan sekadar latihan fisik untuk membentuk kemampuan bertarung di lapangan. Seni bela diri tradisional ini memikul tanggung jawab moral yang jauh lebih besar dan mendalam.
Pendekar Pagar Nusa harus memanfaatkan ilmu pencak silat sebagai sarana efektif untuk membina mental spiritual. Latihan rutin hendaknya mampu memperkuat keimanan serta meningkatkan ketakwaan para santri kepada Allah SWT.
Pencak Silat Menjadi Sarana Pembentukan Karakter Positif Santri
KH Basri menekankan bahwa gerakan silat tidak boleh berhenti pada pencapaian ketangkasan fisik belaka. Setiap olah jurus harus membawa pengaruh positif yang nyata terhadap gerakan hati, keimanan, dan ketakwaan.
Ia meminta para peserta agar senantiasa menjaga karakter santri dan tidak goyah dari ajaran Aswaja. Sikap rendah hati dan berbudi pekerti luhur harus selalu terpancar dalam interaksi sosial sehari-hari.
KH Basri juga mendorong seluruh pendekar untuk membawa nilai-nilai khas santri di tengah masyarakat luas. Pendekar Pagar Nusa patut menjadi teladan kebaikan, kesederhanaan, dan kedisiplinan di mana pun mereka berada.
Organisasi Pagar Nusa menjalankan peran strategis sebagai wadah pembinaan generasi muda Nahdlatul Ulama. Melalui wadah ini, generasi muda NU tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, berakhlak mulia, dan berintegritas tinggi.
Momentum Wisuda Menjadi Awal Pengabdian Kepada Masyarakat Luas
KH Basri mengingatkan bahwa momentum wisuda kali ini bukanlah batas akhir dari proses belajar para pendekar. Prosesi pelantikan justru menjadi pintu gerbang menuju arena pengabdian yang sesungguhnya.
Para santri kini mengemban amanah besar untuk mengabdikan diri kepada masyarakat, agama, bangsa, dan organisasi. Pengetahuan serta keterampilan yang telah mereka timba selama latihan harus membuahkan manfaat bagi banyak orang.
Di akhir tausiahnya, KH Basri menyampaikan ucapan selamat yang tulus kepada seluruh santri dan anggota kehormatan Cabang Tebo yang resmi dikukuhkan. Ia berharap pengukuhan ini memicu semangat baru dalam berkhidmat.
Ia berpesan agar seluruh anggota menjadikan Pagar Nusa sebagai sarana efektif membina generasi muda NU yang lahir dan batinnya kuat. Dengan demikian, Pagar Nusa Tebo terus melahirkan kader-kader benteng NU yang berdedikasi tinggi.(ar)









