Muaro Jambi, oegopost.id – Ratusan warga Lubuk Raman demo PT Surya Unggas Mandiri, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, pada Sabtu (30/5/2026).
Mereka langsung menggelar aksi unjuk rasa dan menuntut penutupan permanen peternakan ayam yang mereka nilai mengganggu lingkungan.
Sejak pagi, warga terus berdatangan ke lokasi aksi. Selain itu, mereka membawa berbagai tuntutan yang menyoroti dampak operasional peternakan terhadap permukiman sekitar.
Bahkan, warga menegaskan bahwa persoalan ini sudah berlangsung lama tanpa penyelesaian yang jelas.
Warga Soroti Ledakan Lalat yang Ganggu Aktivitas Harian
Lebih lanjut, warga menyoroti lonjakan populasi lalat yang terjadi hampir setiap hari. Mereka menilai kondisi tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga menghambat aktivitas harian di rumah.
Selain itu, warga mengaku kesulitan beraktivitas normal. Mereka tidak bisa makan dengan tenang, tidak bisa beristirahat dengan nyaman, dan bahkan merasa terganggu saat menerima tamu di rumah.
Di sisi lain, Kepala Desa Lubuk Raman, Safii, menegaskan bahwa warga sudah berulang kali menyampaikan keluhan tersebut. Namun demikian, ia menyebut belum ada langkah konkret yang mampu menyelesaikan masalah di lapangan.
“Kami tidur bersama lalat setiap hari. Mau makan, istirahat, bahkan menerima tamu pun terganggu. Kondisi ini sudah tidak bisa ditoleransi lagi,” tegas Safii saat mendampingi warga.
Dengan demikian, ia menilai situasi tersebut sudah memasuki tahap serius yang membutuhkan tindakan cepat.
Warga Tegaskan Tuntutan Penutupan Permanen Peternakan
Selanjutnya, warga secara tegas meminta pemerintah dan perusahaan menutup operasional peternakan ayam tersebut. Mereka menilai keberadaan kandang ayam itu tidak lagi sejalan dengan kesehatan lingkungan sekitar.
Menurut Safii, tuntutan penutupan bukan muncul secara tiba-tiba. Sebaliknya, warga telah menyuarakan keluhan sejak awal operasional peternakan dimulai di dekat permukiman.
“Keinginan masyarakat hanya satu, perusahaan itu ditutup. Kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Banyak warga mengeluhkan gatal-gatal akibat serbuan lalat,” ujar Safii.
Oleh karena itu, warga menilai solusi sementara tidak lagi cukup. Mereka mendorong langkah tegas yang bersifat permanen agar masalah tidak terus berulang.
Warga Kaitkan Kondisi Lingkungan dengan Gangguan Kesehatan
Selain gangguan kenyamanan, warga juga mengaitkan kondisi lingkungan dengan meningkatnya masalah kesehatan. Mereka menilai ledakan lalat berpotensi membawa dampak penyakit bagi masyarakat sekitar.
Sebagai contoh, Iif, salah satu warga yang ikut aksi, mengaku keluarganya mengalami dampak langsung. Ia menyebut istrinya sempat jatuh sakit dan di diagnosis tifus.
“Sejak beroperasi, banyak warga mengalami gatal-gatal. Bahkan istri saya sampai sakit dan didiagnosis tifus. Kami menduga ini berkaitan dengan kondisi lingkungan yang dipenuhi lalat,” kata Iif.
Dengan demikian, warga semakin memperkuat tuntutan mereka agar pemerintah segera turun tangan menangani persoalan tersebut.
Warga Desak Pemerintah Lakukan Pemeriksaan Menyeluruh
Sementara itu, warga meminta pemerintah daerah dan instansi terkait segera melakukan pemeriksaan menyeluruh. Mereka menekankan pentingnya evaluasi dampak operasional peternakan terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Selain itu, warga juga mendesak adanya tindakan tegas apabila di temukan pelanggaran atau dampak yang merugikan masyarakat. Mereka menilai hak atas lingkungan sehat harus menjadi prioritas utama.
Di sisi lain, aksi berlangsung tertib karena mendapat pengawalan aparat kepolisian. Koordinator lapangan juga memastikan bahwa kegiatan ini telah mengantongi izin dari Polres Muaro Jambi.
Pihak Perusahaan Belum Beri Tanggapan
Hingga aksi berlangsung, pihak manajemen PT Surya Unggas Mandiri belum memberikan pernyataan resmi terkait tuntutan warga. Namun demikian, upaya konfirmasi masih terus di lakukan.
Sementara itu, warga tetap menunggu respons dari pihak perusahaan maupun pemerintah daerah. Mereka berharap ada langkah cepat untuk menyelesaikan persoalan yang telah berlangsung bertahun-tahun ini.
Akhirnya, warga menegaskan kembali bahwa mereka hanya menginginkan lingkungan yang sehat, bersih, dan layak huni. Oleh karena itu, mereka mendesak pemerintah segera mengambil keputusan konkret agar konflik tidak semakin meluas.(ar)









