Muaro Jambi, oegopost.id – Tiga pekerja kapal meninggal dunia setelah diduga menghirup keracunan gas palka kapal saat bekerja di Tongkang KM TS Daya Niaso di Sungai Batanghari, Kabupaten Muaro Jambi. Polisi bersama tim gabungan langsung turun ke lokasi untuk mencari penyebab kejadian ini.
Kronologi Kejadian di Sungai Batanghari
Peristiwa ini bermula ketika para pekerja masuk ke dalam palka tongkang untuk memperbaiki bagian kapal. Di ruang tertutup itu, mereka di duga menghirup gas berbahaya hingga tidak sadarkan diri.
Rekan kerja yang melihat kondisi tersebut langsung menghubungi tim terkait. Tim SAR segera bergerak ke lokasi untuk melakukan evakuasi.
Tiga korban berasal dari Pontianak, Kalimantan Barat, yaitu Zulkarnain (42), Popo (32), dan Rudiansyah (41).
Polisi Selidiki TKP dan Periksa Saksi
Direktorat Polisi Perairan dan Udara Ditpolairud Polda Jambi langsung datang ke lokasi untuk mengamankan dan memeriksa TKP. Petugas juga menggali keterangan dari saksi yang berada di sekitar kejadian.
Kasubdit Gakkum Ditpolairud Polda Jambi, AKBP Febriandy, menyampaikan bahwa timnya masih mengumpulkan seluruh fakta di lapangan.
“Kami sudah lakukan olah TKP dan memeriksa saksi, termasuk nakhoda dan ABK,” ujarnya.
Polisi juga meminta keterangan dari pihak perusahaan kapal untuk memperjelas alur kerja dan kondisi saat insiden terjadi.
Tim SAR Evakuasi Korban di Lokasi
Kepala Kantor Kantor SAR Jambi, Adah Sudarsa, menerima laporan awal dari pemilik tongkang sekitar pukul 09.15 WIB.
Tim Basarnas Jambi langsung bergerak ke lokasi yang berjarak sekitar 13,5 kilometer. Setibanya di lokasi, tim menggunakan peralatan khusus Confined Space Rescue (CSR) untuk mengangkat korban dari dalam palka.
Petugas bekerja di ruang sempit dengan udara terbatas, namun mereka berhasil mengevakuasi seluruh korban ke permukaan.
Dugaan Awal Penyebab Insiden
Dari keterangan awal, para pekerja di duga menghirup gas beracun yang terperangkap di dalam palka. Kondisi ruang tertutup seperti ini berbahaya jika pekerja masuk tanpa pengecekan kadar udara terlebih dahulu.
Polisi kini menelusuri kemungkinan pelanggaran prosedur keselamatan kerja serta faktor teknis lain yang memicu insiden tersebut.(ar)









