Jakarta, Oegopost.id – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 4,90 persen dalam sepekan hingga Jumat (23/10/2026). Indeks saham domestik merangkak naik dari posisi 5.185,11 menuju level 5.439,26.
Meskipun bursa saham Tanah Air mulai bangkit, para analis menilai penguatan ini belum mengonfirmasi pembalikan arah menuju tren pemulihan penuh. Pelaku pasar tetap perlu mewaspadai sejumlah sentimen krusial yang membayangi pergerakan pasar saham.
Ketidakpastian wacana perubahan status bursa oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) masih membayangi lantai bursa domestik. Lembaga pengindeks global tersebut membuka ruang konsultasi terkait peluang pergeseran pasar saham Indonesia ke kategori Standalone Market.
Situasi tersebut memicu sikap hati-hati di kalangan pemodal. Di sisi lain, otoritas bursa terus menggulirkan agenda pembenahan pasar modal.
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mulai mematangkan aturan baru perhitungan indeks. Regulator mendepak saham berkonsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dari perhitungan IHSG per 2 November 2026.
Langkah ini bertujuan menciptakan bobot pergerakan indeks yang lebih wajar dan transparan. Para investor memantau secara saksama masa transisi penerapan regulasi baru tersebut mulai Senin (26/10/2026).
Faktor Global dan Minyak Mentah Tekan Ruang Gerak
Sorotan pasar tertuju pula pada pertemuan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), pada 29 Oktober 2026 mendatang. Konsensus analis memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan pada angka 4,00 persen.
Selain arah moneter global, lonjakan harga komoditas energi dunia turut mengubah peta pergerakan bursa saham. Konflik di Timur Tengah yang melibatkan serangan kelompok Houthi ke Arab Saudi memicu kekhawatiran gangguan rantai pasok minyak mentah.
Harga minyak Brent melambung 6 persen dalam sepekan hingga menembus level 116,72 dollar AS per barel pada penutupan perdagangan Jumat. Posisi ini mencatat rekor tertinggi sejak akhir April 2026.
Adapun harga minyak West Texas Intermediate (WTI) ikut menanjak 3,8 persen ke angka 103,27 dollar AS per barel. Dari dalam negeri, rilis laporan keuangan kuartal III-2026 dari deretan emiten besar turut menentukan arah transaksi investor.
Level Kritis Pergerakan dan Pilihan Sektor Saham
Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menilai IHSG berpeluang mempertahankan pijakan di atas level psikologis 5.400. Kendati demikian, indikator moving average convergence divergence (MACD) masih tertahan di zona negatif meski tekanan jual mulai mereda.
Reza mematok area support terdekat pada rentang 5.400 hingga 5.366, sedangkan batas resistance berada pada kisaran 5.500 hingga 5.540. Penurunan indeks menembus ke bawah batas 5.366 berisiko memicu pelemahan lanjutan.
Praktisi pasar modal sekaligus pendiri WH-Project, William Hartanto, sepakat bahwa lonjakan indeks belakangan ini belum menandai pembalikan arah tren. William memperkirakan pergerakan IHSG masih tertahan di rentang 5.400 sampai 5.500 sepanjang pekan depan.
William menyarankan investor melirik saham sektor pertambangan yang umumnya menikmati dorongan siklus musiman pada pengujung tahun. Secara spesifik, ia merekomendasikan saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dengan target harga Rp 10.000 dan saham PT Ciputra Development Tbk (CTRA) dengan target harga Rp 615 per lembar.(ar)









