Harga TBS Sawit Anjlok, Petani Minta Kepastian Ekspor

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 26 Mei 2026 - 22:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pekerja sawit sedang mengangkut buah kelapa sawit untuk dibawa ke pabrik.( Poto : dok.Sawit Setara ).

Pekerja sawit sedang mengangkut buah kelapa sawit untuk dibawa ke pabrik.( Poto : dok.Sawit Setara ).

Jakarta, oegopost.id – Harga tandan buah segar sawit turun tajam di berbagai daerah dalam beberapa hari terakhir. Petani kebun rakyat langsung merasakan dampaknya di tengah rencana kebijakan ekspor satu jalur yang digagas melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

Banyak petani melaporkan harga TBS jatuh ke kisaran Rp1.000–Rp1.500 per kilogram, membuat kondisi usaha mereka semakin tertekan.

Harga TBS Turun di Banyak Wilayah

Penurunan harga terjadi hampir di semua sentra sawit. Di Kalimantan Barat, harga turun sekitar Rp1.000–Rp1.500 per kilogram. Sementara di Mamuju, Sulawesi Barat, harga bahkan merosot dari Rp2.800 menjadi sekitar Rp1.000 per kilogram.

Di Labuhanbatu, Sumatera Utara, petani juga menghadapi kondisi serupa dengan harga sekitar Rp1.500 per kilogram. Situasi ini membuat banyak petani langsung mengurangi rencana pemupukan karena pendapatan tidak lagi menutup biaya produksi.

Serikat Petani Kelapa Sawit SPKS menyebut pasar bereaksi cepat terhadap ketidakpastian kebijakan ekspor. Mereka menilai perubahan arah kebijakan membuat pelaku pasar berhati-hati dalam membeli hasil panen.

Baca Juga :  Peserta PBI BPJS Nonaktif Tetap Bisa Berobat, Pemerintah Jamin Layanan Rumah Sakit

Pasar Panik, Transaksi Melambat

Wacana ekspor satu pintu memicu kehati-hatian di kalangan pelaku usaha. Perhimpunan Organisasi Petani Sawit Indonesia POPSI mencatat banyak trader, pabrik, dan eksportir menunda transaksi sambil menunggu kejelasan aturan.

Ketua SPKS, Sabarudin, mengatakan pasar langsung melambat ketika pelaku usaha tidak mendapatkan kepastian.

“Begitu arah kebijakan tidak jelas, pembelian langsung turun dan harga ikut jatuh,” ujarnya.

Harga minyak sawit mentah (CPO) juga ikut melemah, dari sekitar Rp15.300 menjadi Rp12.150 per kilogram. Penurunan ini ikut menekan harga TBS di tingkat petani.

Petani Mulai Menahan Produksi

Petani sawit rakyat merasakan dampak paling berat. Banyak dari mereka mulai mengurangi pemupukan karena takut rugi. Jika kondisi ini berlanjut, produktivitas kebun bisa turun dalam beberapa bulan ke depan.

Sabarudin menjelaskan bahwa sekitar 40 persen pasokan sawit nasional berasal dari kebun rakyat. Karena itu, fluktuasi harga langsung memengaruhi stabilitas produksi nasional.

Baca Juga :  Prabowo Perkuat Stok Pangan Nasional di Tengah Ketidakpastian Global

Ia juga mengingatkan pengalaman 2015 saat harga TBS jatuh di bawah Rp1.000 per kilogram. Saat itu, banyak petani memilih menebang pohon sawit dan mengganti komoditas lain karena tidak mampu menutup biaya.

Petani Minta Pemerintah Ubah Pendekatan

Organisasi petani meminta pemerintah memberi kejelasan arah kebijakan ekspor. Mereka menilai pasar butuh kepastian, bukan aturan yang berubah cepat.

POPSI dan SPKS menekankan pentingnya transparansi dalam tata niaga sawit. Mereka meminta pemerintah memperkuat pengawasan, bukan mempersempit jalur perdagangan.

Menurut laporan Kompas Gramedia, industri sawit menopang penghidupan sekitar 17 juta orang di Indonesia. Karena itu, perubahan kebijakan perlu mempertimbangkan dampak ke petani kecil dan pekerja di lapangan.

“Kalau ketidakpastian ini terus terjadi, petani yang paling duluan terpukul,” kata Mansuetus Darto.(ar)

Follow WhatsApp Channel oegopost.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemberdayaan Perempuan Desa Mengupeh Lewat Batik Lipe
Pemkab Tanjabbar Siap Fasilitasi Pasar Produk Ecoprint Kuala Dasal ke Jaringan Luar
Lindungi Karya Lokal, Kemenkum Jambi Pacu Daya Saing UMKM Bungo
Harga Emas Pegadaian Hari Ini Naik Serempak di Akhir Pekan
Pertamina EP Jambi Sukses Lakukan Monetisasi Gas Lapangan Sengeti Senilai Rp1,6 Triliun
Kanwil DJPb Jambi Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Digitalisasi
Polda Jambi Komitmen Amankan Operasional Hulu Migas Regional
Hari Koperasi Nasional ke-79: SAH Sebut Koperasi Motor Penggerak Ekonomi Daerah
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 22:30 WIB

Pemberdayaan Perempuan Desa Mengupeh Lewat Batik Lipe

Sabtu, 18 Juli 2026 - 18:00 WIB

Pemkab Tanjabbar Siap Fasilitasi Pasar Produk Ecoprint Kuala Dasal ke Jaringan Luar

Sabtu, 18 Juli 2026 - 16:30 WIB

Lindungi Karya Lokal, Kemenkum Jambi Pacu Daya Saing UMKM Bungo

Sabtu, 18 Juli 2026 - 14:46 WIB

Harga Emas Pegadaian Hari Ini Naik Serempak di Akhir Pekan

Jumat, 17 Juli 2026 - 14:00 WIB

Pertamina EP Jambi Sukses Lakukan Monetisasi Gas Lapangan Sengeti Senilai Rp1,6 Triliun

Berita Terbaru