Tanjung Jabung Barat, oegopost.id – Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang sempat menyentuh Rp17.602 belum memengaruhi aktivitas perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Merlung, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi.
Hingga saat ini, para petani masih menjual tandan buah segar (TBS) dengan harga normal dan sistem pembayaran upah pekerja juga belum mengalami perubahan.
Kondisi tersebut disampaikan langsung oleh sejumlah petani sawit di wilayah Merlung.
Mereka mengaku aktivitas panen dan penjualan hasil kebun masih berjalan seperti biasa meski nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah dalam beberapa waktu terakhir.
Harga Sawit Masih Stabil di Tingkat Petani
Agus, salah seorang petani sawit di Kecamatan Merlung, mengatakan harga jual TBS sawit di tingkat petani masih bertahan di kisaran Rp3.200 per kilogram.
Menurutnya, harga tersebut belum mengalami kenaikan ataupun penurunan signifikan akibat perubahan kurs dolar.
Ia menjelaskan, tengkulak masih membeli hasil panen petani dengan pola yang sama seperti sebelumnya. Para petani juga belum menemukan kendala dalam proses distribusi hasil kebun.
“Belum ada dampaknya. Harga sawit masih normal seperti biasa. Yang naik baru nilai dolar, tetapi di lapangan belum terasa pengaruhnya,” kata Agus saat dikonfirmasi pada Senin (18/5/2026).
Agus menambahkan, harga TBS biasanya dipengaruhi kualitas buah dan usia tanaman sawit.
Semakin baik kualitas buah yang dipanen, maka harga jual yang diterima petani juga lebih tinggi.
Upah Pekerja Panen Tetap Normal
Selain harga sawit yang masih stabil, kenaikan dolar AS juga belum berdampak pada biaya operasional kebun sawit di Merlung.
Para pemilik kebun masih menerapkan sistem pembayaran upah seperti sebelumnya.
Agus menyebut pekerja panen tetap menerima bayaran berdasarkan jumlah hasil panen yang berhasil dikumpulkan setiap hari.
Sampai sekarang, belum ada kenaikan maupun penurunan upah pekerja.
“Upah panen masih tetap seperti biasa, tidak ada perubahan,” ujarnya.
Kondisi itu membuat aktivitas perkebunan sawit rakyat di Kecamatan Merlung tetap berjalan normal.
Para pekerja tetap bekerja setiap hari tanpa adanya pengurangan tenaga kerja ataupun penyesuaian jam kerja.
Petani Keluhkan Harga Pupuk yang Tinggi
Meski harga sawit masih stabil, petani justru menghadapi persoalan lain yang lebih berat, yakni tingginya harga pupuk.
Agus mengaku biaya pembelian pupuk terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir dan menjadi beban terbesar bagi petani sawit rakyat.
Saat ini, harga pupuk NPK Mutiara ukuran 50 kilogram mencapai sekitar Rp800 ribu per karung.
Sementara itu, harga pupuk urea berada di kisaran Rp450 ribu hingga Rp500 ribu per karung.
Menurut Agus, mahalnya harga pupuk tidak berkaitan langsung dengan kenaikan dolar saat ini karena kondisi tersebut sudah terjadi cukup lama.
Namun, tingginya biaya pupuk membuat petani harus mengeluarkan modal lebih besar untuk merawat kebun.
“Harga pupuk sangat mahal. Padahal pupuk penting untuk menjaga pertumbuhan sawit. Kalau pemupukan tidak rutin, hasil buah sawit akan berkurang,” katanya.
Pemupukan Rutin Penting untuk Produktivitas Sawit
Agus menjelaskan tanaman kelapa sawit membutuhkan pemupukan rutin agar produktivitas tetap terjaga.
Idealnya, petani melakukan pemupukan sebanyak tiga kali dalam setahun dengan dosis yang sesuai berdasarkan usia tanaman.
Namun, tingginya harga pupuk membuat sebagian petani mulai mengurangi frekuensi pemupukan demi menekan biaya operasional kebun.
Kondisi tersebut berpotensi menurunkan hasil produksi sawit dalam jangka panjang.
Jika produksi sawit menurun, maka pendapatan petani juga ikut terdampak meskipun harga jual TBS masih stabil.
Karena itu, para petani berharap pemerintah dapat membantu menstabilkan harga pupuk agar sektor perkebunan sawit rakyat tetap bertahan.(ar)









