Jakarta, Oegopost.id – Arus komunikasi modern yang serba cepat kini memicu kejenuhan baru di kalangan pengguna gawai. Banyak warganet mulai beralih menggunakan aplikasi kirim pesan lambat demi merasakan interaksi digital yang lebih tenang dan bermakna.
Dua platform anyar bernama Carrier Pidge dan Roost memimpin perubahan gaya berkirim pesan tersebut. Keduanya sengaja menyajikan simulasi pengiriman teks layaknya surat tempo dulu alih-alih mengirim pesan instan dalam hitungan detik.
Pengembang Carrier Pidge, Noah Iarrobino (29), resmi meluncurkan platform unik ini pada April lalu. Aplikasi yang awalnya hanya menjaring ratusan pemakai tersebut kini berhasil mengumpulkan lebih dari 75.000 pengguna aktif hingga Agustus.
Iarrobino merancang sistem perpesanan digital dengan mengadopsi cara kerja burung merpati pos sungguhan. Pesan pertama buatannya memakan durasi tempuh hingga 8 jam 49 menit saat ia kirimkan ke Chicago.
Kecepatan setiap kurir digital memiliki batas maksimal terbang sebesar 177 kilometer per jam. Iarrobino menetapkan tolok ukur tersebut berdasarkan catatan kecepatan terbang merpati balap terkenal bernama Bolt.
Lonjakan Popularitas Roost Dan Pilihan Hewan Pengantar Pesan
Aplikasi perpesanan lambat lain bernama Roost juga mencatatkan lonjakan popularitas luar biasa di pasar digital. Platform besutan Logan Mendelsohn (31) ini telah menembus angka 650.000 unduhan sejak peluncuran perdananya pada April.
Roost memikat pemakai gawai lewat penyediaan lebih dari 1.000 jenis hewan pengantar pesan dengan kecepatan berbeda. Pengguna bebas menentukan kurir virtual mulai dari siput Italia putih berkecepatan 1,6 kilometer per jam hingga burung hantu lumbung.
Mendelsohn secara sadar mengarahkan pengembangan karyanya ke dalam gerakan slow-tech atau teknologi lambat. Pertumbuhan pemakai yang melonjak pesat bahkan mendorong sang manajer produk bersiap merekrut karyawan baru untuk memperkuat tim.
Meskipun komunitas pengguna sempat memperdebatkan kemiripan konsep di ruang maya, kedua pengembang membantah isu saling meniru. Mendelsohn dan Iarrobino justru menjalin komunikasi langsung serta saling berdiskusi hangat mengenai arah pengembangan aplikasi masing-masing.
Pengguna digital menyukai ketidakpastian serta risiko unik yang tersaji di dalam ekosistem perpesanan tersebut. Carrier Pidge bahkan menerapkan probabilitas 0,2 persen bagi burung virtual untuk tersesat atau mati di tengah perjalanan.
Kegelisahan Digital Generasi Z Membuka Ruang Interaksi Bermakna
Pemakai wajib merogoh kocek 99 sen dollar AS atau sekitar Rp 17.000 untuk membeli merpati pengganti jika burung mereka hilang. Sensasi menunggu dan biaya tambahan tersebut justru memberikan pengalaman emosional yang hilang dari aplikasi percakapan instan.
Fenomena ini selaras dengan keresahan generasi muda terhadap ketergantungan gawai yang kian meresahkan. Riset The Harris Poll pada 2023 menunjukkan 80 persen Generasi Z cemas terhadap ketergantungan kelompok usia mereka pada gawai.
Survei yang sama mengungkap 58 persen anak muda menilai teknologi baru lebih kerap memecah belah ketimbang merekatkan relasi. Fakta tersebut mendorong kelompok usia muda membatasi paparan interaksi maya yang terlalu agresif dan melelahkan.
Profesor ilmu komputer Universitas Georgetown, Cal Newport, menilai rasa lelah terhadap ekosistem digital merupakan respons manusiawi yang wajar. Sebagian besar platform modern memang sengaja membuang hambatan komunikasi demi merebut fokus manusia sepanjang hari tanpa henti.
Penulis buku Deep Work itu menegaskan bahwa otak manusia tidak sanggup memproses arus informasi berlebih secara terus-menerus. Kehadiran jeda waktu dalam komunikasi daring justru mengembalikan nilai pesan sekaligus menjaga kesehatan mental para penggunanya.(ar)









