Rupiah Anjlok Tembus Rp18.000, Daya Beli Kelas Menengah Terancam

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 30 September 2026 - 09:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nilai tukar rupiah tembus 18000 US$ daya beli masyarakat menengah terancam.(poto: AI).

Nilai tukar rupiah tembus 18000 US$ daya beli masyarakat menengah terancam.(poto: AI).

Jakarta, oegopost.id – Lampu kuning perekonomian nasional kembali menyala ketika nilai tukar rupiah tembus 18000 US$. Bahkan, angka tersebut melonjak hingga 9 persen di atas asumsi makro APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp16.500/US$.

Oleh karena itu, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman, menyampaikan kekhawatirannya terkait tekanan pada kurs mata uang domestik ini. Selain itu, ia menilai pelemahan kurs yang berlangsung lama akan memicu lonjakan harga barang secara drastis.

Selanjutnya, kenaikan harga barang paling cepat merambat pada produk berbasis impor seperti pangan, obat-obatan, elektronik, BBM, serta biaya logistik. Akibatnya, lonjakan biaya bahan baku industri tersebut memicu kenaikan harga pasar yang berpotensi menekan daya beli masyarakat.

Di samping itu, Rizal mengingatkan bahwa kenaikan harga barang di pasar selalu berjalan lebih cepat ketimbang kenaikan pendapatan warga. Alhasil, fenomena imported inflation ini berpotensi memukul kelompok kelas menengah sebagai penopang utama ekonomi nasional.

Padahal, konsumsi rumah tangga menyumbang porsi sangat besar terhadap struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Sebab, dari total konsumsi masyarakat tersebut, kelas menengah memegang porsi dominan hingga mencapai 80 persen.

Baca Juga :  Bos Bappebti Ungkap 5 Tips Aman Investasi Emas Digital

Namun demikian, keputusan kelas menengah untuk mengetatkan anggaran belanja akan langsung memicu kontraksi perekonomian nasional secara luas. Bahkan, tekanan ekonomi berkelanjutan ini berisiko menurunkan status sosial kelas menengah menjadi warga miskin.

tekanan kurs memukul industri nasional dan memicu inflasi

Kondisi ini tentu saja membayangi target pertumbuhan ekonomi nasional yang dipatok 5,4 persen pada tahun ini. Sementara itu, pemerintah juga membidik angka pertumbuhan sebesar 6 persen untuk periode tahun depan.

Oleh sebab itu, Rizal mengkhawatirkan target pertumbuhan ekonomi tersebut sulit tercapai tanpa adanya penanganan cepat dari otoritas terkait. Maka dari itu, ia menyarankan pemerintah dan Bank Indonesia memperkuat sinergi demi menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.

Dengan demikian, Bank Indonesia harus memperkuat langkah stabilisasi nilai tukar dan menjaga daya tarik pasar aset domestik. Langkah strategis ini sangat diperlukan untuk menahan laju penurunan mata uang dari tekanan global.

Baca Juga :  Resep Bolu Pisang Panggang Tanpa Oven Takaran Gelas, Praktis dan Anti Gagal

Selain itu, pemerintah wajib menjaga kredibilitas fiskal, mengendalikan defisit anggaran, serta mempercepat penyerapan devisa hasil ekspor. Tentunya, langkah kolektif ini penting untuk memperkuat cadangan devisa serta menstabilkan posisi rupiah secara berkelanjutan.

Di sisi lain, penguatan industri domestik menjadi kunci utama dalam mengurangi ketergantungan nasional terhadap bahan baku impor. Hasilnya, langkah strategis ini dapat memperkuat ketahanan ekonomi nasional dari ancaman gejolak pasar eksternal.

Oleh karena itu, pemerintah perlu mendorong pemanfaatan produk lokal untuk menekan kebutuhan valuta asing di sektor manufaktur. Pada akhirnya, penurunan impor bahan baku akan mengamankan pasokan barang dan menjaga stabilitas harga dalam negeri.

Dengan begitu, sektor industri yang kuat akan melindungi masyarakat dari dampak buruk pelemahan nilai tukar mata uang. Oleh sebab itu, keberhasilan penguatan struktur industri dalam negeri menjamin kelangsungan pertumbuhan ekonomi nasional di masa depan.(ar)

Follow WhatsApp Channel oegopost.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mengapa Sektor Industri Jambi Tetap Jadi Primadona di Pasar Ekspor Dunia?
Bantuan Subsidi Upah 2026 Cair, Pekerja Terima Total Rp900 Ribu
Inflasi Jambi Tembus 2,97 Persen: Daya Beli Petani Naik, Kelas Menengah Terhimpit
Pasokan Menipis, Harga Cabai di Bungo Meroket Tajam di Pasar Tradisional
Penyebab Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS dan Langkah BI
Anggaran Subsidi Energi APBN 2027 Dipangkas Rp11 Triliun, DPR Buka Suara
Rupiah Rontok Rp18.000/US$, Bank Indonesia Buka Suara
Sri Kartini Alfin Dorong Promosi Kerajinan Sungai Penuh di KRIYANUSA 2026
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 06:55 WIB

Mengapa Sektor Industri Jambi Tetap Jadi Primadona di Pasar Ekspor Dunia?

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 12:33 WIB

Bantuan Subsidi Upah 2026 Cair, Pekerja Terima Total Rp900 Ribu

Jumat, 2 Oktober 2026 - 16:24 WIB

Inflasi Jambi Tembus 2,97 Persen: Daya Beli Petani Naik, Kelas Menengah Terhimpit

Jumat, 2 Oktober 2026 - 07:36 WIB

Pasokan Menipis, Harga Cabai di Bungo Meroket Tajam di Pasar Tradisional

Rabu, 30 September 2026 - 09:40 WIB

Penyebab Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS dan Langkah BI

Berita Terbaru