Bungo, oegopost.id – Lonjakan drastis pada harga cabai di Bungo memicu keluhan pedagang sekaligus pembeli di kawasan Pasar Atas Bungur. Pedagang terpaksa mematok harga jual jauh lebih tinggi lantaran pasokan barang dari pihak distributor menyusut tajam.
Kondisi tersebut menekan perputaran modal usaha para pedagang kebutuhan dapur sejak beberapa hari belakangan. Di sisi lain, masyarakat mulai membatasi jumlah belanjaan demi menghemat anggaran pengeluaran konsumsi harian.
Pantauan langsung di lokasi perdagangan pada Kamis (1/10/2026) memperlihatkan angka jual komoditas bumbu dapur yang melesat tinggi. Pedagang melepas komoditas cabai setan seharga Rp85 ribu untuk setiap kilogramnya.
Sementara itu, cabai merah menyentuh angka penjualan Rp75 ribu per kilogram di tingkat lapak pedagang. Untuk cabai hijau, para pedagang membanderol komoditas tersebut pada kisaran harga Rp60 ribu per kilogram.
Pasokan cabai merosot tajam picu kenaikan harga
Salah seorang pedagang bumbu dapur di Pasar Atas Bungur, Panji, membeberkan pemicu utama di balik lonjakan harga tersebut. Kenaikan harga terjadi akibat terbatasnya volume barang yang masuk ke area pasar tradisional.
Ia merasakan penurunan pasokan cabai merah yang sangat mencolok dibandingkan aktivitas pasokan pada waktu normal. Volume barang kiriman dari pedagang pengumpul menyusut drastis hingga menyulitkan para pedagang eceran memenuhi kebutuhan pasar.
Biasanya Panji menerima pasokan cabai hingga mencapai 200 kilogram dari distributor dalam sekali pengiriman. Kini ia hanya mampu memperoleh jatah pasokan sebanyak 50 kilogram saja setiap harinya.
Ia sengaja menolak menyimpan cadangan barang dalam jumlah besar di dalam lapak dagangannya. Sifat cabai yang sangat cepat rusak membuat dirinya enggan menanggung risiko kerugian modal yang lebih besar.
Stok terbatas yang tersedia di meja dagangan langsung terserap habis oleh para pembeli dalam tempo sehari. Setelah seluruh persediaan habis terjual, pedagang terpaksa menunggu jadwal kedatangan kiriman berikutnya dari pihak pemasok.
Panji menduga kegagalan panen di sentra penghasil tanaman hortikultura menjadi biang keladi minimnya pasokan cabai. Kondisi pertanian yang memburuk di daerah produsen memangkas pasokan barang menuju pasar konsumen di Kabupaten Bungo.
Pembeli pangkas jumlah belanja demi hemat pengeluaran
Dampak kenaikan harga bumbu dapur ini memukul kondisi ekonomi para ibu rumah tangga secara langsung. Salah seorang pembeli setia di Pasar Atas Bungur, Yani, mengeluhkan lonjakan harga yang menguras anggaran dapur.
Pergerakan harga cabai yang terus melambung setiap hari memaksa Yani mengubah pola belanja kebutuhan masakannya. Kenaikan nilai barang tersebut membuat beban belanja dapur keluarganya membengkak secara drastis dalam waktu singkat.
Yani mengaku tidak sanggup lagi menebus cabai merah maupun cabai rawit hingga ukuran satu kilogram penuh. Ia menyiasati keadaan tersebut dengan memangkas volume pembelian menjadi seperempat kilogram saja per transaksi belanja.
Langkah penghematan tersebut menjadi pilihan paling realistis agar menu masakan keluarga tetap terpenuhi setiap hari. Ia berharap harga komoditas bumbu pedas ini segera melandai sehingga masyarakat tidak semakin terbebani pengeluaran belanja.
Yani mendesak jajaran pemerintah daerah agar segera mengambil tindakan nyata guna menstabilkan harga cabai di pasaran. Kehadiran kebijakan penanganan harga pangan dari pemerintah sangat dinantikan masyarakat demi menjaga daya beli warga Bungo.(ar)









