Rupiah Rontok Rp18.000/US$, Bank Indonesia Buka Suara

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 30 September 2026 - 09:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nilai tukar rupiah rontok penjelasan bi menjadi sorotan utama setelah mata uang Garuda sempat menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar AS.(ilustrasi poto: AI).

Nilai tukar rupiah rontok penjelasan bi menjadi sorotan utama setelah mata uang Garuda sempat menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar AS.(ilustrasi poto: AI).

Jakarta, oegopost.id – Nilai tukar rupiah rontok penjelasan bi menjadi sorotan utama setelah mata uang Garuda sempat menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Tekanan besar ini terjadi pada perdagangan Selasa (29/9/2026) sebelum akhirnya rupiah menguat tipis ke posisi Rp17.959 per dolar AS.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, memberikan paparan resmi mengenai dinamika pasar valuta asing tersebut. Pihaknya mencatat bahwa faktor global dan kebutuhan domestik memicu pelemahan mata uang nasional secara bersamaan.

Faktor Eksternal Menjadi Pemicu Utama Pelemahan Rupiah

Erwin menjelaskan bahwa kekhawatiran atas tekanan inflasi global dan risiko fiskal terus membayangi pasar keuangan internasional. Kondisi buruk ini makin parah seiring lonjakan harga minyak dunia yang menembus angka di atas 108 dolar AS per barel.

Ketegangan geopolitik yang menghambat kesepakatan pembukaan Selat Hormuz menjadi penyebab utama melambungnya harga energi tersebut. Situasi memanas ini langsung mendorong ekspektasi pasar terhadap pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif dari Bank Sentral Amerika Serikat.

Baca Juga :  Harga Emas Antam Terbaru Naik Jadi Rp2.655.000 Per Gram

Dampak ekspektasi tersebut memicu kenaikan imbal hasil atau yield surat utang pemerintah Amerika Serikat bertenor 10 tahun. Angka yield tersebut melonjak hingga mencapai level 5,23 persen, yang merupakan rekor tertinggi sejak tahun 2007.

Selain tekanan global, permintaan valuta asing dari importir domestik juga meningkat drastis menjelang penutupan triwulan ketiga. Pada saat bersamaan, para investor melepas portofolio aset di negara-negara berkembang karena tergiur kenaikan yield obligasi Amerika Serikat.

Strategi Bank Indonesia Mengatasi Gejolak Kurs Rupiah

Bank Indonesia terus mengawal pergerakan pasar secara intensif untuk memastikan mekanisme transaksi berjalan dengan baik. Otoritas moneter ini berkomitmen penuh menjaga stabilitas kurs rupiah agar tetap bergerak sesuai dengan nilai fundamentalnya.

Bank Indonesia mengelola struktur suku bunga di pasar uang melalui penguatan strategi operasi moneter yang berprinsip pro-market. Langkah ini bertujuan memelihara ketahanan pasar uang nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Otoritas moneter juga meningkatkan insentif untuk instrumen Swap dan Domestic Non-Deliverable Forward Lindung Nilai kepada Bank Indonesia. Kebijakan strategis ini memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar sekaligus menjaga kecukupan likuiditas pendanaan dari luar negeri.

Baca Juga :  Cek Endra Tanam Perdana Sawit di Sarolangun, Dorong Ekonomi dan Lapangan Kerja Warga

Bank Indonesia terus melakukan intervensi pasar secara konsisten dan berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward di pasar offshore. Tim moneter juga menggelar transaksi spot serta Domestic Non-Deliverable Forward secara aktif di pasar domestik.

Langkah stabilisasi tersebut makin kuat dengan aksi pembelian Surat Berharga Negara oleh Bank Indonesia di pasar sekunder. Selain itu, pihak Bank Indonesia menggelar komunikasi serta koordinasi intensif bersama para pelaku pasar dan korporasi.

Erwin menegaskan bahwa pergerakan mata uang Garuda sebenarnya masih sejalan dengan tren mata uang regional di kawasan Asia. Pelemahan rupiah terhitung relatif terbatas sebesar 0,67 persen secara quarter-to-date.

Ketahanan ekonomi nasional juga mendapat dukungan kuat dari posisi cadangan devisa Indonesia yang terus meningkat. Cadangan devisa negara mencatatkan angka sebesar 146,5 miliar dolar AS pada akhir Agustus 2026.(ar)

Follow WhatsApp Channel oegopost.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mengapa Sektor Industri Jambi Tetap Jadi Primadona di Pasar Ekspor Dunia?
Bantuan Subsidi Upah 2026 Cair, Pekerja Terima Total Rp900 Ribu
Inflasi Jambi Tembus 2,97 Persen: Daya Beli Petani Naik, Kelas Menengah Terhimpit
Pasokan Menipis, Harga Cabai di Bungo Meroket Tajam di Pasar Tradisional
Penyebab Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS dan Langkah BI
Anggaran Subsidi Energi APBN 2027 Dipangkas Rp11 Triliun, DPR Buka Suara
Rupiah Anjlok Tembus Rp18.000, Daya Beli Kelas Menengah Terancam
Sri Kartini Alfin Dorong Promosi Kerajinan Sungai Penuh di KRIYANUSA 2026
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 06:55 WIB

Mengapa Sektor Industri Jambi Tetap Jadi Primadona di Pasar Ekspor Dunia?

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 12:33 WIB

Bantuan Subsidi Upah 2026 Cair, Pekerja Terima Total Rp900 Ribu

Jumat, 2 Oktober 2026 - 16:24 WIB

Inflasi Jambi Tembus 2,97 Persen: Daya Beli Petani Naik, Kelas Menengah Terhimpit

Jumat, 2 Oktober 2026 - 07:36 WIB

Pasokan Menipis, Harga Cabai di Bungo Meroket Tajam di Pasar Tradisional

Rabu, 30 September 2026 - 09:40 WIB

Penyebab Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS dan Langkah BI

Berita Terbaru

Ilustrasi: Desain modern Realme P4s Lite varian warna Nebula Black & Moonlight Silver dengan baterai 7.000 mAh.(poto: AI).

Teknologi

Realme P4s Lite Resmi Meluncur Bawa Baterai 7.000 mAh

Rabu, 7 Okt 2026 - 09:08 WIB

Ilustrasi perangkat flagship Samsung Galaxy Ultra. Model Galaxy S27 Ultra dirumorkan mengusung baterai 5.700mAh dengan pengisian 60W yang lebih efisien.(poto: AI).

Teknologi

Bocoran Samsung Galaxy S27 Ultra Isi Baterai Lebih Kencang

Rabu, 7 Okt 2026 - 08:58 WIB